Taman Budaya NTT Diubah Jadi Taman Budaya Gerson Poyk

by -176 views

Kupang, mediantt.com – Bangsa Indonesia kehilangan seorang sastrawan besar asal Nusa Tenggara Timur, Gerson Poyk. Sastrawan asal Rote Ndao ini telah meninggal dunia di Rumah Sakit Hermina, Depok, Jawa Barat, Jumat (24/2). Sebagai penghargaan dan penghormatan terhadap jasa sastrawan besar ini, Pemerintah Provinsi NTT terhitung mulai 25 Februari 2017, mengubah nama Taman Budaya NTT menjadi Taman Budaya Gerson Poyk.

“Gubernur NTT telah mengubah nama Taman Budaya NTT menjadi Taman Budaya Gerson Poyk. Ini adalah wujud penghargaan Pemerintah Provinsi NTT terhadap jasa almarhum Gerson Poyk yang adalah sastrawan besar asal Nusa Tenggara Timur,” kata Kepala Biro Humas Setda NTT, Drs Samuel Pakereng di Kupang, Sabtu (25/2) malam.

Ia juga menegaskan, pergantian nama Taman Budaya Gerson Poyk ini mulai berlaku sejak 25 Pebruari 2017. “Ya, mulai berlaku per 25 Pebruari 2017,” ujarnya.

Seperti diberitakan, Sastrawan Gerson Poyk meninggal setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Hermina, Depok, Jawa Barat, Jumat (24/2) sekitar pukul 11.00 Wita karena sakit. Ia dirawat selama 10 hari sebelum menghembuskan napas terakhir dalam usia 86 tahun. “Bapak jatuh di kamar mandi akhirnya sakit,” kata Lanny.

Keluarga Gerson, Lanny Koroh mengatakan, jenasah akan diberangkatkan ke Kupang pada Minggu (26/2). Kata dia, jenasah Gerson Poyk akan diterbangkan dari Jakarta dengan pesawat Batik Air pada Minggu (26/2) sekitar pukul 2.30 WIB dan tiba di Bandara El Tari Kupang sekitar pukul 06.30 Wita.

Dari laman wikipedia, disebutkan Gerson lahir di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur pada 16 Juni 1931.

Selama hidupnya Gerson dikenal lewat lewat karya-karyanya yang dimuat di media massa dan dijadikan rujukan dalam pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Dia mengawali debutnya sebagai penulis sejak 1950. Atas prestasinya, dia menerima banyak penghargaan sebagai sastrawan maupun sebagai wartawan.

Sejumlah karya Gerson yang terkenal yakni Hari-Hari Pertama (1968), Sang Guru (1971), Cumbuan Sabana (1979), Giring-Giring (1982), Matias Akankari (1975), Oleng-Kemoleng dan Surat-Surat Cinta Rajagukguk (1975), dan Nostalgia Nusa Tenggara (1976).

Selain Jerat diterbitkan 1978, Di bawah Matahari Bali (1982), Requim Untuk Seorang Perempuan (1981), Mutiara di Tengah Sawah (1984), Impian Nyoman Sulastri (1988), Hanibal (1988), Poli Woli (1988).

Gerson juga pernah bekerja di Sinar Harapan sebagai wartawan (1962-1970). Antara 1970-1971, beasiswa untuk mengikuti International Writing Program di University of Iowa, Iowa, Amerika Serikat dan seminar sastra di India pada tahun 1982. Menikah dengan Atoneta Saba, dan dikaruniai lima orang anak. Selamat jalan sastrawan. Semoga mendapat tempat yang mulia di sisi Tuhan. (jdz/wikipedia)

Foto : Alm Gerson Poyk