Pak Bupati Tolong Lia Torang Se….

by -223 views

Di tengah hiruk pikuk Kota Larantuka, Ibukota Kabupaten Flores Timur, yang terus menggeliat maju, masih juga ada warganya yang hidup melarat di rumah reyot. Rumah itu pun menjadi korban angin kencang beberapa waktu lalu. Dalam derita hidupnya itu, Fransiska Diaz, perempuan tua ini memohon kepada Bupati Flotim Terpilih untuk memperhatikan nasibnya, termasuk memperbaiki rumahnya. “Bupati (terpilih), tolong perbaiki rumah saya. Ini rumah kena angin kencang, angin laut. Tolong dike se, tolong lia torang (Pak Bupati, tolong lihat kita kah),” pinta Ibu Fransiska Diaz, kepada wartawan, Sabtu (25/2).

LARANTUKA – Postoh, ini salah satu kelurahan di Kecamatan Larantuka. Letaknya di jantung Kota Larantuka, yang juga dijuluki Kora Reinha Rosari. Wilayah ini boleh dibilang sebagai bagian kecil dari sentra ekonomi Flores Timur. Sejumlah pertokoan ada di sana. Kegiatan bisnis dan wirausaha, termasuk usaha ekonomi rakyat, setiap hari menghiasi wajah Postoh. Wilayah ini makin lengkap karena di sana terdapat pula Gereja Katredral Reinha Rosari Larantuka.

Kondisi ini akan terasa ironis jika melintasi RT 07 RW 03. Di tengah gang, tampak sebuah rumah yang sudah tidak layak huni. Bangunan rumah dari bahan lokal berupa belahan bambu, sudah reyot dan kumuh. Lantainya asli dari tanah. Menurut cerita penghuninya, usia bangunan itu sudah kurang lebih 60 tahun.

Rumah ini terdiri dari ruang tamu seadanya, dengan tiga buah kursi yang tidak layak. Pada salah satu dinding terlihat bendera berukuran kecil bertuliskan PDI Perjuangan 28. Ada kisah tersendiri tentang hal ini, sehingga penghuni rumah tetap mempertahankannya. Sebuah ruang tidur hanya berukuran sempit. Ada juga ruang dapur sederhana. Tidak tampak kamar mandi dan toilet.

Saat mendatangi rumah ini pada Sabtu (25/2), rumah kumuh itu sudah tidak berbentuk lagi. Sebagian besar atap sudah tidak ada. Dinding ruang tamu dan ruang tidur bolong-bolong. Jika berdiri dari rabat lorong, pandangan bisa menembus sampai ke bagian dalam rumah. Dapurnya sudah tidak berdinding. Itulah kondisi terakhir bangunan rumah tersebut, setelah diterpa angin kencang pada Selasa (7/2) lalu.

Penghuni rumah ini adalah seorang perempuan bernama Fransiska Diaz. Memorinya sudah tidak terlalu bagus, kecuali bagian-bagian penting saja.

Ketika ditanya usia, dia mengaku 78 tahun. Malah dia masih menghafal tanggal lahirnya, dia menyebut jelas 23 Mei 1936. Kalau dhitung mestinya usia perempuan renta ini sudah mencapai 81 tahun.

Dia masih ingat nama orangtuanya. Saudara tuanya yang hidup di Belanda dan sudah meninggal, pun masih melekat dalam benaknya. Masih ada tiga saudara lain, tapi dia tidak mau menerangkan sedikit pun. Asal-usul tanah yang dia tempati pun masih terlintas. Dia menyebut Suku Temaluru yang telah menghibahkan tanah tersebut kepada orangtuanya.

Perempuan yang tidak menikah ini, masih lantang bicara tentang kejadian angin kencang itu. Dia mengingat jelas peristiwanya, bahkan sering kali menuturkan ulang. Setelah peristiwa bencana itu, dia sudah tidak tahu lagi, apakah pernah didata sebagai korban bencana ataukah tidak. Dia pun tidak mengingatnya apakah pernah diberi bantuan atau tidak.

Seorang tetangga memberikan informasi, ada petugas yang telah mendata Fransiska Diaz sebagai korban bencana. Menyusul setelah itu diberikan bantuan berupa beras 10 kilogram, sarimie, terpal, minyak goreng, gula pasir, kompor dan kuali. Semua barang ini diamankan Lusia Temaluru, seorang tetangga yang rumahnya terletak persis di depan rumah Fransiska Diaz.

Tiga tahun terakhir ini, Fransiska Diaz mengalami gangguan mata. Dia sudah tidak bisa lagi melihat. Jarak pandanganya hanya kurang lebih 1 meter, itu pun hanya melihat bayangan saja. Praktis Fransiska Diaz tidak bisa berbuat apa-apa. Sejak saat itulah seluruh kebutuhan makan minum perempuan renta ini diurus oleh Lusia Temaluru.

Fransiska Diaz kini hidup ditopang dengan pendengaran yang masih bagus dan langkah berjalan yang masih normal. Dia hanya berjalan rutinitas setiap hari bolak-balik dari kamar tidur ke ruang tamu yang hanya beberapa langkah saja. Selebih dari itu, dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Untuk urusan membersihkan diri, seperti mandi, ganti pakaian, dan lain-lain, dia menanti bantuan suster PRR. Itu pun tidak setiap hari. Biasanya 1 atau 2 kali dalam sebulan. Setiap hari Minggu, sebagai penganut Katolik, dia masih setia menerima komuni di rumahnya.

Pesan untuk Bupati

Dalam segala penderitaan hidupnya di jantung kota, Fransiska Diaz masih melaksanakan hak politiknya saat Pilkada Flotim baru lalu. Dia mengaku didatangi KPPS, dan kemudian ikut mencoblos. Saat berbincang-bincang dengan wartawan, dia justeru bertanya siapa yang terpilih sebagai Bupati Flotim. Dan dengan sangat ragu-ragu, perempuan ini kemudian menitipkan pesan kepada Bupati Terpilih.

“Bupati, tolong perbaiki rumah saya. Ini rumah kena angin kencang, angin laut. Tolong dike se, tolong lia torang,” pintanya haru.

Dia pun berharap Bupati Flotim Terpilih membantu korban bencana yang hidup menderita dan tidak bisa berbuat apa-apa, termasuk dirinya yang hidup sendiri dalam usia yang sudah sangat tua. (vicky da Gomez/jdz)

Ket Foto: Fransiska Diaz (baju merah), warga Kelurahan Postoh, salah satu korban bencana yang hidup sangat menderita di tengah Kota Larantuka.