Terparah Dihantam Angin Kencang, Mego Rawan Kelaparan

by -119 views

Maumere, mediantt.com – Bencana angin kencang yang melanda Kabupaten Sikka pada Selasa (7/2) merata di 21 kecamatan. Data sementara, yang terparah terjadi di Kecamatan Mego. Diprediksi masyarakat di wilayah ini bisa rawan kelaparan karena banyak jenis tanaman ikut rusak.

Data yang dihimpun dari Camat Mego Verdinando Lepe, menyebutkan bencana angin kencang itu terjadi di 10 desa. Sejumlah tanaman milik masyarakat seperti kemiri, mente, kakao, pisang jagung, kelapa, dan padi rusak diterpa angin kencang. Desa Korobhera adalah salah satu desa yang terparah.

Sebanyak 712 pohon kemiri tumbang, paling banyak 200 pohon di Desa Korobhera. Terus terdapat 356 mente tumbang, paling banyak 300 pohon di Desa Korobhera. Lalu 2.908 pohon kakao tumbang, paling banyak 2.500 pohon di Desa Korobhera.

Seterusnya 5.493 rumpun pisang ikut roboh, paling banyak 3.000 rumpun pohon di Desa Korobhera. Kemudian 32,2 hektare jagung rata tanah, paling banyak 11 hektare di Desa Dobo Nuapuu. Lalu 83 pohon kelapa tumbang, paling banyak 40 pohon di Desa Korobhera.

Lalu terdata 18 hektare padi/sawah/ladang rata tanah, paling banyak 11 hektare di Wolodhesa. Dan ada juga lumbung pada di Desa Dobo Nuapuu ikut tumbang.

Data lain menyebutkan kerusakan juga terjadi pada bangunan berupa rumah, dapur, gereja, kapela, kios, tiang listrik, dan puskesmas. Tercatat 257 rumah mengalami kerusakan, paling banyak 52 rumah di Desa Napugera. Lalu 206 dapur rusak, terbanyak 95 dapur di Desa Dobo Nuapuu.

Ikut rusak 1 Gereja di Desa Wolodhesa dan 2 kapela di Desa Gera. Sebanyak 13 kios rusak, paling banyak 5 buah di Desa Dobo. Ada 5 tiang listrik di Desa Korobhera yang patah. Puskesmas Feondari di Desa Wolodhesa juga terkena bencana.

Anehnya, data kerusakan yang parah ini belum terinput di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sikka. Pada instansi teknis ini hanya didata 5 KK (kepala keluarga) dengan jumlah 17 jiwa. Tidak ada rumah yang rusak, begitu pun tidka ada fasilitas umum yang rusak.

Verdinando Lepe yang dihubungi per telepon, Sabtu (11/2) siang, cukup kaget ketika mengetahui data kerusakan akibat bencana belum diterima oleh BPBD Sikka. Padahal, laporan atas data tersebut sudah dia tandatangani. Dia pun meminta wartawan bersabar, karena harus mengonfirmasi kembali ke Sekretaris Kecamatan Mego, Fery Awales.

Salurkan Bantuan

Kabupaten Sikka ternyata bukan hanya darurat bencana. Realitanya daerah ini juga sedang mengalami darurat uang bencana. Bayangkan, untuk menyalurkan bantuan ke Dusun Lirikelan, Desa Wuliwutik Kecamatan Nita, Dinas Sosial Sikka terpaksa meminjam uang Rp 100.000 untuk belanja bahan bakar minyak (BBM).

Ternyata praktik meminjam uang untuk belanja BBM guna operasional kendaraan bantuan bencana telah berlangsung sudah cukup lama, sejak akhir Desember 2016. Jika diakumulasikan, pinjaman uang untuk belanja BBM ini sudah lebih dari Rp 10 juta.

Kepala Dinas Sosial Sikka Emmy Laka yang dihubungi di ruang kerjanya, Sabtu (11/2), mengakui kondisi kesulitan keuangan yang dialami. Awalnya dia kelihatan ragu-ragu memberikan informasi ini. Namun setelah ditanya berkali-kali Emmy Laka pun membeberkan kendala penyaluran bantuan kepada korban bencana di 21 kecamatan.

“Hari ini Tagana Sikka akan salurkan bantuan ke Lirikelan dan Mapitara. Untuk ke Mapitara kami nebeng dengan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah). Yang ke Lirikelan, tidak ada biaya operasional. Tadi kebetulan ada pegawai yang pinjamkan uang Rp 100 ribu, kami manfaatkan untuk beli BBM,” terang Emmy Laka.

Dia sendiri tidak tahu kondisi kesulitan keuangan ini berakhir sampai kapan. Menurut informasi yang dia terima dari Kepala BPBD, katanya, biaya operasional sedang dalam proses di Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Sikka. Dana tersebut akan dicairkan ke BPBD Sikka. Selanjutnya Dinas Sosial akan mendapatkan bantuan dana dari BPBD Sikka sesuai kebutuhan.

Selain biaya operasional, kesulitan lain yang dihadapi Dinsos yakni kendaraan opersional. Dinsos hanya memiliki dua kendaraan operasional untuk membawa barang bantuan, skaligus ditumpangi tenaga teknis dari Tagana Sikka. Dengan kondisi bencana yang terjadi di 21 kecamatan, menurut Emmy Laka, idealnya Dinsos memerlukan sekitar 5-6 kendaraan operasional.

Terhadap kendala ini, Emmy Laka belum sekalipun melaporkan kepada Bupati Sikka. Dia lebih memilih berkoordinasi dengan BPBD Sikka, yang juga masih menunggu proses pencairan uang. Untuk penyiasatan agar bantuan tetap tersalurkan, Emmy Laka hanya berharap dari bantuan pegawai Dinsos, dengan catatan setelah mendapatkan biaya operasional baru dikembalikan.

Sementara ini, masih banyak korban bencana yang belum menerima bantuan tanggap darurat dari pemerintah. Dari 21 kecamatan, terdata 606 KK (kepala keluarga) atau setara 2.631 jiwa yang mengalami bencana. Dinsos baru menjangkau 257 KK atau sama dengan 1.107 jiwa. Begitu pun masih sekita 11 kecamatan yang belum diidentifikasi. (vicky da gomez)

Ket Foto: Salah satu rumah di Kecamatan Mego yang rusak akibat diterpa angin kencang pada Selasa (7/2) lalu.