Siswi SMAK Frater Protes Budidaya Mutiara di Konga

by -75 views

Maumere, mediantt.com – Pulau Konga di Kabupaten Flores Timur terkenal dengan budidaya mutiara. Pemilik perusahaan ini adalah warga keturunan Jepang. Apapun manfaat dari perusahaan ini, Intan Hayon, siswi SMAK Frater Maumere, menyampaikan protes.

Siswi Kelas XI Bahasa ini mengkritisi karena sumber daya alam milik daerah tetapi pengelolaan dan penguasaannya justeru oleh warga negara asing. Dia merasa ada hal yang aneh dari kondisi seperti ini.

Sikap protes gadis 17 tahun ini disampaikan pada Pelatihan Jurnalistik bagi Pelajar SMA/SMK/MA, Kamis (9/2), di Hotel Nara Room. Saat itu persis pada materi tentang ‘Wilayah Laut NKRI’ yang dibawakan oleh Wadanlanal Maumere Wens Kapo. Dia mengungkapkannya di saat sesi diskusi.

“Di Konga, Flores Timur, ada kekayaan alam mutiara, tetapi budidaya dan pengelolaannya bahkan sampai sekarang masih dikuasai oleh bangsa asing, orang Jepang. Apakah kita tidak mampu mengelolanya sehingga harus bangsa asing yang kelola?” protes siswi asal Solor, Flotim ini.

Pertanyaan kritis bernada protes ini, memang cukup mengejutkan. Sejak pemateri awal dari Kodim 1603 Sikka, Ketua DPRD Sikka, Kapolres Sikka, dan Dinas Kominfo Sikka, rata-rata para pelajar yang mengikuti pelatihan jurnalistik belum terlalu berani mengkritisi paparan para pemateri.

Wens Kapo menjelaskan, wilayah laut di Indonesia sesungguhnya sangat kaya dengan kekayaan alam dan isinya. Menurut dia, ada kelemahan mendasar di negara ini dalam mengelola kekayaan alam yang dimiliki, antara lain kendala modal, teknologi, dan juga sumber daya manusia.

Akibatnya, lanjut Wens Kapo, terkesan negara tidak mampu mengurus, dan kemudian harus bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan dari negara lain. Dan salah satu contohnya yakni pembudidayaan mutiara di Pulau Konga.

Data yang dihimpun, saat ini ada tiga perusahaan berbedera Jepang yang investasi pembudidayaan mutiara di Pulau Konga, yakni PT Asa Mutiara Nusantara, PT Camar Sentosa, dan PT Rosario Mutiara. Sebagian besar pekerjanya adalah tenaga-tenaga lokal. Saat panen, mutiara-mutiara tersebut biasanya dikirm ke Jepang. Indonesia hanya mendapatkan keuntungan melalui pembayaran pajak atas penjualan mutiara.  (vicky da gomez) 

Foto: Siswi SMAK Frater Maumere Intan Hayon, salah satu peserta pelatihan jurnalistik, mempertanyakan pengelolaan dan penguasaan mutiara di Pulau Konga, Kamis (9/2) di Hotel Nara Room.