Media Cetak dan Online Punya Peran Sama Berantas Hoax

by -99 views

AMBON – Dalam memberantas dan mengurangi hoax atau berita palsu, tidak hanya dapat dilakukan oleh media konvensional atau media mainstream, dalam hal ini adalah media cetak. Tetapi juga dapat dilakukan oleh media online yang saat ini sedang menjamur di Indonesia.

Demikian pernyataan yang sama-sama disampaikan empat narasumber dari sesi pertama acara Konvensi Nasional Media Massa yang bertajuk “Integrasi Media Nasional dalam Lanskap Komunikasi Global : Peluang dan Tantangan”, Rabu (8/2).

Keempat pembicara yang terlibat adalah Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Pimpinan MNC Group Hary Tanoesoedibjo, CEO Baidu Digital Bao Jianlei dan Presiden Komisaris Kumparan.com Budiono Darsono.

Dalam pemaparannya, Rudiantara mengatakan harus ada kepastian dalam diri insan pers terhadap kehadirannya ditengah-tengah masyarakat. Apakah pers hanya memperhatikan konten atau mediumnya.

“Kalau memperhatikan mediumnya, tentunya pasti kita berhadapan dengan teknologi. Kalau kita berhadapan dengan teknologi, berarti kita harus siap bersaing dengan konten yang ada dalam media massa,” kata Rudiantara di Aula Baileo Siwalima, Ambon, Maluku.

Kalau tidak mampu bersaing dalam konten, bisa saja media cetak tersaingi dengan kehadiran media online.

“Saya tidak mengatakan media cetak tidak akan hilang dengan adanya internet ini. Ini masalah demand pasar atau pergerakan masyarakat yaitu needs dan daya beli,” ujarnya.

Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi, medium informasi dulu kontennya dimuat dalam medium cetak ke elektronik atau online. Kini mediumnya berkembang ke media sosial (medsos).

“Perkembangan ini tidak bisa dihindari, medium berbasis internet. Tetapi yang paling penting bagi kita adalah bagaimana menjaga portfolio antara media-media tersebut. Karena fokus profesionalisme insan pers ditujukan lada kontennya pada mediumnya. Mau cetak, mau online, mau elektronik televisi dan radio atau apa pun ya konten tetap konten,” paparnya.

Hal itu yang harus dijaga secara profesionalisme oleh pers. Apalagi saat ini, dari sisi konten sudah ada Undang-Undang (UU) No. 40 tahun 1999 tentang kebebasan Pers.

“Ini UU yang enggak ada PPnya. Yang saya Berharap menjaga dan mengelola UU ini dengan baik,” ungkapnya.

Artinya, konten yang benar dan akurat serta tepat tetap menjadi pegangan dasar baik bagi media cetak maupun online. Tidak hanya berdasarkan kecepatan dalam menyajikan sebuah berita.

Dengan adanya kecepatan disertai keakuratan, kebenaran dan keakuratan data dan informasi, maka dapat memberantas berita-berita hoax.

Sementara Hary Tanoesoedibjo mengatakan lima perusahaan terbesar di dunia bergerak di bidang internet, yaitu Apple, Google, Microsoft, Amazon.com dan Facebook.

“Alasan kenapa perusahaan internet bisa besar dan bertumbuh cepat karena sasaran mereka adalah dunia. Hampir 50 persen warga dunia aktif menggunakan internet. Di Indonesia sekitar 51 persen menggunakan internet, di dalamnya 40 persen aktif di medsos,” kata Hary.

Dengan perkembangan medsos ini, disini diperlukan peranan media, baik cetak mau pun online. Untuk membatasi atau memfilter informasi yang masuk, khususnya dari portal asing. “Pemerintah harus membatasi internet asing,” tukasnya.

Diakuinya, generasi muda sekarang memiliki pola berbeda dalam mendapatkan informasi. Mereka lebih cenderung mencari sesuatu dengan cara online dengan internet.

“Jadi tidak bisa dipaksakan. Intinya, kita sebagai media lokal harus pandai bermain dengan perkembangan ini. Yang saya lakukan sinergikan keduanya (cetak dan online). Biasanya iklan saya bundling di keduanya,” terangnya.

Sedangkan Bao Jianlei lebih menekankan dalam mempertahankan peranan media massa untuk mengurangi berita hoax, diperlukan peranan pemerintah di dalamnya.

“Internet membuat mudah semuanya. Tetapi Pemerintah harus berperan dalam membantu media dapat berdiri dengan bebas,” kata Bao.

Lebih Suka Online

Namun Budiono Darsono membantah hanya media cetak yang mampu memerangi hoax. Justeru, media online juga dapat turut berperan dalam menangkal berita hoax yang beredar di masyarakat.

“Halaman di media online itu tidak terbatas. Kalau soal kedalaman informasi atau data, media online bisa lebih dalam lagi, karena memiliki halaman yang tak terbatas. Tinggal klik saja tautannya,” kata Budiono.

Dengan begitu, media online bisa dengan cepat memberikan informasi atau data yang benar bila ada berita hoax.

Ia menegaskan, meski sudah banyak media online, ia yakin tidak akan mematikan media cetak. Karena jurnalisme tidak pernah mati dengan adanya perkembangan teknologi informasi.

“Jurnalisme tidak pernah mati. Tulisan itu enggak pernah mati. Tapi kita punya generasi milenia. Yang tidak baca koran atau majalah cetak dan jarang nonton televisi. Mereka lebih suka online,” paparnya. (beritasatu.com)