NTT Cocok Investasi Jasa Pariwisata

by -59 views

KUPANG – Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Nusa Tenggara Timur Semuel Rebo mengatakan daerah berbasis kepulauan ini cocok untuk investasi jasa pariwisata terutama perhotelan dan akomodasi.

“Potensi sektor pariwisata ini dibuktikan dengan capaian total nilai investasi pada 2016 hampir mencapai Rp5 triliun dengan jumlah investasi meningkat dibandingkan total investasi pada 2015 yang hanya mencapai Rp3 triliun,” katanya di Kupang, Senin (6/2).

Angka ini menurut dia sangat positif karena menandakan semakin banyak investor yang melirik wilayah NTT karena potensial dengan jasa pariwisata.

“Dari total sejumlah investasi yang sudah ada, paling banyak di sektor pariwisata, khusus di bidang perhotelan. Itu paling banyak di Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat, Ba`a Kabupaen Rote Ndao dan Kota Kupang,” jelasnya.

Parameter lain menunjukkan NTT potensial dengan sektor pariwisata sebanyak 112.433 wisatawan mancanegara (wisman) berkunjung ke NTT selama tahun 2016 dengan tujuan utama ke Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.
“Tercatat jumlah kunjungan ke Labuan Bajo selama tahun 2016 sebanyak lebih dari 29.000 orang melebihi daerah lainnya di NTT,” katanya.

Sementara itu, kunjungan wisatawan asing di berbagai daerah kabupaten/kota lainnya di NTT masih berkisar di bawah 20.000 orang secara bervariasi hingga ada daerah yang hanya dikunjungi ratusan orang.

“Meningkatnya kunjungan wisman ke NTT telah berdampak bagi pergerakan perekonomian masyarakat lokal dan bisa menambah pendapatan daerah dari sektor pariwisata seperti usaha perhotelan, transportasi, kuliner, kerajinan tangan dan lainnya yang digeluti masyarakat lokal bertumbuh karena sejalan dengan kebutuhan para wisatawan,” katanya.

Di bidang usaha perhotelan kata dia, sektor akomodasi dan makan minum sebagai salah satu indikator pertumbuhan pariwisata provinsi ini pada 2015 berkontribusis Rp487 miliar atau 0,6 persen dari total PDRB NTT.

“Pangsa sektor akomodasi dan makan minum Provinsi NTT yang merupakan salah satu indikator pariwisata suatu daerah yaitu Rp487 miliar atau 0,6 persen dari total PDRB NTT,” katanya.

Sektor lain katanya yang tidak kalah menariknya adalah pertanian dan perkebunan. Menurut dia, ada enam anak perusahaan dari PT. Djarum Indonesia yang sudah memulai investasi di bidang tersebut di Pulau Sumba.

Perusahan-perusahaan tersebut katanya sedang membangun insfrastruktur untuk perkebunan tebu, cengkih, jarak dan tembakau.

“Perkebunan cengkih dan perkebunan tebu di Sumba Timur. Itu investasi besar. Rencana investasi sebesar Rp4 triliun. Dia mau bangun dengan pabriknya sekaligus,” katanya.

Dijelaskan, perkebunan tebu sudah mulai sejak 2014 dan saat ini sudah melakukan pembibitan tebu seluas 300 hektare.  Ia mengakui keseriusan perusahaan tersebut karena sudah membangun sejumlah reservoir untuk penampungan air.

“Kan bibit tebu sudah 300 hektare, jadi nanti lahannya bertambah jadi 2.100 hektare. Kalau sudah sampai 10.000 hektare, dia manfaatkan pabriknya,” katanya.

Di bidang kelautan dan perikanan, Semuel menyebut investasi yang lebih diincar adalah garam dan rumput laut. Saat ini PT.Garam sudah membangun konstruksi pabrik di Bipolo Kabupaten Kupang. Demikian pula di Rote sedang dibangun pabrik untuk ekstrakasi garam. (ant)

Foto : Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) NTT, Semuel Rebo.