Menikmati Wisata Trekking Delang-Hokor

by -201 views

MAUMERE – Trekking atau wisata jalan kaki dengan jarak tertentu menuju suatu objek wisata merupakan salah satu upaya menahan wisatawan, serentak menaikan lama tinggal (length of stay) di suatu daerah. Kabupaten Sikka memiliki potensi wisata trekking. Trail atau jalur Egon-Blidit di Kecamatan Waigete dan Murusobe di Kecamatan Tanawawo, sudah cukup terkenal bagi penyuka trekking.

Sikka dapat mengoptimalkan trail Deturia-Tiwusora dengan menawarkan wisatawan masuk lewat Maumere. Jalur yang disebut terakhir berada di wilayah Ende, tapi secara geografis lebih dekat dan lebih mudah diakses dari Maumere.

Ada sebuah trail baru, Delang-Hokor, yang dirintis oleh Sekretariat Bersama (Sekber) Asosiasi Pelaku Pariwisata Tuke Lakang. Sebanyak 14 warga Sekber dari HPI, ASITA dan PHRI Maumere plus Bapak Moses dari Hokor sebagai path finder alias penunjuk jalan, mengadakan trekking perdana di trail tersebut pada 28 Januari 2017. Pukul 07.20, dua mobil pick-up yang mengangkut kami dari Café Sonia di Maumere berhenti di gerbang masuk Replika Betlehem.

Sebagaimana dilaporkan Dominggus Koro, sebelum trekking, peserta  berfoto bersama dengan latar belakang patung Tiga Majus, persis di Tangga Replika Betlehem. Tepat pukul 07.30 mereka mulai bergerak menaiki tangga dan melewati replika-replika yang melukiskan peristiwa kelahiran Yesus Kristus di situs religi yang berada di Kecamatan Nele tersebut, untuk kemudian menapaki jalan tanah yang mulai menanjak. Rinai pagi di hari Imlek itu bikin jalan setapak menjadi agak licin.

Intuisi pariwisata warga Tuke Lakang benar. Trail ini menyajikan lanskap dan pesona alam yang atraktif. Di titik berangkat (starting point) wisatawan disuguhi pemandangan religius. Setelah mulai mendaki, dari balik kabut tipis, Anda akan menyaksikan hamparan tanaman kelapa di sisi barat dan kota serta Teluk Maumere dengan pulau-pulau kecil di utara.

Selepas Betlehem, sudut kemiringan atau pendakian berkisar 20-45 derajat. Waktu tempuh untuk mencapai dataran Iligai sekitar 1 jam 45 menit. Kecuali berpapasan dengan para petani, tak terlihat lagi Kampung Iligai, karena terhalang kabut cukup tebal. Trail melandai di sini. Nanas, advokat, salak, talas dan rambatan labu jepang mengapiti setapak selebar kurang dari satu meter. Tentu ada budidaya tanaman kopi dan kakao. Dataran ini relatif subur, memang.

Trail kemudian menurun di daerah yang agak terbuka hingga ke Wolonkelang. Rimbun tanaman pertanian berganti tumbuhan alang-alang yang tidak terlalu tinggi. Pemandangan dari tempat ini bikin takjub, alam tampak garang tapi megah berupa bukit-bukit curam. Nun jauh gunung-gemunung meronakan hijau bumi, dan Laut Sawu seperti menyatu dengan langit, tenang, tiada riak gelombang. Pun Kampung Hokor sudah kelihatan dari sini. Mereka pun beristirahat di Wolokelan sekitar setengah jam.

Trail selanjutnya menuruni bukit hingga Todang. Di Todang terdapat sebuah sekolah dasar, ada tiga unit kelas yang sedang dibangun. Tak ada riuh anak-anak sekolah yang menyambut, karena libur Imlek. Akan tetapi, jika Delang-Hokor menjadi jalur reguler, wisatawan bisa berinteraksi dengan pelajar, menyanyi dan menari bersama serta sharing tentang ketangguhan dan semangat anak-anak sekolah akan menjadi bumbu penyedap pengalaman trekking, karena ada yang berasal dari Iligai.

Trail masih menurun dari Todang. Setelah menempuh waktu sekitar setengah jam,  selanjutnya akan tiba di jalan rabat yang menghubungkan Hokor-Wukur- Sikka Natar. Waktu tempuh sudah lebih kurang empat setengah jam dari Delang hingga tiba di jalan rabat. Kini, jarak ke Hokor tinggal sepelemparan batu. Seseorang dari keluarga Bapak Moses sudah siap memanjat dan memetik kelapa muda untuk kami.

Dahaga terhapus dan tenaga dipulihkan berkat air dan daging kelapa muda. Memang, air kelapa muda adalah natural isotonic (isotonik alamiah) yang sangat baik. Lebih dari urusan menghapus dahaga, ketangkasan petani memanjat pohon kelapa merupakan atraksi dan objek fotografi yang menarik bagi wisatawan asing. Dan, bagi mereka yang akrab dengan olahan pala, cengkeh dan coklat namun tidak mengenal pohonnya akan dibuat kagum karena mereka akan melihat itu semua di Hokor.

Hokor is really something. Hokor memang sangat sesuatu untuk jadi tujuan wisata petualangan trekking sehari. Kampung ini agak terpencil. Letaknya di kaki bukit di mana dindingnya tinggi lebar tampak sebagai perisai pelindung kampung, yang berada tak jauh dari pantai yang curam.  Rumah-rumah penduduk rapi tertata. Jiwa seni masyarakat tergambar dalam tarian Bebing Raganatar yang energetik, dan tenun ikat karya intelektual kaum wanita Hokor.
Selain Bebing Raganatar dan tenun ikat, karya seni lain orang Hokor adalah tuak yang enak, terkenal dengan sebutan “Tua Hokor”. Entah apa rahasianya, tapi memang untuk meracik tuak perlu keahlian tertentu. Para perajin “seni arak” Hokor menyadap pohon lontar di dekat pantai yang curam, dan menyulingnya di sekitar tempat itu juga. Bagi turis asing, memanjat pohon lontar dengan tangga bambu dan menyuling tuak adalah sebuah atraksi wisata.
Tuan dan puan yang senang bertualang di alam terbuka, come and do the trekking to Hokor. Saat memasuki kampung, orang Hokor dengan ramah menyapa tetamu yang datang. Mereka menyambut dengan semangat persaudaraan, menyediakan makan siang dan, tentu saja, menyuguhkan “Tua-Hokor” bagi penikmat alkohol.

Anda datang dari Maumere dengan menggunakan pick-up, truk atau bis, tergantung jumlah peserta, dan turun di Delang. Anda akan bertualang jalan kaki menuju Hokor. Kendaraan Anda akan menunggu di Hokor untuk kemudian mengantarmu kembali ke Maumere. (vicky)

Ket Foto: 14 orang Sekretariat Bersama (Sekber) Asosiasi Pelaku Pariwisata Tuke Lakang yang terdiri dari HPI, ASITA dan PHRI Maumere melakukan trekking perdana di trail Delang-Hokor, Sabtu (28/1).