SURAT dari Jepang untuk LEMBATA

by -112 views

(Dari Yoseph Bruno Dasion SVD, Nagoya – Jepang)

Selamat dan salam ke Tanah Nubanara, Tanah Lembata

SEMUA kita sedang bersiap-siap menyongsong tanggal 15 Pebruari 2017, hari demokrasi, hari untuk memilih wakil-wakil terbaik, Bupati dan Wakil Bupati terbaik, yang akan memegang kemudi pemerintahan dan pembangunan lima tahun ke depan.

Sejak, menjadi sebuah kabupaten sendiri, kali ini kita akan menyongsong hari demokrasi untuk keempat kalinya. Sebuah titik sejarah yang patut kita semat dengan indah di dalam hati dan ingatan kita masing-masing.

Pulau kita, kabupaten kita, seperti seorang bayi, perlahan bertumbuh dan berkembang menuju sebuah kedewasaan yang bernama “kesejahteraan.” Waktu lima belasan tahun tentu saja belum cukup untuk meraih cita-cita besar yang sama-sama kita impikan.

Seorang manusia, dalam takaran kedewasaan usia di Indonesia, baru mulai memasuki tahapan kedewasaan awal pada usia 17 tahun. Di negara-negara maju, bahkan mengijinkan anak-anaknya disebut dewasa baru pada usia 18 atau 20 tahun. Untuk itu, demi membangun sebuah kabupaten yang dewasa dan sejahtera bagi jiwa dan raga sekian banyak penduduk penghuninya, kita tentu butuh lebih banyak hari dan tahun, juga kesabaran dan ketangguhan untuk berjuang terus dan menerus.

Kita semua tentu ikut menyaksikan debat politik para calon pemimpin DKI Jakarta beberapa hari terakhir ini. Bayangkan saja, DKI Jakarta yang punya sejarah yang tua, yang punya alokasi dana pembangunan setiap tahun aduhai luar biasa besar pun, belum mencapai kesejahteraan yang merata bagi seluruh warganya.

Ahok yang telah melakukan berbagai gebrakan pembangunan dan restrukturasi di dalam tubuh birokrasi, yang telah melahirkan banyak perubahan yang signifikan, belum juga diakui oleh banyak orang sebagai pemimpin yang sukses. Apalagi kabupaten kita, yang masih sangat baya usia kehadirannya di dalam negara ini.

Kita memang masih seperti seorang anak kecil yang hanya masih bisa merangkak, kita belum kuat untuk bisa berjalan dengan kaki sendiri, tetapi itu tidak berarti kita masih “jalan-jalan di tempat.” Itu tidak berarti tak ada kemajuan yang telah kita raih.

Sudah ada sekian banyak kemajuan yang telah kita capai bersama para pemimpin yang pernah kita miliki. Para pemimpin yang lahir dan besar di dalam perut Lewo-Tana, Lembata. Kita telah belajar untuk maju sedikit demi sedikit ke depan, bersama Penjabat Bupati Peter Boliona Keraf, dan juga bersama duet para bupati dan wakil bupati terpilih, Andreas Duli Manuk-Feliks Kobun, Andreas Duli Manuk-Andreas Nula Liliweri, dan juga Yentji Sunur-Viktor Mado Wutun. Kita, barangkali, terlalu bernafsu membanding-bandingkan kemajuan di dalam kabupaten “muda” kita dengan kabupaten-kabupaten “tua” lainnya.

Berjalanlah dan kelilingilah kabupaten-kapubaten dan kota, paling kurang, di wilayah NTT, yang nota-bene sudah lebih lama eksis. Apakah semua sudah maju pendidikannya, apakah sudah maju pelayanan kesehatannya, apakah sudah sangat maju fasilitas jalan dan transportasinya? Apakah sudah begitu elok tata kotanya dan perkampungannya? Saya kira mereka juga hanya baru bisa berjalan, dan belum bisa berlari kencang untuk meninggalkan kita terlalu jauh.

Catatan seperti ini bukan untuk menghibur diri ataupun melipur lara karena azab derita yang serasa tak berujung.Tetapi untuk menyapa kita supaya bisa lebih cerdas dan sopan menilai diri kita,keadaan kita apa adanya. Kita, layaknya, seorang petani yang belum juga menanam, tetapi baru saja mencoba membaca-baca keadaan tanahnya. Jenis tanahnya apa? Dan cocok untuk tanaman jenis apa?

Kalau pun ia sudah mulai menanam, ia tak mungkin mengharapkan datangnya hasil panen hanya dalam sekedip mata. Ada banyak usaha, ada banyak kerja dan korban yang harus dilakukannya sebelum merindui datangnya musim panen kesejahteraan.

Saya tidak menulis untuk membela pasangan calon tertentu. Saya ini pastor, yang tidak boleh bersuara untuk mengadu-domba. Saya ini anak asli Lembata, yang tidak pernah mau melihat Lembata, yang satu pulau itu terpecah-pecah jadi kepingan utara, selatan, timur dan barat. Saya bukan juga penganut politik utara-selatan, tetapi mengimpikan Lembata sebagai sebuah unitas yang harmonis.

Kalau saya menulis hanya untuk membela sebuah pasangan calon tertentu, apalagi dukunguan itu diimbuh dengan hembusan isu atau gosip tentang pasangan calon lainnya, itu berarti saya sendiri sudah menghendaki kabupaten tercinta ini dikuasai oleh pemimpin yang hanya berjuang bagi kepentingan para pendukungnya atau wilayah di mana mereka mendapatkan suara terbanyak.

Inilah benih perpecahan dan permusuhan, yang akan menghambat seluruh proses pembangunan menuju Lembata yang lebih baik dan lebih sejahtera. Marilah kita mengupayakan bersama untuk menyukseskan pesta demokrasi ini, sebagai sebuah perhelatan yang bersih, jujur dan penuh rasa persaudaraan.

Marilah kita memberikan dukungan yang bersih dan sehat kepada semua pasangan calon bupati dan wakil bupati untuk mengambil bagian di dalam pemilihan ini dengan rasa bebas dan aman. Kita berikan kesempatan seluas-luasnya bagi semua pasangan calon, untuk membeberkan visi dan misi pembangunan yang akan mereka wujudkan apabila terpilih nanti.

Kita patut menghargai semua pasangan calon, untuk merasa bebas dan tenteram mengikuti hajatan politik ini sebagai putera dan puteri terbaik Tanah Lembata. Hormatilah dan berikanlah kesempatan seluas-luasnya kepada Eliaser Yentji Sunur dan Thomas Ola Langoday, kepada Herman Loli Wutun dan Vianney Burin, kepada Tarsisia Hani Chandra dan Linus Beseng, kepada Viktor Mado Wutun dan Muhammad Nasir, kepada Lukas Lipataman Witak dan Ferdinand Leu.

Sebagai rakyat yang baik kita patut menjauhkan diri dari tindakan-tindakan anarkis yang merusak kebersamaan kita sebagai rakyat dari kabupaten yang sama, Lembata. Marilah kita mendengarkan visi dan misi para calon dengan seksama agar dapat menjatuhkan pilihan kita secara bebas dan bertanggungjawab pula. Atas dasar kebebasan dan tanggungjawab inilah, kita pun akan siap untuk memberikan dukungan penuh kepada pasangan calon manapun, yang akan lahir sebagai Bupati dan Wakil Bupati baru memimpin kita lima tahun ke depan.

Sudah saatnya kita beranjak selangkah lebih maju, menjadi pemilih yang beranjak dewasa, yang tidak memilih karena dasar-dasar primordial kesukuan yang sempit, atas dasar wilayah-wilayah yang terpecah dan terkotak, tetapi atas dasar rasa cinta dan harapan yang kuat akan sebuah Lembata yang lebih baik, yang mengutamakan persaudaraan dan keharmonisan seluruh warganya.

Selamat memilih….!