Puting Beliung di Pogon, Enam Rumah dan Satu Sekolah Rusak

by -70 views

Maumere, mediantt.com – Angin puting beliung yang terjadi akhir Desember 2016 di Kecamatan Waigete, tidak saja melanda Desa Watudiran, tapi juga menghantam Desa Pogon. Sebanyak 6 rumah warga dan 1 bangunan sekolah mengalami kerusakan.

Hal ini disampaikan Camat Waigete Mayella da Cunha kepada wartawan di sela-sela penyaluran bantuan kepada para korban bencana di Desa Watudiran, Jumat (13/1).

“Saya baru saja terima laporan melalui surat tertulis dari Kepala Desa Pogon. Ternyata puting beliung juga menimpa warga di sana. Informasi ini sudah saya teruskan ke BPBD dan Dinsos Sikka, nanti saya akan lapor juga ke Bupati,” jelas da Cunha.

Kepala Desa Pogon Damianus Guntur melaporkan secara tertulis peristiwa puting beliung yang melanda wilayahnya di RT/RW 003/002 pada Kamis (22/12/2016). Disebutkan, puting beliung terjadi pada pukul 15.30 Wita, lebih dulu beberapa jam sebelum bencana yang sama melanda dua dusun di Desa Watudiran .

Dalam laporannya, Damianus Guntur tidak merincikan nama-nama korban. Ia hanya menyebutkan ada 6 rumah warga dan satu bangunan sekolah yang rusak. Sekolah yang rusak yakni SDK Kloangrotat. Damianus merincikan secara detail kebutuhan masyarakat korban bencana untuk memperbaiki rumah dan bangunan sekolah yang rusak.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Sosial Sikka akan segera menindaklanjuti. Beberapa staf akan lebih turun ke lokasi untuk melakukan identifikasi.

Sekolah Rubuh

Dari Desa Watudiran juga dilaporkan, satu bangunan sekolah rusak. Tiga ruangan untuk tiga rombongan belajar rubuh diterpa angin puting beliung akhir Desember 2016. Akibatnya 64 siswa terpaksa libur panjang.

Itu adalah SD Kelas Paralel atau Kelas Jauh. Letaknya di Dusun Kilawair, Desa Watudiran, Kecamatan Waigete. Masyarakat di sana biasa menyebut Kelas Paralel Kloangaur di Kilawair. Ada tiga ruangan kelas, masing-masing untuk kelas 1, 2, dan 3.

Sekolah ini terkena hantaman puting beliung pada Kamis (22/12/2016). Bersamaan dengan sekolah ini, puting beliung juga menerpa delapan rumah warga, satu di antaranya rata tanah. Sebanyak 14 kepala keluaga atau 68 jiwa masih membutuhkan bantuan pemerintah setempat.

Saat mendatangi lokasi sekolah ini, suasana tampak lengang. Dua ruangan kelas sudah rata tanah. Tinggal satu ruangan kelas yang masih berdiri, meskipun terlihat kerusakan di mana-mana. Seluruh meja dan bangku sekolah diamankan pada salah satu ruangan kelas.

“Pasca puting beliung anak-anak terpaksa libur. Tapi beberapa hari ini mereka sudah mulai sekolah kembali di sekolah induk SDK Kloangaur. Kalau hujan pasti mereka tidak bisa ke sekolah induk karena harus menyeberangi tiga kali yang airnya sering meluap sampai ke badan jalan,” jelas Kepala Desa Watudiran Maximus Milianus.

Sekretaris Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Sikka Bari Fernandez langsung menidentifikasi kerusakan pad sekolah tersebut. Belum tahu apa yang mau ditindaklanjuti BPBD Sikka terhadap realitas ini. Sepertinya mereka akan mendirikan bangunan darurat agar 64 siswa bisa kembali melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

Sekolah Kelas Jauh ini sebelumnya menjadi sekolah kaki dari SDK Kloangaur. Tiga tahun lalu dibuka sekolah kelas jauh untuk menampung siswa-siwa yang lokasi tinggal cukup jauh dari SDK Kloangaur. (vicky da gomez)

Ket Foto: Bangunan SD Kelas Paralel di Kilawair Desa Watudiran ambruk setelah dihantam puting beliung pada akhir Desember 2016 lalu.