Lima Kecamatan di Sikka Dilanda Bencana, Satu Meninggal

by -138 views

Maumere, mediantt.com – Dalam dua bulan terakhir, sejak Desember 2016 hingga Januari 2017, lima kecamatan di Kabupaten Sikka dilanda  bencana alam. Tercatat 1 orang meninggal akibat terhanyut banjir bandang.

Lima kecamatan itu adalah Waigete, Alok Barat, Magepanda, Tanawawo, dan Lela. Bencana alam yang terjadi dalam beberapa bentuk seperti banjir bandang, puting beliung, dan longsor, merusaki puluhan rumah dan tanaman serta bangunan sekolah. Akibat dari bencana alam, banyak masyarakat terpaksa mengungsi ke rumah keluarga. Puluhan pelajar pun terpaksa  melakukan kegiatan belajar mengajar pada bangunan darurat.

Puting beliung melanda Waigete, Magepanda, Tanawawo, dan Lela. Sedangkan banjir bandang menggerus Waigete dan Alok Barat. Sementara itu, longsor menerjang Tanawawo dan Lela.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka Bari Fernandez di sela-sela menyerahkan bantuan kemanusiaan kepada korban bencana di Desa Watudiran, Kecamatan Waigete, Jumat (13/1), mengatakan, Kabupaten Sikka masuk dalam daerah rawan bencana.

“Kami selalu antisipasi pada semua kecamatan. Sampai sekarang yang terdata baru lima kecamatan, bisa saja ada yang belum melapor sehingga belum diketahui,” jelas Bari.

Bari menambahkan, pihaknya terus berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait lainnya untuk mendata korban bencana alam, menyalurkan bantuan, serta melaksanakan tanggap darurat. Sejauh ini, sebut dia, BPBD Sikka lebih banyak bersinergi dengan Dinas Sosial.

Korban meninggal diketahui bernama Wihelmina Wodon, 45 tahun, warga Dusun Kloangaur Desa Watudiran. Korban adalah seorang petani, yang sehari-hari bekerja di kebun milik sendiri.

Kepala Desa Watudiran, Maximus Milianus menjelaskan, banjir bandang di Kloangaur terjadi pada Sabtu (7/1) lalu sekitar pukul 15.30 Wita. Sebelumnya terjadi hujan sangat deras kurang lebih sekitar empat jam lamanya. Sejumlah kali di wilayah itu meluap karena banjir bandang.

Informasi yang dia terima dari masyarakat, saat itu korban bersama anaknya bernama Anci, 7, dari kebun dan hendak pulang ke rumah. Saat itu hujan sudah mulai reda, sehingga keduanya memilih menyeberangi sungai yang biasa mereka lewat.

“Mereka harus melewati kali Wairbolo. Saat menyeberang tiba-tiba banjir besar datang. Anak yang kecil masih sempat menyelamatkan diri, sedangkan korban terhanyut banjir, dan ditemukan meninggal,” jelas Maximus.

Korban ditemukan sekitar pukul 17.00 Wita dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Keesokan harinya korban langsung dimakamkan oleh keluarga. BPBD Sikka dan Dinsos Sikka telah menyerahkan bantuan kepada keluarga korban.

Puting Beliung di Watudiran

Dari Dusun Kloangaur dan Dusun Kilawair di Desa Watudiran Kecamatan Waigete, dilaporkan, pada Kamis (22/12/2016) dini hari, warga dilanda angin puting beliung. Delapan rumah penduduk dan satu bangunan sekolah darurat rusak.

14 kepala keluarga menderita kerugian puluhan juta rupiah. 13 kepala keluarga masih bertahan pada rumah mereka, sedangkan 1 kepala keluarga terpaksa diungsikan ke rumah keluarga, karena bangunan rumahnya rata dengan tanah.

Eferinus Efi, warga RT/RW 014/06 Dusun Kloangaur, yang rumahnya rata tanah menuturkan, saat itu dia dan seisi keluarga sudah tertidur lelap. Tiba-tiba dia mendengar bunyi gemuruh yang begitu besar hingga tempat tidur pun bergeser.

Dia menggambarkan betapa angin puting beliung malam itu sangat dahsyat. Atap rumahnya yang terbuat dari seng beterbangan diterpa angin puting beliung. Untung saja dia segera membangunkan seluruh isi rumah agar keluar dari rumah. Tidak lama kemudian rumahnya roboh.

“Atap seng semua terangkat dan terbang. Ada yang sempat menerjang beberapa rumah tetangga. Suasana mencekam sekali. Syukur saya cepat bangunkan keluarga, kalau tidak bisa jadi banyak korban malam itu,” cerita Eferinus Efi.

Sebagai seorang petani yang bersusah-payah membangun rumah bertahun-tahun, dia mengaku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia mengharapkan perhatian dari pemerintah.

Jumat (13/1), Pemkab Sikka melalui Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Sosial menyalurkan bantuan darurat kepada para korban bencana. Eferinus Efi juga menerima bantuan tersebut, meskipun belum sebanding dengan kerugian yang dia derita.

Salurkan Bantuan

Jumat (13/1), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sikka dan Dinas Sosial, menyalurkan bantuan kepada korban bencana alam di Desa Watudiran Kecamatan Waigete. Bantuan yang sifatnya darurat ini disalurkan kepada 14 kepala keluarga yang terdiri dari 68 jiwa.

Bantuan dari BPBD Sikka berupa sarimie 15 dos, kidware 15 dos, tikar 15 lembar, makanan siap saji 15 kotak, dan selimut 15 lembar. Sementara dari Dinsos berupa beras 190,4 kilogram, sarden 196 kaleng, minyak goreng 14 botol, kidware 2 dos khusus untuk ibu hamil, dan seragam sekolah dasar 15 pasang. Penyaluran bantuan ini berlangsung di rumah Kepala Dusun Kloangaur Kustodius Alvin.

Camat Waigete, Mayella da Cunha, saat itu memberikan pemahaman kepada para korban bencana bahwa bantuan yang disalurkan sifatnya darurat, sehingga diharapkan dapat dimanfaatkan secara baik oleh para korban bencana.

Antonius Reynold da Cunha menambahkan bantuan darurat yang disalurkan untuk memenuhi kebutuhan korban bencana selama 7 hari  ke depan. Pihaknya akan terus mengikuti perkembangan sambil berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan desa.

Bari Fernandez meminta kepala desa untuk segera memberikan laporan bila terjadi kerusakan-kerusakan bangunan. (vicky da gomez)

Ket Foto: Salah satu kerusakan rumah warga di Dusun Kloangaur, Desa Watudiran, Kecamatan Waigete, yang rata dengan tanah akibat bencana puting beliung.