Seruan dari TTU, Kesatuan Bangsa Tidak Berarti Tidak Boleh Berbeda

by -113 views

Kefamenanu, mediantt.com – Gelar Nusantara Bersatu yang dilaksanakan di TTU memberikan pesan syarat makna, bahwa kesatuan bangsa tidak berarti kita tidak boleh berbeda. “Sebab perbedaan adalah ciri khas dan kekuatan yang mempersatukan. Janganlah saling menendang karena kita berbeda suku dan budaya. Janganlah kita saling curiga dan saling menyikut karena perbedaan agama dan keyakinan di antara kita”.

Acara Nusantara Bersatu ini digagas Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantio, menyikapi santernya aksi akhir-akhir ini yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Dan, sebagai bagian NKRI, masyarakat TTU juga menggelar apel Nusantara Bersatu di halaman Kantor Bupati TTU, Rabu, 30 November 2016.

Acara yang difasilitasi Kodim 1618/TTU dan Pemda Kabupaten TTU itu dihadiri berbagai elemen masyarakat dari seluruh wilayah TTU. Dengan mengikatkan pita merah putih di kepala, seluruh peserta terlihat antusias mengikuti acara demi acara. Seluruh rangkaian acara Nusantara Bersatu itu dirancang sedemikian hingga sangat menyentuh dan menggugah rasa nasionalisme seluruh peserta.

Diawali dengan atraksi drum band dari SMAN Taekas, dilanjutkan dengan menyanyikan bersama lagu kebangsaan Indonesia Raya, penyampaian ungkapan hati kebangsaan, orasi kebangsaan oleh Wakil Bupati TTU dan Kapolres TTU, pembacaan puisi oleh perwakilan pelajar dan masyarakat, penyampaian doa lintas agama oleh pemimpin agama Katolik, Protestan, Islam dan Hindu, dan ditutup dengan menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan acara ramah tamah bersama.

Ungkapan hati kebangsaan yang dibacakan salah seorang guru SMAN Taekas, mengajak seluruh komponen bangsa untuk bangga akan bangsa Indonesia yang majemuk dan wajib menjaga keutuhannya. “Bangsa Indonesia yang terbentang luas dari Sabang sampai Merauke, dari Sangihe hingga ke Pulau Rote didirikan dengan tetesan darah dan korban jiwa para pejuang, disulam indah dengan keragaman suku, budaya dan agama dalam spirit Bhineka Tunggal Ika. Keberagaman suku, budaya dan agama adalah sebuah keniscayaan bagi Bangsa Indonesia yang menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Menafikan dan menegasikan sebuah suku, budaya ataupun salah satu agama adalah awal keruntuhan bagi Indonesia sebagai sebuah bangsa. Persatuan bangsa bukan berarti memaksakan penyeragaman. Kesatuan bangsa tidak berarti kita tidak boleh berbeda. Sebab perbedaan adalah ciri khas dan kekuatan yang mempersatukan kita. Janganlah kita saling menendang karena kita berbeda suku dan budaya. Janganlah kita saling curiga dan saling menyikut karena perbedaan agama dan keyakinan di antara kita. Jauhkanlah segala bentuk provokasi yang membuat kita saling bergesekan dan berbenturan. Hargailah pengorbanan para pejuang kusuma bangsa dengan membangun harmoni di antara kita sesama saudara sebangsa. Singkirkan egoisme, saling curiga dan fanatisme sempit. Bangsa ini terlalu mahal untuk tergadai demi tujuan dan kepentingan sesaat sekelompok orang. Biarkanlah segala perbedaan di antara kita menjadi  sulaman indah bentangan Indonesia Raya dan simfoni merdu yang menciptakan harmoni.Di bawah naungan sayap garuda lambang negara dan kibaran sang Merah Putih, marilah kita mempertegas komitmen: NKRI adalah harga mati,” demikian ungkapan hati itu.

Sementara itu, dalam orasi kebangsaan, Wakil Bupati TTU, Aloysius Kobes, S.Sos  menyatakan, sangat mendukung acara Nusantara Bersatu karena salah satu tantangan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia akhir-akhir ini adalah   munculnya sikap memaksakan kehendak pada segelintir orang atau kelompok, tanpa menghiraukan keharmonisan  hubungan baik antar sesama warga negara yang telah terpelihara selama ini. Dan juga adanya pemanfaatan  isu Suku, Agama, dan Ras (SARA) oleh sebagian orang atau kelompok untuk kepentingan yang sebenarnya bertentangan dengan semangat kebersamaan dan kemajemukan kita sebagai sebuah bangsa yang majemuk.

Di tengah munculnya fenomena disintegrasi bangsa, kegiatan ini dapat menjadi media yang efektif dalam rangka menumbuhkan, membina, dan mengembangkan partisipasi warga TTU untuk mendukung dan ikut mengambil bagian dalam upaya penanggulangan berbagai isu dalam masyarakat yang berpotensi mengganggu keutuhan NKRI.

Alo Kobes mengajak seluruh elemen masyarakat untuk harus selalu menyadari kondisi obyektif  bangsa yang luas dan majemuk. Kemajemukan adalah sebuah kekayaan bangsa, namun bila tidak dikelola dengan baik justru bisa menjadi ancaman bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Persatuan dan kerukunan adalah prasyarat bagi keberhasilan pelaksanaan pembangunan. Karena itu, Wabup Alo Kobes mengajak seluruh peserta untuk terus bersinergi dalam berbagai upaya pencegahan konflik sosial, antara lain melalui keteladanan hidup yang baik  serta menjauhi sikap-sikap  yang dapat mengganggu keamanan dan kenyamanan hidup bersama.

Maklumat Kapolda

Orasi kebangsaan Wabup Alo Kobes ditutup dengan pembacaan maklumat Kapolda NTT oleh Kapolres TTU, AKBP, Robby M.Samban, S.Ik. Ada enam poin maklumat Kapolda yang perlu dipatuhi antara lain, Pertama, melarang membantu mengkoordinasi, memfasilitasi dan membiayai masyarakat NTT untuk berangkat ke Jakarta. Karena hal tersebut dilarang dalam undang-undang.

Kedua, melarang melakukan provokasi dengan cara apapun baik ajakan, hasutan, menyebar selebaran yang berkaitan dengan aksi 212. Ketiga, melarang melakukan ancaman terhadap kelompok masyarakat atau yang hendak memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Keempat, melarang menyebarkan informasi atau tuduhan yang mengganggu keamanan dan ketertiban nasional. Kelima, melarang mengganggu kegiatan agama-agama lain berupa teror yang mengakibatkan kegaduhan kerukunan antar umat beragama dan Keenam, melarang menyebarkan isu-isu yang mengadudomba ketenangan kehidupan masyarakat.

Apel Nusantara Bersatu ditutup dengan doa yang disampaiakan secara bergiliran oleh tokoh agama Katolik, Protestan, Islam dan Hindu. (humas/jdz)

Ket Foto : Wakil Bupati TTU, Aloysius Kobes, S.Sos (tengah) foto bersama sebagian peserta usai Apel Nusantara Bersatu, Rabu (30/11) sore.