Kolam Susuk Tak Lagi Seindah Syair Koes Plus

by -52 views

ATAMBUA – Keelokan alam Nusantara tergambar pas pada lagu Kolam Susu milik Koes Plus, grup legendaris asli Tuban, Jawa Timur. Tengok saja syairnya: Bukan lautan, hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu. Tiada badai, tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampiri dirimu. Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman…

Dan, kolam susu yang digambarkan Koes Plus itu (memang) bukan sekadar frasa kosong pada lagu tersebut. Kolam susu itu benar-benar ada. Ia berada di Desa Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, NTT. Namun Kolam Susu yang nama aslinya adalah Kolam Susuk kini hanya tinggal cerita. Kondisinya memprihatinkan dan tak lagi seindah apa yang diluksiskan Koes Plus dalam syair lagunya.

“Dulu Kolam Susu(k) ini ramai dikunjungi wisatawan, tapi saat ini sepi, hanya beberapa orang saja yang berlibur di hari minggu,” tutur Hengky Mali, salah satu warga yang juga keturunan pemilik tanah ulayat di Kolam Susu tersebut, ketika dijumpai Selasa (29/11/2016).

Warga berharap Pemkab Belu memberi perhatian lebih terhadap salah obyek wisata alam ini, agar keharuman dan keindahannya tak lagi pudar, tapi kembali memukau seperti yang dikisahkan Koes Plus dalam lagunya.

“Kami berharap pemerintah dalam hal ini Dinas Pariwisata memperhatikan Kolam Susuk karena sudah dikenal. Ini kan tinggal dikelola dengan baik lalu dipromosikan secara maksimal,” kata Hengky.

Meski kondisinya saat ini memprihatinkan, tapi Kolam Susuk adalah ikon pariwisata Kabupaten Belu. Keelokan Kolam Susuk yang dalam bahasa lokal berarti sarang nyamuk itu sudah memikat hati anggota Koes Plus saat band tersebut mengunjungi Atambua pada 1971. Keindahannya terpatri pada lagu Kolam Susu tersebut. Meski disebut sebagai tempat wisata, saat ini Kolam Susuk terasa begitu sepi.

Saat mediantt.com mendatangi tempat tersebut Selasa (29/11/2016), sama sekali tidak ada pengunjung di sana. Tidak tampak pula seorang penjaga. Yang ada justru kambing-kambing yang berkeliaran sembari mengeluarkan kotoran sesuka hati, yang menyebarkan aroma tak sedap.  “Biasanya ramai kalau Sabtu, Minggu, atau hari libur,” tutur Hengky Mali, warga Desa Dualaus.
Dari Atambua, jalur menuju Kolam Susuk cukup asyik, yang bisa ditempuh dengan waktu sekitar 45 menit. Jalurnya berkelok-kelok, naik turun, melewati lembah dan tebing. Tapi, jalannya beraspal mulus. Hanya ada satu dua ruas yang diperbaiki lantaran ada bekas longsor.

Pemandangan di Kolam Susuk tampak elok. Kolam itu berupa danau besar yang alami. Di sekelilingnya terlihat tebing-tebing yang menjulang tinggi seolah-olah melindungi keasrian Kolam Susuk. Di sana sini terdapat pohon kedondong hutan dan bakau yang membuat Kolam Susuk terasa berangin sejuk meski matahari menyengat.

Meski sepi, satu dua perubahan terus diupayakan secara perlahan oleh pemerintah setempat. Misalnya, di beberapa sudut terlihat bungalo-bungalo kecil untuk tempat berteduh. Ada pula bungalo besar yang menjorok ke salah satu kolam, tempat orang bisa menikmati bandeng bakar yang dimasak secara khas.

Kolam Susuk sejatinya adalah tambak besar tempat mengembangbiakkan ikan bandeng. “Kalau musim panen, bandeng murah sekali,” kata Hengky. Karena itu, melalui dinas perikanan dan kelautan, Pemkab Belu pun ikut menggarap Kolam Susuk sebagai wisata tambak.

Seorang warga menuturkan, masa-masa panen bandeng adalah puncak arus wisatawan. Biasanya ada ritual adat sebelum proses panen dimulai. “Yang ajaib, setelah upacara adat itu, ikan-ikan berlompatan dari dalam kolam,” ungkapnya. Persis dengan lagu Koes Plus, “ikan dan udang menghampiri dirimu…”

Kolam Susuk bukan satu-satunya tempat wisata alternatif. Di dekat Kolam Susuk terdapat Teluk Gurita, salah satu dermaga penyeberangan di Kabupaten Belu. Jarak antara Kolam Susuk dan Teluk Gurita tidak begitu jauh. Hanya sekitar 3 kilometer. Jalannya berkelok-kelok dan naik-turun dengan kemiringan yang tajam, tapi sudah diaspal mulus.  Teluk Gurita sangat menawan.

Teluk Gurita yang dalam bahasa setempat disebut Kuit Namon itu sudah lama menjadi tempat pendaratan. Lautnya dalam sehingga airnya tampak sangat biru. Lantaran berbentuk teluk, ombak pun jarang datang. Teluk itu juga dipagari bukit-bukit yang menghijau. Pasirnya yang kecokelatan tampak halus. Pas sebagai sebuah dermaga penyeberangan. “Biasanya ini untuk penyeberangan ke Pulau Alor,” kata Akbar, nelayan di Teluk Gurita.

Dalam sejarah, pedagang Asia hingga Eropa dulu pernah menyinggahi Teluk Gurita untuk mencari komoditas cendana. Konon, ada kapal Spanyol yang dililit gurita raksasa hingga tenggelam ke dasar teluk. Hingga kini, bangkai kapal itu masih berada di dasar teluk dan berubah menjadi terumbu karang. Saat Jepang masuk, Teluk Gurita difungsikan sebagai pendaratan kapal. Begitu pula ketika Sekutu datang mengusir Jepang.

Seperti halnya Kolam Susuk, pada hari-hari biasa, nyaris tak ada pengunjung di Teluk Gurita. “Kalau Minggu atau tahun baru, pantainya tidak kelihatan. Yang terlihat hanya orang-orang piknik,” cerita Akbar.

Sebagai sebuah destinasi wisata alternatif, Kolam Susuk dan Teluk Gurita sudah punya modal yang kuat. Tugas besar yang diemban pemerintah setempat ialah memasarkan plus menyediakan infrastruktur pariwisatanya.  (*/jdz)

Ket Foto : Kondisi Kolam Susuk di Kabupaten Belu terkini, yang dipotret Selasa, 29 November 2016.