Belajar Kompetisi Politik Cerdas dari Amerika Serikat

by -136 views

NEW YORK – Bila ada figur yang paling dikhawatirkan jutaan warga Amerika Serikat dan mungkin juga dunia untuk terpilih sebagai presiden, itu adalah Donald John Trump. Akan tetapi, kekhawatiran itulah yang kini justru menjadi kenyataan.

Kemenangan Partai Republik dipastikan setelah Trump mengungguli perolehan suara atas pesaingnya, kandidat dari Partai Demokrat, Hillary Rodham Clinton, dalam pemilihan presiden AS yang digelar kemarin. Trump menang atas mantan menteri luar negeri dan ibu negara AS itu dengan 290 electoral vote. Sebaliknya, Hillary yang semula diunggulkan hanya mampu mengumpulkan 218 electoral vote.

Terpilihnya Trump sebagai presiden ke-45 Amerika Serikat tidak hanya dikhawatirkan warga Amerika Serikat, tetapi juga pasar uang dan saham. Indeks bursa saham di sejumlah pusat keuangan dunia pun mengalami koreksi.

Kemenangan Trump memang sangat mengejutkan. Publik Amerika dan dunia belum sepenuhnya mampu memahami bagaimana mungkin figur sangat kontroversial seperti Trump dapat meyakinkan sebagian besar pemilih di negeri yang menjadi model demokrasi dunia itu.

Trump yang dalam kampanyenya sempat mengeluarkan ide-ide ‘yang dinilai’ tidak masuk akal, seperti akan membangun tembok di sepanjang perbatasan AS dengan Meksiko untuk membendung imigran, melarang orang beragama Islam memasuki Amerika, dan akan melancarkan perang dagang dengan Tiongkok, membuat warga Amerika terbelah. Akan tetapi, keterbelahan pemilih di antara kedua kandidat presiden itu tidak serta-merta dibiarkan berlarut oleh para pemimpin.

Tidak lama seusai pengumuman perolehan suara yang memenangkan rivalnya, Hillary Clinton langsung menelepon Trump dan secara sportif mengucapkan selamat. Di lain sisi, kemenangan itu juga tidak membuat Trump jemawa. Dalam pidato resminya seusai terpilih sebagai presiden AS, ia menyatakan akan menjadi presiden bagi seluruh warga Amerika, bukan hanya para pemilihnya.

Trump juga menyambut ucapan selamat dari Hillary Clinton dengan sikap yang sangat berkebalikan dari pernyataan-pernyataannya saat kampanye. Trump yang saat kampanye sempat menyatakan akan memenjarakan Hillary Clinton atas kinerjanya menggunakan server pribadi semasa menjadi menteri luar negeri menyatakan telah berutang terima kasih tidak terhingga kepada Hillary atas pengabdiannya kepada negara.

Sikap para pemimpin Amerika itu menjadi pelajaran yang sepatutnya kita simak dan cermati. Rivalitas dalam kontes pemilihan presiden AS itu dengan serta-merta disudahi begitu kompetisi berakhir.

Ada kesadaran dan kearifan dari para kandidat yang bersaing bahwa rivalitas politik di antara mereka, betapa pun kecilnya, telah menimbulkan luka, termasuk di level akar rumput. Karena itu, seluruh kandidat saling mengutuhkan kembali keterbelahan yang sempat mereka ciptakan. Pernyataan-pernyataan yang menyejukkan, mengutuhkan, dan menguatkan disuarakan demi jalinan persatuan dan kesatuan.

Saat pemerintahan presiden terpilih berjalan, kandidat dan partai yang tidak terpilih pun bertindak sebagai oposisi secara sportif. Jika ada kebijakan presiden yang dinilai tidak pas, mereka mengoreksi melalui kritik yang konstitusional. Mereka tidak asal berseberangan, tak juga bernafsu menjatuhkan presiden terpilih di tengah jalan. Itulah pelajaran apik yang dapat ditarik dari pemilihan presiden AS. (mi/jdz)

Ket Foto : Dalam pidatonya, usai dinyatakan kalah dalam pemilihan presiden Amerika Serikat, Hillary berharap Trump dapat menjadi presiden bagi seluruh rakyat AS. (REUTERS/Carlos Barria)