WPA Oeba Gelar Diskusi Bahaya Narkoba dan HIV/AIDS

by -38 views

Kupang, mediantt.com – Warga Peduli AIDS (WPA) Kelurahan Oeba, Kecamatan Kota Lama, menggelar diskusi tentang bahaya penyalahgunaan narkoba dan HIV/AIDS, pada Senin (10/10) di RT 03/RW 02. Diskusi ini bertema “Pemerintah, Tokoh Agama, dan Tokoh Masyarakat Bergandengan tangan mempersiapkan Generasi Sehat”, dengan narasumber antara lain, Jonas Salean selaku Ketua KPA Kota Kupang, Ketua KPA NTT dr Husein, Pater Bernard, SVD, Pdt Desy Liu, Imam Masjid Haji Moch MS, dr Daulat Samosir dari BNN NTT, juga salah seorang Orang Dengan HIV/AIDS (ODA), Wilhemus Nisnahan.

Yang menarik, diskusi tersebut mengungkapkan fakta bahwa ada 2.559 HIV/AIDS kasus, dengan wilayah prosentase distribusi di Kecamatan Kota Lama 15 persen, Kelapa Lima 17 persen, Kota Raja 17 persen, Manutapen 19 persen, Alak 15 persen, dengan mobirates kasus PNS 11 persen, Ibu Rumah Tangga 11 persen dan mahasiswa 5 persen. Dan, dalam kurun waktu 1 minggu, ada 2 orang meninggal, yakni 1 orang di Oebobo dan 1 lagi di Nunbaun Delha, dengan total 70 orang meninggal dan 934 kasus HIV/AIDS di Kota Kupang.

Ketua WPA Kelurahan Oeba, Maria Salensi, menyampaikan terima kasih kepada panitia yang dengan upaya dan dukungan dana minimal bisa menyelenggarakan diskusi tersebut.

“WPA Oeba akan tetap konsisten membangun relasi dan komunikasi untuk sosialisasi dan pemberantasan narkoba dan HIV/AIDS,” kata Salensi.

Salah seorang ODA yang hadir saat diskusi, Wilhemus Nisnahan, menuturkan, kerinduan bersosialisasi kepada para keluarga agar bisa terhindar dari bahaya HIV/AIDS agar masyarakat juga tidak takut membina relasi dan sosialisasi dengan para ODA dan bisa jaga diri dan keluarga agar terhindar dari HIV/AIDS.

Kata dia, Warga Peduli Aids (WPA) telah terbentuk dan eksis di 51 Kelurahan di Kota Kupang dan mendapat dukungan dari Pemkot, Komisi Penanggulangan Aids (KPA) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) NTT, yang serius memerangi dan memberantas bahaya penyalagunaan narkoba dan HIV/AIDS.

Ketua KPA Kota Kupang  Jonas Salean menegaskan akan melaksanakan sosialisasi secara menyeluruh KPA 51 kelurahan terpusat di satu lokasi di tahun 2017.

“Kota Kupang lebih serius dibandingkan dengan Kota lain di Indonesia, tergantung pemimpin daerah dalam menanggapi bahaya narkoba dan HIV/AIDS. Sebab di daerah lain dianggap penyakit biasa dengan hanya ditunjang operasional hanya sekitar Rp 150 juta per tahun,” kata Jonas, dan menambahkan, Pemkot juga dibantu oleh para pemuda, mahasiswa, tokoh agama (pastor, pendeta dan imam masjid) dengan hasilnya Pemkot dan KPA Kota Kupang menerima Penghargaan sebagai KPA Terbaik se-Sunda Kecil (Bali, NTB & NTT), yang diserahkan oleh Kemendagri di Makasar.

Pater Bernard sebagai pembicara mengatakan, kata kunci kenapa bahaya narkoba HIV/AIDS ada karena dosa. Pdt Desy Liu Tatengkeng juga mengatakan, refleksi tentang nikmat membawa sengsara kenapa orang terlibat dalam narkoba dan HIV/AIDS karena ada konflik dalam keluarga, pengaruh iklan seperti iklan obat kuat, gaya hidup hedonis (selalu mencari kenikmatan), gaya hidup konsumtif, ikuti trend karena perasaan dengan cara mengatasi STMJ (Setia pada pasangan, Takut Tuhan, Mengasihi keluarga, Jangan malu untuk periksa ke klinik).

dr Daulat Samosir dari BNN NTT mengatakan, narkotika dan HIV/AIDS setali tiga uang. Banyak kasus narkotika terjadi sejak Agustus 2015 dengan melakukan operasi penjangkauan hingga operasi bersinar, dan berhasil menjangkau 128 orang pecandu narkoba usia 13-18 tahun. “Yang lebih memalukan lagi, seorang dokter juga menjadi pengguna dan pengedar narkoba. Yang bersangkutan saat ini telah ditahan dan diproses pengadilan,” katanya. (rony banase)

Foto : Para pemicara sedang memaparkan materinya tentang narkoba dan HIV/AIDS, Senin (10/10), di Kelurahan Oeba, Kota Kupang.