Ada Sinyal Politik dari Hotel Palm Indah Lewoleba

by -35 views

LEWOLEBA – Sabtu dini hari, 1 Oktober 2016. Waktu menunjukkan pukul 12:10 Wita. Suasana di lobi Hotel Palm Indah di bilangan Waikomo, Lewoleba, masih ramai. Bupati Sabu Raijua, Ir Marthen Dira Tome, tengah berdiskusi dengan sejumlah tokoh pemuda Lembata.  Ada peristiwa politik luar biasa pada dini hari itu.

Tak ada yang menskenariokan pertemuan tak terduga itu, tapi tentu atas restu leluhur dan Lewotana, Lembata. Malam itu, mobil Fortuner berwarna putih memasuki lobi Hotel Palm. Dari dalam mobil turun Gubernur NTT, Drs Frans Lebu Raya, yang baru selesai menutup Festival Seni dan Budaya Flores dan Lembata (Florata) di pelataran Pelabuhan Lewoleba, yang populer disebut Jetty. Ama Lebu Raya didampingi Penjabat Bupati Lembata Sinun Petrus Manuk bersama istri, juga mantan Wakil Bupati Lembata Viktor Mado Watun, yang juga kandidat bupati Lembata periode 2018-2023 dari PDI Perjuangan.

Di pelataran lobi itu, ada sejumlah wartawan yang juga asik berdiskusi tentang dinamika dan hiruk pikuk politik di Lembata. Gubernur Lebu Raya langsung menuju kerumuman wartawan sembari melempar senyum kasnya. Ia berjabat tangan lalu masuk ke ruang lobi. Dari pintu ia melihat ada Bupati Dira Tome yang sudah berdiri menunggu. Spontan Gubernur menyapa, “Selamat malam Pak Bupati. Ada di sini juga ya!” Keduanya menyodorkan tangan bersalaman diikuti dengan cium hidung ala Sabu, disaksikan Piter Manuk, Viktor Mado Watun dan Anggota DPRD NTT dari Fraksi PKB, Yucun Lepa. Dira Tome pun mengatakan, “Pak Gub, saya baru habis bertemu saudara-saudara yang ada Lembata. Saya datang untuk memperkenalkan garam dan air minum dalam kemasan (Oasa),” kata Dira Tome. Lebu Raya pun angguk-angguk saja, lalu terlibat percakapan serius tapi santai, hingga gubernur berpamitan ke lantai dua, kamarnya menginap. “Silahkan lanjutkan diskusinya, saya mau istirahat dulu,” pamit Lebu Raya ke Dira Tome.

Lebu Raya beranjak naik ke lantai dua, diikuti Penjabat Bupati Lembata, Cabup Viktor Mado dan sejumlah pejabat dari provinsi. Yang menarik, meski cuma sebentar, pertemuan Lebu Raya dan Dira Tome menjadi perhatian serius semua mata yang ada di Hotel Palm Indah saat itu. Dua tokoh penting NTT yang kerap diberitakan tak akur, bisa bertemu di Lewoleba, Lembata. Palem Indah menjadi saksi sejarah pertemuan dua tokoh ini.

Tak ada pembicaraan politik, tapi pertemuan dua tokoh ini memantik spekulasi bahwa ada sinyal politik yang baik dari Hotel Palm. Sebab, setelah bertemu Dira Tome, Lebu Raya bersama Piter Manuk dan Viktor Mado juga sejumlah pejabat provinsi, sepertinya ada ‘rapat kilat’; (mungkin) membahas kehadiran Marten Dira Tome di Lembata. Yang jelas, usai pertemuan itu, saat Piter Manuk dan Viktor Mado hendak kembali, Viktor Mado tiba-tiba menarik tangan Dira Tome untuk berbicara empat mata. “Saya mau bicara dengan Pa Marthen,” kata Viktor.

Viktor pun merangkul Dira Tome dan berjalan keluar lobi sembari membisikan sesuatu kepada Bupati Sabu Raijua yang juga Cagub NTT 2018 itu. Sayangnya, percakapan penting dua sosok itu tak ada yang tahu. Apakah yang dilakukan Vitktor Mado itu melanjutkan pesan Lebu Raya kepada Dira Tome. Hingga berita ini diturunkan, kejelasan informasi itu tak terkonfirmasi.

Seorang pemuda Lembata berkata, “Ya, mungkin Pak Gubernur memberi pesan kepada Pak Bupati Sabu Raijua, untuk mendukung Viktor Mado di Lembata, dan kompensasinya akan memberikan dukungan kepada Dira Tome di Pilgub 2018. Tapi ini cuma spekulasi. Yang pasti, ada sinyal politik yang diberikan oleh Frans Lebu Raya kepada Dira Tome. Bertemu di Hotel Palem ini saja sudah sebuah sinyal politik untuk NTT ke depan,” kata Gusti Bataona, Ketua Nasdem Lembata.

Pertemuan empat mata antara Gubernur Frans Lebu Raya dan Bupati Dira Tome, sejatinya sudah terjadi tiga kali. Pertama ketika Bupati Dira Tome bersama Wakilnya Nikodemus Rihi Heke bertemu usai pelantikan menjadi bupati dan wakil. Usai pertemuan bersama wakil bupati, Dira Tome sempat bertemu empat mata dengan Lebu Raya. Kedua, ketika Frans Lebu Raya diundang Bupati Sabu Raijua untuk meresmikan pabrik rumput laut awal Agustus 2016 lalu. Saat itu keduanya satu mobil dan dipastikan ada pembicaraan empat mata yang hanya diketahui sang sopir. Tapi, dari tiga kali pertemuan empat mata itu, tak pernah terkonfirmasi. Dira Tome maupun Lebu Raya bungkam soal itu.

Asal tahu, kehadiran Gubenrur Lebu Raya di Lembata, selain menutup Festival Seni dan Budaya Flores-Lembata (Florata) pada Jumat (30/9), juga menghadiri Rapat Koordinasi tentang persiapan Hari Nusantara (Harnus) 2016 yang dipusatkan di Lembata. Sementara kehadiran Dira Tome di Lembata untuk mempromosikan Garam Nataga dan Air Minum Oasa. Tiba di Lewoleba, Jumat (30/9) siang, Dira Tome langsung meninjau lokasi tambak garam milik Pemda Lembata di Desa Tapobaran, Kecamatan Lebatukan. “Dulu mereka belajar membuat garam menggunakan geomembran di Sabu Raijua. Karena itu saya mau lihat hasilnya,” kata Dira Tome.

Dari lokasi Tambak Garam, Dira Tome menuju Aula Damian untuk bertemu masyarakat Lembata. Dia membagikan apa yang telah dibuat di Sabu Raijua selama satu periode memimpin, juga mempromosikan garam Nataga dan Air Minum Oasa. Ia juga bertemu kerukunan masyarakat Sabu Raijua yang selama ini berdomisili di Lembata.

Marthen Dira Tome mengatakan, saat ini ada dua persoalan besar yang dihadapi masyarakat di Sabu Raijua dan NTT pada umumnya yakni kemiskinan dan pengangguran yang masif. Untuk itu, pemerintah memiliki tugas menyelesaikan dua persoalan itu. Kemiskinan yang mencekik masyarakat di NTT harus diatasi lewat cara-cara yang cerdas dan inovatif dengan menemukan berbagai potensi yang bisa dikelola. Demikian juga dengan persoalan pengangguran yang terus meningkat harus diatasi dengan cara membuka lapangan pekerjaan lewat sektor informal dan memacu masyarakat untuk bekerja keras.

“Seorang pemimpin harus memastikan bahwa rakyatnya tidak akan berteriak kelaparan di saat dia sedang tidur. Sebagai pemimpin tidak boleh mencegah kemiskinan dengan cara-cara yang tidak bermartabat seperti membawa proposal kemana-mana untuk mendapatkan bantuan. Itu pemimpin yang menjual kemiskinan rakyatnya. Cara-cara seperti ini akan menjerumuskan banyak orang dalam dunia korupsi,” tegas Dira Tome. (jdz)

Ket Foto : Gubernur NTT, Drs Frans Lebu Raya, sedang berbincang dengan Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome di Hotel Palm Indah, disaksikan Penjabat Bupati Lembata Piter Manuk, Cabup Lembata Viktr Mado Watun, dan Ketua Fraksi PKB DPRD NTT, Yucun Lepa.