Dua Kasus Kriminal di Sikka Menghilang Tidak Jelas

by -23 views

Maumere, mediantt.com – Masyarakat Kabupaten Sikka tentu tidak lupa dua peristiwa kriminal yang terjadi belum lama ini. Kasus penusukan di Royal Pub, pada 19 Maret 2016. Lalu tiga minggu kemudian, kasus pembacokan di Pasar Senja Wolomarang, pada 10 April 2016. Uniknya, dua kasus ini sepertinya menghilang, apalagi sampai sekarang tidak jelas pelakunya.

Di Royal Pub, seorang pengunjung bernama Yoseph Yunus ditusuk, sekitar pukul 01.00 dinihari. Darah segar keluar dari perut. Korban pun segera dibawa lari ke BLUD TC Hillers Maumere.
Saat itu korban datang ke lokasi dengan dua orang temannya. Mereka bertiga asyik menenggak bir sambil berkaraoke dan ditemani perempuan pub yang lazim disebut waiters atau ladies.

Sementara itu, di Pasar Senja Wolomarang, seorang papalele ikan jadi korban amuk penjaga pasar yang mabok, kurang lebih petang sebelum magrib. Sebuah parang dihunus ke bagian punggung belakang Agustinus Hartono. Korban dibawa ke UGD BLUD TC Hillers Maumere. Dia menerima belasan jahitan.

Sebelumnya beberapa orang sempat jadi amarah pelaku. Seorang ibu dipukul dengan helm karena berupaya menegur tindakan pelaku yang mengganggu aktifitas perdagangan pasar. Pelaku, akhirnya diketahui bernama Daeng Saing.

Masih Lidik

Pasca penusukan, polisi turun ke lokasi kejadian, merekam informasi, menggali keterangan, dan mengumpulkan barang bukti. Entahlah bagaimana perkembangan selanjutnya, tidak ada kabar berita. Tidak ada pihak yang ditetapkan sebagai pelaku penusukan.

Kepala Kepolisian Resor Sikka I Made Kusuma Jaya melalui Pejabat Kasubag Humas Margono menjelaskan, kasus penusukan di Royal Pub masih dalam tahap penyidikan. Dia mengaku terus terang hingga sekarang pelaku belum diketahui.

Hingga kini sudah ada tiga saksi yang telah dimintai keterangan. Margono menyebut nama ketiga saksi itu yakni Elisabeth Mercy, Klemens Hing, dan Manajer Royal Pub bernama Bobby. Margono belum mau menyampaikan informasi detail tentang keterangan ketiga saksi.

Sejumlah aparat kepolisian turun sigap di Pasar Senja Wolomarang dan sekitarnya. Mereka berjaga-jaga sampai pagi. Apalagi terdengar kabar bahwa beberapa keluarga dan relasi korban hendak menyerang warga di lokasi kejadian. Di lokasi tampak terlihat sejumlah perwira Polres Sikka.

Berbagai upaya dilakukan untuk menghubungi pelaku yang saat itu sedang bersembunyi. Polisi juga meminta bantuan keluarga pelaku termasuk isterinya agar meyakinkan pelaku untuk menyerahkan diri.

Rupanya pelaku pintar mengulur-ulur waktu. Bahkan untuk menyerahkan diri pun dengan persyaratan hanya mau dijemput oleh seorang polisi. Tahu-tahunya, setelah beberapa hari, pelaku sudah tidak dapat dihubungi lagi.
Margono mengatakan, pelaku sudah melarikan diri, dan tidak diketahui tempat persembunyiannya. Kini status pelaku adalah daftar pencarian orang (DPO).

Kurang Serius
Di tengah masyarakat, terbetik kesan polisi kurang serius menangani dua kasus ini. Mata awam menyebut kasus-kasus ini sangat sederhana untuk menjerat pelaku. Tetapi apapun mata awam, tentu berbeda dengan penglihatan kepolisian.

Kasus penusukan misalnya, data yang dihimpun mediantt.com mengisyaratkan adanya upaya oknum-oknum yang menghalangi kerja polisi. Intel kepolisian dibikin seperti bola pingpong ketika hendak mencari barang bukti. Ternyata barang bukti berupa pecahan botol bir sudah diamankan di pesisir laut.

“Pasca penusukan tidak ada police line di lokasi kejadian. Kalau pasang police line saya yakin kasus ini akan terungkap. Yah, ini pendapat kami yang awam dan tidak mengerti,” tutur Eddy Parera, salah seorang keluarga korban penusukan.

Yang lebih mengecewakan yakni kasus pembacokan di Pasar Senja Wolomarang. Pelaku sudah diketahui, tetapi tetap saja tidak bisa dibekuk. Malah terakhir dengar kabar pelaku sudah kabur bersama istrinya.
Padahal sebenarnya ada banyak cara untuk membekuk pelaku. Misalnya memanfaatkan istrinya sebagai umpan agar pelaku keluar dari persembunyian. Atau bisa juga dengan menutup semua jalur penyeberangan ke luar daerah baik di darat, udara, maupun, laut sehingga menutup pergerakan pelaku.

Sepanjang pemantauan mediantt.com, tampak tidak ada upaya untuk menutup pergerakan pelaku. Polisi memang berupaya mencari tahu tempat persembunyian, tetapi ternyata pelaku lebih licik cepat berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Dan akhirnya, masyarakat hanya mendengar cerita tidak sedap tentang seorang pelaku pembacokan yang berhasil kabur. (vicky da gomez)

Foto: Agustinus Hartono, korban pembacokan di Pasar Senja Wlolmarang. Pelaku pembacokan hingga kini sulit dibekuk karena sudah melarikan diri.