Frans Molo Gugat BRI Cabang Maumere

by -67 views

Indonesia (BRI) Cabang Maumere, Selasa (26/7), melakukan gugatan terhadap bank tersebut. Gugatan ini berawal dari eksekusi terhadap sebidang tanah seluas 1.166 meter kubik milik Frans Molo di Jalan KS Tubun Kelurahan Kota Baru Kecamatan Alok Timur, Sabtu (30/3) lalu.

Karena Frans Molo menderita gangguan jiwa sejak 2007, maka penggugat dalam kasus ini adalah Maria Nyoritaris Molo selaku istri. Selain BRI Cabang Maumere (Tergugat I), penggugat juga menggugat Kepala Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (Tergugat II), Helena Sunur (Tergugat III), mantan Kapolsek Alok Hendrik Fernandes Aritonang (Tergugat IV), dan turut tergugat Anita Kusumawati Diaz.

Berkas gugatan langsung diantar sendiri oleh penggugat pada Selasa (26/7) ke Kantor Pengadilan Negeri Maumere. Penggugat didampingi Viktor Nekur salah satu kuasa hukum. Ikut mendampingi penggugat yakni Ketua Dewan Paroki Santo Thomas Morus Paulus Depa, Ketua PMKRI Cabang Maumere Desideramus  Bitan, dan sejumlah anggota PMKRI Maumere.

Di PN Maumere, penggugat diterima oleh Panitera Pengadilan Negeri Maumere. Setelah memenuhi semua persyaratan administrasi, kemudian gugatan tersebut didaftar dengan nomor perkara 22/Pdt.G/2016/PN.MMR. Dalam gugatan ini penggugat meminta ganti kerugian material sebesar Rp 320 juta dan kerugian imaterial Rp 1 miliar.

Viktor Nekur menjelaskan, penggugat terpaksa melakukan gugatan karena menilai adanya perbuatan melawan hukum yang dilakukan para tergugat dan turut tergugat. Perbuatan melawan hukum itu dilakukan sejak Tergugat I melalui karyawan atas nama Didin pada tahun 2007 mendatangi suami penggugat untuk meningkatkan atau menambah modal usaha. Padahal, saat itu suami penggugat sedang dalam kondisi kurang waras dan tidak mampu lagi melunasi hutang.

“Sebenarnya Tergugat I tahu dan sadar betul bahwa sejak tahun 2006 ketika jumlah pinjaman Rp 80 juta, suami penggugat sudah tidak mampu membayar bunga dan mencicil pinjaman, tetapi Tergugat I tetap saja menambah atau meningkatkan pinjaman hingga mencapai Rp 105 juta. Nah, ini sudah tentu dilandasi niat terselubung agar suami penggugat tidak mampu membayar hutang atau kredit macet, sehingga barang jaminan akan dilelang. Ini kita bisa simpulkan dari fakta bahwa meskipun pada tahun 2008 suami penggugat dalam kondisi menderita sakit gangguan jiwa, tetapi tidak ada upaya adminsitrasi yang membantu meringankan beban suami penggugat,” urai Viktor Nekur.

Karena mengalami sakit gangguan jiwa, sehingga tidak dapat menjalankan usahanya, akhirnya Frans Molo tidak mampu membayar seluruh hutang pada Tergugat I sampai dengan jatuh tempo. Pada September 2011, Tergugat I menyampaikan jadwal lelang atas tanah objek agunan yang akan dilaksanakan pada 4 November 2011 jam 10.00 Wita di Kantor BRI Cabang Maumere. Saat itu Frans Molo dan istrinya baru mengetahui kalau hutang mereka terdiri dari pokok dan bunga sudah mencapai Rp 139 juta.

Sehari sebelum pelaksanaan lelang, Didin mendatangi Frabs Molo di kios tempat usaha penggugat, dan mengingatkan soal jadwal lelang. Didin sempat memberitahukan kepada penggugat bahwa bila ada keluarga yang bisa menebus hutang, maka masih diberi kesempatan hingga sebelum pukul 10.00 Wita.

Pada hari pelelangan, penggugat bersama keluarga sudah membawa uang tunai sebesar Rp 130 juta. Namun oleh Amirudin Nar, selaku Supervisor Penunjang Bisnis PT BRI Cabang Maumere, diminta untuk menggenapi sampai Rp 139 juta sesuai jumlah hutang. Penggugat dan keluarga kemudian berusaha mendapatkan lagi Rp 9 juta dari keluarga yang lain.

Waktu masih pukul 09.30 Wita ketika penggugat dan keluarga sudah mengantongi uang sebesar Rp 139 juta. Namun ketika hendak bertemu lagi Aminuddin Nar di ruang kerjanya, ternyata yang bersangkutan sudah berada di ruang pelelangan. Dalam ruang pelelangan Tergugat II melalui Juru Lelang sedang membacakan berita acara lelang di hadapan Kepala Kantor Cabang BRI Maumere, Didin, Amirudin Nar, Tergugat IV yang mengenakan atribut kedinasan lengkap sebagai anggota kepolisian mewakili Tergugat III, dan turut tergugat.

Yoseph Fia, keluarga Frans Molo sempat menyela dan menyatakan proses lelang itu tidak sah, karena Frans Molo siap melunasi hutang. Namun Juru Lelang menghardik Yoseph Fia, dan terus melanjutkan pembacaan berita acara sampai selesai. Setelah selesai, peserta lelang langsung bubar, sementara penggugat dan keluarga tidak diberi kesempatan untuk klarifikasi.

Viktor Nekur mengatakan, sesungguhnya sudah ada itikad baik dari penggugat dan keluarga untuk melunasi hutang Frans Molo sebelum lelang dilakukan. Dengan suasana itu, tutur dia, Tergugat I selaku penjual lelang sudah semestinya membatalkan proses lelang. Namun karena hal ini tidak dilakukan oleh Tergugat I, maka lelang tersebut harus dinyatakan tidak sah atau batal demi hukum.

Beberapa Keanehan

Dalam berkas gugatan setebal 9 halaman, terdapat beberapa keanehan yang menyertai persoalan Frans Molo. Antara lain diuraikan, ketika Didin pada sekitar tahun 2007 mendatangi Frans Molo untuk menawarkan peningkatan pinjaman sebesar Rp 30 juta sehingga menjadi Rp 80 juta. Waktu itu penggugat memberikan uang tunai Rp 1 juta kepada Didin tapi tanpa dibuatkan kuitansi penerimaan.

Keanehan lain, ketika tahun 2008 Didin menganjurkan lagi peningkatan pinjaman sebesar Rp 25 juta. Frans Molo menandatangani kuitansi penerimaan uang sebesar Rp 25 juta, tetapi hanya menerima Rp 2 juta saja, sedangkan Rp 23 juta langsung ditahan Tergugat I.

Posisi Hendrik Fernandes Aritonang selaku Tergugat IV juga merupakan keanehan yang lain. Dalam kapasitas sebagai Kapoklsek Alok yang merupakan anggota Polri, menurut ketentuan peraturan perundang-undangan tidak dibenarkan bertindak sebagai penerima kuasa dari Tergugat III untuk mengikuti lelang. Undang Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentangt Kepolisian Negara RI pasal 14 huruf (a) sampai (l), tidak ada satu pun ketentuan yang mengatur tugas dan kewenangan Polri untuk bertindak mewakili salah satu pihak dalam persoalan yang semata-mata berkaitan dengan kepentingan privat keperdataan seseorang.

Anehnya lagi, Tergugat III bukan peserta dan pemenang lelang, dan tidak mengenal Hendrik Fernandes Aritonang, bahkan belum pernah bertemu. Tergugat III justeru membeli tanah Frans Molo dari turut tergugat Anita Kusumawati Diaz seharga Rp 500 juta.

Frans Molo melalui penggugat berharap agar kasus ini segera disidangkan untuk mendapatkan keadilan. Sementara ini tercatat sudah lima orang pengacara yang berpraktik di Kabupaten Sikka yang menjadi kuasa hukum yakni Viktor Nekur, Anton Stefanus, Valens Pogon, Fransesko Bero, dan Marianus Laka. Penggugat membuka ruang bagi pengacara siapa saja yang berempati dengan masalah suaminya untuk ikut terlibat bersama-sama membantu mencarikan keadilan. (vicky da gomez)

Foto: Maria Nyoritaris Molo sedang mendaftarkan gugatan di Kantor Pengadilan Negeri Maumere, Selasa (26/7) siang.