Indonesia Urutan Ketiga Akses Situs Pornografi

by -28 views

Kupang, mediantt.com – Ini kabar mengejutkan. Saat ini, Indonesia masuk kategori darurat pornografi untuk anak. Bahkan Indonesia masuk urutan ketiga yang paling banyak mengakses situs-situs pornografi. Karena itu, Gereja dan pemerintah perlu memberikan perhatian serius terhadap masalah ini, terutama dalam pelayanan terbaik bagi anak.

“Saat ini Indonesia darurat narkoba, pornografi dan kekerasan seksual anak juga mengancam anak-anak di Indonesia. Selain itu, Indonesia juga darurat pornografi. Indonesia urutan ketiga paling banyak mengakses pornografi dan itu dilakukan oleh anak-anak kita,” ungkap Ketua Badan Pengurus Nasional Jaringan Peduli Anak Bangsa (JPAB), Haryati Kristianto, pada Seminar Kajian Teologi Anak Kontekstual dalam rangka Hari Anak Nasional 2016 yang digelar Jaringan Peduli Anak Bangsa (JPAB) Regional NTT, bekerjasama dengan Yayasan Wahana Visi Indonesia (WVI) di Kupang, Selasa (19/7).

Menurut dia, Gereja perlu mendorong pemerintah untuk melahirkan kebijakan-kebijakan yang mengatasi pornografi anak, maupun kekerasan seksual terhadap anak. Gereja juga, sebut dia, perlu berupaya menghentikan penyalahgunaan anak dalam politik juga adalah tindakan kekerasan. “Gereja perlu peduli terhadap kekerasan terhadap anak dalam politik. Eksploitasi anak untuk kepentingan politik adalah kekerasan pada anak,” tegasnya.

Keprihatinan terbesar juga, lanjut dia, adalah anak saat ini bukan hanya sebagai korban tetapi juga pelaku kekerasan. Atas keprihatinan itu, ia mengajak agar gereja meningkatkan pelayanan dan memberikan perhatian yang komperhensif bagi anak dalam seluruh kebijakan pelayanannya.

“Anak adalah manusia yang seutuhnya, bukan setengah atau seperempat manusia. Karena itu pelayanan untuk anak harus diberikan seutuhnya sebagai seorang manusia,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Sinode GMIT, Pdt. DR. Mery Kolimon mengatakan, didalam alkitab secara jelas ditegaskan bahwa anak itu adalah milik pusaka Allah, yang diciptakan sesuai gambar dan rupa Allah sendiri. Karena itu, jelas dia, dalam diri anak terdapat kapasitas Illahi serta Tuhan mempunyai rencana khusus untuk kehidupan setiap anak dan rencana Allah itu adalah rencana damai sejahtera. Namun dalam kenyataan, kata Kolimon, Gereja saat ini justru harus bergumul dengan pandangan budaya tentang anak. Bahkan pandangan budaya ikut mempengaruhi sikap gereja terhadap anak.

“Anak di NTT masih dianggap sebagai manusia kelas 3. Kelas teratas adalah laki-laki dewasa dan di tengahnya adalah perempuan dewasa dan anak berada pada level terendah. Bahkan anak masih ada pembedaan lagi yakni anak laki-laki yang dianggap lebih tinggi nilainya dibanding anak perempuan,” katanya.

Pendeta Kolimon juga menegaskan, tanggungjawab gereja, pemerintah dan masyarakat terhadap anak di NTT saat ini adalah memberikan pelayanan yang sepenuhnya bagi anak termasuk pengasuhan terhadap anak yang holistic, baik menyangkut hati, pikiran, mental, jiwa dan tubuh anak. “Anak bukan hanya sasaran pelayanan tetapi juga adalah pelaku pelayanan,” ujarnya.

Secara terpisah, General Manager WVI Zona Timor dan Sumba, Eninofa Rambe dan Manager WVI ADP Kupang, Raditya Paramandaru menjelaskan, kegiatan ini diharapkan membantu para pelayan di Gereja agar dapat memiliki pemahaman yang komperhensif tentang pelayanan yang berperspektif anak. Pelayanan bagi anak, kata Rambe, diharapkan komperhensif baik dari aspek teologis, budaya maupun hukum formal.

“Para hamba Tuhan, pendeta, pastor dan para pelayan di Gereja selama ini bukan tidak memiliki pemahaman tentang anak, tetapi kita berharap dengan kajian teologis anak kontekstual melalui materi-materi yang didiskusikan selama dua hari ini, dapat membuat pemahaman dan pelayanan mereka menjadi lebih komperhensif lagi bagi anak,” tambah Raditya.

Kegiatan yang hadiri utusan gereja-gereja dan organisasi peduli anak dari wilayah Timor, Sumba dan juga Alor ini, diharapkan memperkuat persamaan persepsi dan pemahaman dalam pelayanan terbaik bagi anak, baik dalam gereja maupun di tengah masyarakat. (*/jdz)

Foto : Ketua Sinode GMIT, Pdt. DR. Mery Kolimon.