Bapak Presiden, Tolong Bantu Bebaskan Keluarga Kami…

by -136 views

LARANTUKA – Keluarga korban sandera di Desa Laton Liwo, Kecamatan Tanjung Bunga, Flores Timur, tak pernah tahu-menahu informasi tentang anggotanya yang disandera kelompok militan di Perairan Sabah Malaysia, Sabtu (9/7) pekan lalu. Sebab, desa itu terisolir, tidak ada jaringan komunikasi, listrik pun tidak ada. Maka, ketika warga desa itu, terutama keluarga korban didatangi Dandim 1624 Flotim, Letkol Inf Dadi Rusyadi, Selasa (12/7) untuk menyampaikan kabar buruk itu, mereka menangis hsiteris. Mereka berharap Presiden Jokowi membantu membebaskan keluarganya yang disandera itu.

Dikutip dari cendananews.com, Yasinta Pusaka Koten, isteri korban penyanderaan Emanuel Arakian Maran, menangis histeris saat didatangi Dandim 1624 Flotim Letkol Inf. Dadi Rusyadi bersama Danramil 01 Larantuka Lettu Achmad Setiadji dan personil Kodim 1624 Flotim.

Sejak Dandim Rusyadi beserta camat Tanjung Bunga,Ramon Piran dan Kades Latonliwo Gaspar Balik Maran serta rombongan wartawan tiba di depan rumahnya, Yasinta beserta keluarga besarnya yang sudah menunggu menangis histeris. Ayah Laurens Koten, Mikael Pati Koten pun sesenggukan mengucurkan air mata.

Emanuel baru merantau ke Malaysia tanggal 19 Januari 2016. Kesulitan ekonomi membuat ia mencari kerja di Malaysia untuk membiayai sekolah putranya.

Anak semata wayangnya Bernadus Beda Maran, yang masih duduk di kelas 1 SMPN Tanjung Bunga 2 terlihat tertunduk lesu dan sesekali mengeluarkan air mata setelah melihat sang ibu yang terus menangis. “Suami saya pergi merantau karena kami sangat miskin jadi biar dia merantau supaya cari uang untuk biayai anak kami sekolah,” ujar Yasinta.

Menurut dia, dirinya mendapat informasi suaminya disandera dari Koramil karena di desa mereka tidak ada sinyal handphone dan televisi sehingga mereka tidak mengetahui informasinya.

Saat terakhir berbicara dengan suaminya lewat telepon, Emanuel menyuruh agar dirinya membuka rekening bank supaya sang suami bisa mengirimkan uang untuk biaya hidup dan sekolah anak semata wayang mereka.

“Waktu terakhir berbicara di telpon bapak sampaikan supaya kami buka rekening tapi saat kemarin disampaikan Koramil saya sangat sedih sekali dan tidak menduga suami saya bisa ditahan teroris,” ujarnya terbata-bata menahan tangis.

Sebagai isteri, sebut Yasinta, dirinya berharap Presiden Jokowi tolong membantu membebaskan suaminya serta saudaranya lain yang disandera agar bisa pulang ke kampung halaman. “Biar mereka pulang tidak bawa uang jug atidak apa-apa,” katanya.

Theodorus Sempat Menelpon  

Sementara itu, Margaretha Hading Hurit, istri Theodorus Kopong Koten mengakui, sebelum disandera Sabtu (9/7), suaminya sempat menelpon dan berbicara dengannya pada Rabu (7/7).

Theodorus menyampaikan bahwa mereka sedang libur lebaran dan hari Jumat (8/7) atau Sabtu (9/7) baru mulai melaut mencari ikan. Theodorus bekerja pada kapal ikan milik juragan Malaysia. “Makanya saat Danramil sampaikan suami saya disandera, say aheran dan tidak yakin karena baru tiga hari sebelumnya kami bicara ditelpon,” tutur Margaretha, Selasa (12/7)

Ia bercerita, sehari sebelum suaminya ditangkap, dirinya merasa malas beraktifitas dan perasaan bercampur aduk. “Selama seharian saya merasa gelisah dan tidak tenang,” ujarnya.

Margaretha yang pernah bekerja di Malaysia tahun 2010 sampai 2013 menjelaskan, suaminya sebelumnya pernah merantau ke Malaysia tahun 2010 dan kembali tahun 2015. Tanggal 4 Januari 2016 suaminya kembali ke Malaysia  guna mencari nafkah untuk menyekolahkan kedua anak mereka.

Theodorus merupakan anak kedua dari tiga bersaudara yang semuanya laki-laki. Ayahnya bernama Bernadus Besi Koten dan ibu (alm) Katharina Koti. Menurut sang istri, Theodorus memiliki sifat pendiam dan penurut dan sangat menyayangi kedua anaknya.

“Saya dan anak-anak meminta kepada pemerintah supaya suami saya cepat dipulangkan dengan selamat. Kami orang susah dan hidup terpencil,” harap dia.

Mengira Ditangkap

Ayah Laurensius Lagadoni Koten, Mikael Pati Koten, mengaku terkejut saat aparat Kodim 1624 Flotim mendatangi rumahnya di Dusun Baowolo, Desa Laton Liwo, Kecamatan Tanjung Bunga, Flores Timur, Senin (11/7/2016).

Mige, begitu ia biasa disapa, mengira dirinya akan ditangkap tentara dan sempat berpikir kesalahan apa yang dilakukan sehingga dicari aparat keamanan. Saat ditanyakan apakah dirinya ayah dari Laurens Koten, Mige menjawab iya.

“Saya sempat takut dan mengira akan ditangkap tentara. Saat diberitahukan anak saya disandera teroris, saya langsung menangis,” katanya.

Mige yang ditemui wartawan di rumahnya Selasa (12/7) mengakui, Laurens merupakan anak sulung dari istri pertamanya yang berasal dari Desa Nobo, Kecamatan Ile Bura. Ia menjelaskan, Laurens  sudah belasan tahun merantau ke Malaysia. Tiba di Malaysia Laurens tidak memberi kabar dan kebetulan keluarga di Nobo berada bersama dengannya di Malaysia sehingga Mige pun memperoleh nomor telepon anaknya.

“Pada Agustus 2015, dia pulang ke kampung sekitar bersama istri dan ketiga anaknya,” ujarnya.

Setibanya di Desa Laton Liwo, anak pertama dan kedua Laurens disekolahkan di SDK Kotenwalang, sementara anak bungsu bersama istrinya pulang ke Malaysia. “Tanggal 9 Juni 2016, anak saya pulang dan membawa istri dan ketiga anaknya ke Toraja untuk melihat orang tua istrinya,” tuturnya.

Rencananya tanggal 14 Juli 2016, istri Laurens dan kedua anaknya akan ke Desa Laton Liwo  supaya anaknya bisa bersekolah disini. “Kalau bisa Presiden Jokowi selamatkan anak saya, biar dia pulang tidak bawa uang juga tidak apa-apa,” katanya menahan haru.

Data yang diterima diperoleh dari Kades Laton Liwo, korban  Emanuel Arakian Maran lahir 19 Desember 1970, beragama Katholik dan bekerja sebagai petani. Ia beralamat di Desa  Laton Liwo RT 006 RW 003, Kecamatan Tanjung Bunga, yang mempunyai istri bernama Yasinta Pusaka Koten dan seorang anak bernama Bernadus Beda P. Maran (13).

Korban kedua, Laurensius Lagadoni Koten, lahir 21 Juli 1982, berdomisili di RT 006 RW 003, Kecamatan Tanjung Bunga. Laurens sapaannya memiliki isteri yang berasal dari Toraja bernama Resiana Piter dan memiliki 3 orang anak.

Korban ketiga, Theodorus Kopong Koten, kelahiran 25 Nopember 1970, beralamat di RT 001/RW 001, Kecamatan Tanjung Bunga. Theodorus mempunyai istri bernama Margareta Hading Hurit dan dua orang anak yakni Lukas Liku Koten (13) dan Katrina Mutang Koten (10).

Ketiga korban penyanderaan ini masih mempunyai hubungan keluarga atau masih bersaudara dan berasal dari Desa Laton Liwo. Mereka berangkat bersama-sama ke Malaysia pada 4 Januari 2016 menumpang kapal Pelni dari Pelabuhan Laut Larantuka.

Kades Gaspar berharap Presiden bisa mengerahkan segala upaya agar para sandera yang adalah warganya bisa diselamatkan. “Saya harapkan para sandera bisa dibebaskan dengan selamat sehingga bisa kembali berkumpul bersama keluarag di kampung halaman,” begitu harap Kades Gaspar. (ebed de rosary/jdz)

Foto : Dandim 1624 Flotim, Letkol Inf Dadi Rusyadi bersama keluarga korban penculikan di Desa Laton Liwun, Kecamatan Tanjung Bunga, Flores Timur. (Foto : ebd de rosary)