Pemerintah Berkomitmen Penuh Bangun Flores

by -22 views

JAKARTA – Penetapan Labuan Bajo sebagai satu dari sepuluh destinasi unggulan atau prioritas menunjukkan komitmen pemerintah membangun Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemerintah yakin, pariwisata mampu mendongkrak ekonomi Flores.

“Pariwisata adalah cara termudah dan termurah untuk menggerakkan ekonomi,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya pada acara pemberian award kepada para pemenang lomba penulisan, foto, video, dan blog tentang pariwisata Flores. Lomba yang digelar sebagai kegiatan pasca-Tour de Flores (TdF) ini menghimpun 587 karya, terbanyak adalah foto dari kalangan peserta umum.

Di antara sejumlah ikon pariwisata yang bertebaran di Flores, pemerintah memilih komodo sebagai ikon karena di kawasan ini terdapat biawak atau buaya darat komodo, satu-satunya di dunia, laut yang cocok untuk diving, dan panorama Taman Nasonal Komodo (TNK) yang indah. TNK terbentang di perairan seluas 173.000 hektare yang melingkupi 150 pulau. Komodo mendapatkan peringkat kedua diving terbaik di dunia setelah Rajaampat versi CNN.

Labuan Bajo adalah gateway atau pintu gerbang bagi wisatawan ke TNK dan ke wilayah Flores lainnya. Sail Komodo yang digelar 2013 mampu mendongkrak pariwisata ke TNK. Sedang dengan TdF, dunia diajak melihat daerah tujuan wisata lainnya di Flores. Wisatawan yang senang dengan maritime tourism akan datang ke Labuan Bajo untuk selanjutnya ke TNK. Sedangkan yang ingin melihat wilayah ikon wisata lainnya akan menyusuri daratan Flores hingga perairan Flores di bagian timur dan Lembata.

Di Flores ada Kelimutu, perkampungan tradisional Bena dan Waerebo. Ada atraksi whale watching atau menonton ikan paus dan wisata religi Samana Santha. “Dengan memilih Komodo sebagai ikon pariwisata sama sekali pemerintah tidak mengabaikan ikon lainnya,” ujar Menpar.

Pemerintah yakin, dengan membangun Labuan Bajo sebagai gateway dan Komodo sebagai ikon, wilayah Flores lainnya akan ikut terbangun. Selambatnya, kuartal ketiga 2016, Otorita Wisata Labuan Bajo terbentuk. Saat ini, pemerintah sedang melakukan pembebasan tanah untuk pembangunan amenitas dan lahan untuk pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK). Setiap pembentukan otorita akan diikuti oleh pembentukan KEK agar ada dampak ekonomi yang segera bisa dirasakan masyarakat. Amenitas adalah fasilitas penunjang kegiatan pariwisata, mencakup hotel, restoran, marina, air bersih, listrik, tempat dan lokasi pengolahan sampah, dan rest area.

Pembentukan Otorita Wisata Labuan Bajo juga dilengkapi oleh infrastruktur transportasi, udara, laut, dan darat. Landasan pacu Bandara Komodo yang saat ini 2.250 meter akan diperpanjang menjadi sedikitnya 2.500 meter agar sesuai standar internasional. Saat ini, dengan runway 2.250 meter, Bandara Komodo sudah bisa disinggahi pesawat ukuran menengah seperti A-320, B-737-800, dan B-737-900.

Pariwisata, kata Menpar, adalah kegiatan investasi yang paling cepat menghasikan uang dan berdampak besar pada pendapatan rakyat. Setiap masuknya devisa, dampak bagi pendapatan produk domestik bruto (PDB) atau produk domestik regional bruto (PDRB) mencapai 1,7 kali. Jika ada devisa masuk US$ 100.000, dampaknya terhadap PDB atau PDRB sebesar US$ 170.000.

Di saat ekspor Indonesia menurun akibat perlambatan ekonomi dunia, pariwisata menjadi salah satu solusi. “Pariwisata adalah (devisa) ekspor yang diterima di Indonesia. Kalau ekspor, kita menerima devisa di luar negeri. Dengan pariwisata, kita menerima devisa di sini, di negeri ini,” ungkap mantan dirut PT Telkom Tbk itu.

Pariwisata adalah investasi yang paling cepat menghasilkan uang dan menyerap tenaga kerja. Dengan modal beberapa puluh juta rupiah, sebuah biro perjalanan yang melayani perjalanan wisatawan sudah bisa beroperasi. Penjualan makanan dan minuman serta suvenir akan laris. Hotel dan restoran akan bertumbuh.

“Pariwisata sudah terbukti menyerap banyak tenaga kerja dan kini menjadi salah satu solusi untuk menurunkan angka pengangguran di Tanah Air yang masih tujuh juta,” papar Menpar.

Dengan jumlah penduduk miskin besar, kata Menpar, Flores membutuhkan pariwisata. Data BPS menunjukkan, pada tahun 2013, PDRB delapan kabupaten di Flores rata-rata Rp 2,4 juta. PDRB Manggarai Timur hanya Rp 1,6 juta, Manggarai Rp 2,1 juta, dan Manggarai Barat Rp 1,8 juta. Kabupaten di Flores dengan PDRB tertinggi adalah Ende Rp 3,2 juta, Sikka Rp 3 juta, dan Ngada 2,9 juta. Rata-rata PDRB NTT tahun yang sama sebesar Rp 3 juta, sedang rata-rata PDB Indonesia Rp 36,5 juta.

Event seperti TdF, demikian Menpar, sangat penting untuk mendongkrak pariwisata. Lewat sport tourism event, Flores mendapat promosi besar-besaran. Pemberitaan media massa dan media sosial sangat gencar. Selama lima hari TdF, 19-23 Mei 2016, kegiatan TdF menjadi trending topic di media sosial.

Pada tahun 2015, jumlah wisatawan yang mengunjungi Komodo 95.000 orang di antaranya 76.195 wisman. Jumlah ini meningkat dari tahun 2014 saat jumlah wisatawan 80.625 di antaranya 67.000 wisman. Jumlah wisatawan ini, kata Menpar, meningkatkan karena promosi, antara lain, promosi yang dipicu Sail Komodo 2013. TdF diyakini bakal mendongkrak jumlah wisman.

Dia mengimbau para kepala daerah dan kepala dinas pariwisata di Indonesia memberikan prioritas pada pemberitaan pariwisata dan event. Dari total dana pariwisata, 90% hendaknya digunakan untuk promosi, termasuk pemberitaan. (sp/jdz)

Foto : Menteri Pariwisata,  Arief Yahya.