Tak Ada Bupati di NTT Seperti Bupati Sabu Raijua

by -49 views

Delo, mediantt.com – Kinerja Bupati Sabu Raijua, Marthen Luther Dira Tome, yang terus memberikan harapan kepada rakyat, mendapat apresiasi yang luar biasa dari berbagai kalangan. Salah satunya, dari perwakilan Kepala Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara Timur II, Roy Kale. Ketika bersama Bupati Dira Tome melakukan panen padi bersama, dengan lugas ia mengatakan, tidak ada bupati di NTT seperti bupati Sabu Raijua.

“Dengan pengalaman dari kabupaten ke kabupaten, urusan pembangunan embung, tidak ada bupati seperti bupati Sabu Raijua. Sebab, ada kabupaten yang ada air embugnya, tapi tidak ada hasilnya. Andaikata mereka belajar dari Sabu, maka mungkin NTT akan luar biasa pangannya,” kata Roy Kale saat panen padi Huli, Desa Delo, Kecamatan Sabu Barat, Rabu (8/6).

Ia menjelaskan, pada Selasa (7/6), Bupati Dira Tome meletakan batu pertama pembangunan embung serba guna Huli, Desa Delo, Kecamatan Sabu Barat. “Hari ini kita bersama pa Bupati panen padi. Sebenarnya di tempat ini tidak akan ada panen padi diatas bentangan lahan seluas 25,5 ha ini. Jika Bupati Sabu Raijua tidak gigih memperjuangkan embung ke 8 ini secara langsung ke menteri pada akhir tahun 2015. Dan, berkat kegigihan, keras kepala dan ngototnya Bupati Sarai, di depan menteri bersama kepala balai saat itu, Dira Tome mengatakan kepada menteri bahwa masyarakat Sabu Raijua butuh air dan butuh makan,” katanya.

Lantas, dengan presentasi yang meyakinkan menteri, meski waktu saat itu sudah sangat mepet karena di penghujung tahun untuk bisa loloskan anggaran pusat. tetapi karena ngotonya Bupati Dira Tome, akhirnya mampu menjebol dana pusat tersebut bawa ke Sabu Raijua. Maka, jadilah embung Maare Eppunoa, dengan kapasitas tampung 600 ribu m3 dan mampu mengairi ratusan hektar sawah, kebun. bahkan untuk mandi cuci, dan keperluan lainnya,” tegasnya.

Ketua DPRD Sabu Raijua, Paulus Rabe Tuka, bupati sudah kerja keras memajukan daerah dan mensejahterakan rakyat. “Masyarakat supaya merelakan lahan-lahannya dan berkorban demi mendukung Pmda Sabu Raijua membangun daerah ini,” kata Rabe Tuka.

Ia juga mengingatkan masyarakat Sabu Raijua, untuk tinggalkan kepentingan sesaat, mari kita menata kebersamaan dan keberlanjutan kepentingan yang lebih besar dan berguna demi kesejahteraan Sabu Raijua ke depan. “Kita pernah ribut dengan bupati, karena masyarakat menolak pembangunan embung Guriola. Ternyata setelah embung jadi, masyarakat juga yang menikmati. Hari ini kehadiran kami pimpinan DPRD beserta anggota memperlihatkan kepada masyarakat bahwa marilah kita rujuk dan rajut kebersamaan demi sarai yang Mira Kaddi Hari,” tandas Ketua DPRD Sabu Raijua pada acara panen padi bersama di Embung Maare Eppunoa, Kecamatan Liae, Rabu (8/6).

Bangun 500 Embung

Sementara itu, Bupati Marthen Dira Tome mengajak semua pihak agar orang Sabu tidak lagi melihat ke belakang, tetapi mari kita lihat ke depan, songsong hari esok nan cerah. “Perbedaan boleh ada, tetapi saling dendam, dan saling memotong diantara kita. Tidak boleh ada. Kita jangan mau diprovokasi orang luar. Sebagai bupati saya juga punya banyak kekurangan, marilah saudara-saudara melengkapinya demi Sabu Raijua.” katanya.

Dira Tome pun menjelaskan, Sabu Raijua setiap tahun kekurangan pangan 6-7 ribu ton. Alasannya, karena Sabu Raijua kekurangan air, musim hujan kita berkisar tiga bulan, musim kering 9 bulan, maka solusinya bangun embung dimana-mana. “Tahun ini kita bangun kurang lebih 500 embung. karena itu tiap desa dari Dana Desa tambah dengan ADD per desa, dibangun 8 embung, agar ketahanan juga pembukaan lapangan kerja baru, peningkatan pendapatan masyarakat. pemenuhan tuntutan hidup layak, gizi masyarakat, mutu SDM anak-anak kita untuk generasi unggul kedepan ditata dari sekarang, sebab masyarakat punya pendapatan ekonomi yang bagus. Karenanya, obsesi besar pemda Sarai tahun 2018, sarai dapat memenuhi pangannya sendiri.

Ia juga mengatakan, Presiden di depan para bupati mengatakan, NTT tidak akan pernah jadi apa-apa jika tidak ada air, dan setiap bupati harus peka dan jeli melihat masalah ini, harus mampu melakukan terobosan, berinovasi membangun daerahnya.

Bupati Dira Tome menambahkan, masalah kemiskinan adalah masalah harga diri. Untuk apa jadi Bupati atau Gubernur jika beras miskin yg kita andalkan dan banggakan. Bila perlu yg kita usulkan terima beras miskin diganti saja dgn terima dana miskin. karna jika kita terima beras raskin, kita tdk punya pilihn, dikasi beras kotor atau rusak ya kita terima saja, namanya juga nasib si miskin.

“Tapi jika kita terima dana miskin kita punya banyak pilihan, dana itu bisa kita manfaatkan untuk beli sembilan bahan pokok sesuai kebutuhan. Saya berharap, dua atau tiga tahun ke depan masalah pendidikan, Kesehatan, Ekonomi dan Infrastruktur kita sudah jauh lebih baik dari sekarang. Masyarakat, kalangan dunia usaha, mari bersama pemerintah dan DPRD Sabu Raijua, kita berjuang dengan kerja keras untuk membangun Sabu Raijua yang inovatif, maju dan bermartabat,” tandas Dira Tome. (jdz)

Foto : Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome, Ketua DPRD Sarai, Paulus Rabe Tuka, dan staf lain sedang memanen padi di Liae.