Pesan Gubernur NTT, Jadikan Pawai Paskah Bahan Refleksi

by -23 views

Kupang, mediantt.com – Pawai paskah yang digelar setiap tahunnya oleh umat kristiani di Kota Kupang menjadi suatu moment penting. Namun, pawai paskah yang ke-XX ini jangan hanya dijadikan sebagai kegiatan rutinitas setiap tahunnya, tapi pawai paskah harus dijadikan bahan refleksi bagi umat kristiani.

“Saya minta umat kristiani di Kota Kupang jangan hanya jadikan pawai paskah ini sebagai kegiatan rutin saja, tapi kalau bisa dijadikan sebagai bahan refleksi,” kata Gubernur NTT, Frans Lebu Raya ketika melepas para peserta pawai, Senin (28/3).

Selain itu, kata Frans, umat kristiani di Kota Kupang dapat menjadikan pawai paskah sebagai ajang silaturahmi untuk menjaga kerukunan antar umat beragama di Kota Kupang bahkan NTT.

Menurut Lebu Raya, paskah merupakan suatu pengorbanan dengan komitmen menyingkirkan beban dosa. Ia juga meminta agar masyarakat NTT dapat terbuka dengan pemerintah.

“Pemerintah NTT menginginkan daerah ini maju, salah satunya melalui wujud pembangunan, dan banyak pihak yang ingin membangun NTT melalui investasi, sehingga masyarakat jangan cepat berpikir negatif terhadap para investor yang memiliki rencana pembangunan di NTT,” tegasnya.

Masyarakat NTT, menurut dia, tidak boleh berpikir negatif dan apriori, tapi harus berani membuka diri dalam menerima setiap perubahan positif terhadap pembangunan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Lebu Raya juga meminta agar masyarakat NTT menghindari paham radikal, terorisme, termasuk ISIS dan gerakan lainnya yang sangat merajalela di NTT.

Gubernur berharap, masyarakat NTT harus tetap menjaga situasi aman dan damai, dan tetap bersatu dalam keberagaman, sehingga akan mampu mengantisipasi setiap konflik.

Ketua Sinode GMIT, Pdt Merry Kolimon mengatakan, moment paskah bukan sekedar perayaan tahunan, tapi menjadi tahun refleksi bagi umat kristiani untuk membuka lembaran baru.

“Paskah merupakan pertobatan dan penebusan bagi umat manusia, sehingga kita pun harus mampu meninggalkan perbuatan lama, dan memulai hidup baru di dalam Kristus,” katanya.

Menurut dia, paskah ini lebih memberi makna akan hidup bersatu di tengah keberagaman, saling menghargai dan menghormati antar umat beragama, dan inilah kekuatan besar dalam mewujudkan persatuan bangsa.

Pantauan wartawan, peserta pawai paskah yakni GMIT Klasis Semau yang menceritakan tentang sengsara salib. Dalam penampilannya, GMIT Klasis Semau menampilkan alat musik tiup khas masyarakat Helong bernama Kliung Pola, yang berbentuk suling panjang yang terbuat dari lontar.
Penampilan tarian Lufuk yang diperankan sekitar 100 orang pemuda jemaat Klasis Semau, disertai lantutan pantun khas suku Helong.

Ada 121 peserta pawai, diantaranya Gereja GMIT, GBI, Dedominasi, Persekutuan Doa, Organisasi Pemuda Lintas Agama, Pengusaha, serta partisipan lainnya yang sangat menghibur.

Para peserta pawai paskah juga wajib memerankan adegan yang menceritakan setiap bagian Alkitab, mulai dari penciptaan, manusia jatuh dalam dosa, dan kisah perjanjian lama, serta kitab perjanjian baru, diantaranya kelahiran, kematian, kebangkitan, dan Kenaikan Kristus ke Surga, serta hari Pencurahan Roh Kudus. (che)

Foto : Peserta pawai Paskah 2016