Tradisi Logu Senhor di Kampung Sikka Mulai Diminati Peziarah

by -92 views

Maumere, mediantt.com – Ratusan peziarah datang dari berbagai pelosok di Kabupaten Sikka, Jumat (25/3), memadati Kampung Sikka, Kecamatan Lela. Para peziarah hendak mengikuti tradisi Logu Senhor yang bertepatan dengan Jumat Agung, peringatan hari kematian Yesus Kristus. Data menunjukkan tradisi ini sudah semakin diminati dari tahun ke tahun.

Untuk tahun 2016, peziarah yang terdaftar sebanyak 516 orang, belum terhitung umat Paroki St. Ignatius Loyola, selaku tuan rumah Logu Senhor. Data jumlah peziarah ini direkam oleh OMK Paroki St. Ignatius Loyola Sikka. Setiap peziarah mendaftar pada Sekretariat Panitia dengan membayar biaya Rp 10.000, dan diberikan tanda pengenal.

Jika diakumulasi, umat yang mengikuti Logu Senhor Jumat malam itu bisa lebih dari 1.000 orang. Ini bisa dilihat dari kapasitas Gereja Tua Sikka yang penuh sesak dengan umat, bahkan umat meluber sampai ke halaman gereja.
Ketua Panitia Logu Senhor Thomas Aquino mengakui lonjakan jumlah peziarah di tahun ini. Dia membandingkan tahun lalu, peziarah yang terdaftar hanya 300-an orang lebih. Pada tahun-tahun sebelumnya jumlah peziarah masih terbilang kecil.

Logu Senhor adalah sebuah ritus Katolik peninggalan Portugis. Tradisi ini sudah dilaksanakan beratus-ratus tahun, dan hanya ada di Kampung Sikka. Karena itu, biasanya ritus ini hanya diikuti oleh umat dalam Paroki Sikka. Beberapa tahun terakhir, persisnya sejak 1997 ritus ini mulai menguat ke luar dan mendapat minat tinggi para peziarah di Kabupaten Sikka. Bahkan banyak sekali umat Paroki Sikka yang sudah berdomisili di luar, setiap tahunnya hadir mengikuti tradisi ini.

Awalnya seluruh ibadah termasuk nyanyian masih menggunakan bahasa Portugis. Namun belakangan ini mulai digunakan bahasa Indonesia, kecuali untuk beberapa bagian yang masih tetap dipertahankan.
Menurut Tamela Karwayu, salah seorang tokoh adat di Kampung Sikka, logu senhor artinya berjalan menunduk di bawah salib Yesus. Salib Yesus ini diletakkan di atas sebuah tandu, yang diusung oleh empat orang petugas. Alkisah, salib Yesus ini dibawa dari Portugis sekitar tahun 1600 oleh Raja Sikka bernama Don Alexius Ximenes da Silva atau yang biasa disebut Don Alesu.

Salib Yesus ini berukuran mini dengan panjang 75 centimeter. Salib ini disimpan pada Kapela Senhor yang letaknya sebelah kiri Gereja Sikka. Tidak sembarang orang dapat masuk ke Kapela Senhor, kecuali turunan Darabogar yang disebut-sebut sebagai pengawal raja. Kapela Senhor itu sendiri baru dibangun pada tahun 1997. Sebelum ada Kapela Senhor, salib Yesus tersebut disimpan di saktisti.

Seperti disaksikan mediantt.com, tradisi Logu Senhor ini disatukan dengan drama penyaliban Yesus dari armida ke armida. Upacara sakral ini dimulai pukul 15.30 Wita di Gereja Sikka yang sudah berumur 117 tahun. Pastor Paroki Romo Felix Rongeytu memimpin upacara ini, didampingi Pater Wilhem Djulei Conterius hingga berakhirnya proses ini pada Sabtu (26/3) dinihari sekitar pukul 01.00 Wita.

Setelah ibadah sabda, baru sekitar pukul 18.00 Wita salib Yesus dikeluarkan dari Kapela Senhor, diiringi 10 perempuan yang menutup seluruh tubuh mereka  dengan baju berwarna hitam. Salib Yesus itu kemudian diusung hingga ke altar gereja, untuk selanjutnya diserahkan turunan Darabogar kepada gereja guna dimulainya tradisi Logu Senhor.

Dalam catatan mediantt.com, logu senhor dilakukan sebanyak tujuh kali, yakni pembukaan dan penutupan di gereja, dan masing-masing sekali di lima arimida yang dilalui umat. Tampak umat begitu kusyuk saat berjalan menunduk di bawah salib Yesus. Tidak jarang ada yang sampai meneteskan air mata.

Setiap kali melakukan logu senhor, umat boleh mendaraskan dalam hati ujud-ujud pribadinya. Menurut banyak kesaksian, jika tradisi ini dihayati dengan penuh iman maka ujud-ujud pribadi dapat terwujud sesuai permintaan. (vicky da gomez)

Foto: Peziarah dan umat Paroki St. Ignatius Loyola Sikka sedang mengikuti tradisi Logu Senhor di Kampung Sikka, bertepatan dengan Jumat Agung memperingati wafatnya Yesus Kristus, Jumat (25/3).