Jejak Sesungguhnya Prosesi Jumat Agung di Larantuka

by -192 views
Budi Dharmawan / bud000dha@yahoo.com

Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah sudah ada yang bergeser dari nilai-nilai Semana Santa yang berpuncak pada Prosesi Jumat Agung di Kota Larantuka itu? Nilai-nilai Semana Santa tidak berubah, tapi dalam pelaksanaannya, ada tambahan-tambahan yang sepatutnya tidak pantas untuk dilakukan. Bagaimana jejak sesungguhnya Prosesi Jumat Agung di Kota Larantuka itu?

LARANTUKA – Sejak abad ke-17, umat Katolik di Larantuka yang kini menjadi Ibu Kota Kabupaten Flores Timur di ujung timur Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) itu, sudah menggelar Prosesi Jumat Agung.

Tradisi keagamaan ini dilakukan setiap tahun oleh umat Katolik setempat menjelang Hari Raya Paskah yang dikenang umat Kristiani sejagat sebagai Kebangkitan Yesus Kristus, setelah tiga hari wafat di Kayu Salib. Prosesi Jumat Agung untuk tahun ini, akan berlangsung pada 25 Maret 2016.

Umat Katolik dari seluruh penjuru Nusantara, termasuk di antaranya Menteri Perhubungan Ignatius Jonan dan juga mancanegara, akan ‘menyemut’ di Kota Larantuka untuk mengikuti Prosesi Jumat Agung nan abadi, dengan mengarak Patung Bunda Maria (Tuan Ma), pelindung Kota Larantuka, mengelilingi kota kecil di bawah kaki gunung Ile Mandiri itu.

Larantuka, yang hanya dibatasi oleh Selat Gonzalu yang memisahkan Flores Timur daratan dengan Pulau Adonara itu, mulai terasa sunyi dan sepi dari ingar bingar kehidupan kota sejak Kamis Putih. Dalam tradisi Gereja Katolik, Kamis Putih dikenang sebagai “Perjamuan Malam Terakhir” antara Yesus Kristus dengan 12 orang murid-Nya, sebelum wafat di Kayu Salib.

Tradisi keagamaan yang dikenal dengan sebutan Prosesi Jumat Agung itu dimulai sejak abad ke-17, setelah dinasti ke-11 Raja Ola Adobala dibaptis menjadi awam Katolik oleh Fransisco SJ, seorang imam Katolik asal Portugis pada tahun 1645.

Penguasa Kerajaan Larantuka dari dinasti ke-11 Raja Ola Adobala itu kemudian diberi nama Don Fransisco Ola Adobala DVG (Diaz Vieira de Godinho). Don Fransisco Ola Adobala begitu yakin dan percaya kepada Bunda Maria setelah ditemukan sebuah patung (arca) di Pantai Ae Konga Larantuka sekitar abad ke-15.

Patung tersebut, menurut Raja Larantuka Don Andre Martinus DVG (69), sempat menunjukkan jati dirinya dengan menulis namanya “Santa Maria Reinha Rosari” di pantai itu dengan siput. Patung itu, pertama kali ditemukan oleh Resi, seorang penduduk setempat. Resi, kemudian melapor hasil temuannya itu ke Raja Larantuka yang pada masa itu dikenal dengan sebutan “Kelake Kabelen Lewo”.

Kelake Kabelen Lewo kemudian bersama para kepala kampung menuju ke Pantai Ae Konga untuk melihat patung tersebut. Sosok dari patung itu, ujar Don Martinus DVG, tampak seperti seorang bidadari yang begitu anggun dan menawan. Kelake Kabelen Lewo bersama para kepala kampung kemudian membawa patung tersebut dan meletakkannya di Korke Bale atau rumah adat raja.

Ketika sampai di rumah adat, ujar pria kelahiran Larantuka, 23 Juli 1947 itu, tulisan “Santai Maria Reinha Rosari” di pasir sebagai mana dilukiskan oleh Resi itu, tersusun kembali di rumah adat raja. “Ini fakta sejarah dari sebuah kisah panjang tentang Patung Tuan Ma (Santa Maria) yang menjadi pelindung Kota Larantuka, sampai saat ini,” katanya.

Don Fransisco Ola Adobala DVG, begitu yakin dan percaya kepada Bunda Maria sehingga menyerahkan tongkat kerajaan, mahkota dan rosario yang diberikan Pastor Fransisco SJ kepada Santa Maria Reinha Rosari, dan mengatakan “Engkaulah raja kami. Keturunan kami hanya sebagai pelaksana-Mu di dunia ini”.

Raja Don Fransisco Ola Adobala, akhirnya menyerahkan seluruh wilayah kerajaan dan umat yang ada dalam wilayah kerajaan tersebut ke dalam kekuasaan Bunda Maria, yang kemudian dinobatkan menjadi Ratu Kerajaan Larantuka. Dengan demikian, raja bertitah berdasarkan ilham dari Bunda Maria.

Berdasarkan tradisi tersebut, para pemangku devosi (kebaktian khusus) kepada Bunda Maria, seperti raja, conferia (perkumpulan persaudaraan rasul awam) dan suku-suku semana, yang berperan penting dalam pelaksanaan prosesi tersebut, sebab raja memegang kekuasaan tertinggi dari organisasi Conferia Reinha Rosari Laratuka berdasarkan statuta Uskup Larantuka (waktu itu) Mgr Hendrikus Leiven SVD tanggal 25 Juni 1947, serta menjadi ketua suku-suku semana dan ketua suku raja Ama Koten.

Lalu, yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah sudah ada yang bergeser dari nilai-nilai Semana Santa (pekan suci) yang berpuncak pada Prosesi Jumat Agung nan abadi di Kota Larantuka itu? “Nilai-nilai Semana Santa memang tidak berubah, namun dalam pelaksanaannya ada tambahan-tambahan yang sepatutnya tidak pantas untuk dilakukan,” kata Raja Larantuka Don Andre Martinus DVG.

Tambahan yang tidak patut tersebut, karena ritual Semana Santa itu sudah digiring ke wilayah wisata religi, sehingga yang lebih dominan dalam prosesi ritual keagamaan itu pemerintah dan gereja. “Semana Santa ini bukan milik pemerintah maupun gereja, tetapi kami sebagai pemangku devosi dari tiga pilar tersebut, yakni raja, conferia dan suku Semana,” ujarnya.

Budayawan asal Larantuka, Bernadus Tukan (57) juga tidak sependapat jika Prosesi Jumat Agung yang merupakan rangkaian dari Semana Santa itu dijadikan sebagai objek wisata religi untuk memenuhi selera wisatawan.

“Saya masih ingat pernyataan Uskup Larantuka Mgr Darius Nggawa SVD pada tanggal 4 November 1990, ketika menjawab pertanyaan saya soal Semana Santa dijadikan sebagai objek wisata religi. Dengan tegas Uskup Darius mengatakan, jangan pernah mengubah tradisi demi selera turisme”.

“Lakukan tradisi itu seperti apa yang kita yakini, biarlah orang datang untuk mengikuti ritual keagamaan tersebut, tetapi jangan sekali-kali mengubah tradisi tersebut demi sebuah selera. Ini kata kunci yang menjadi pegangan saya sampai saat ini,” ujar pria kelahiran Larantuka pada 23 November 1959 tersebut.

Dalam tradisi Semana Santa di Kota Reinha Rosari Larantuka itu, prosesi melalui laut dengan ratusan kapal motor dan perahu untuk mengantar Patung Yesus yang wafat di Salib (Tuan Meninu) dari Kota Rewido Sarotari menuju Pante Kuce di depan istana Raja Larantuka, dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan tradisi mengantar laskar laut seperti pada masa lalu.

“Saya sudah mengajak para pelaku devosi di Kapela Tuan Meninu untuk kembali ke tradisi, dimana perahu yang mengantar Patung Yesus wafat di Salib itu hanya dengan sebuah sampan (berok) dengan menyusuri perairan pantai menuju Pantai Kuce. Kapal serta perahu yang berjumlah ratusan itu, tidak perlu ikut terlibat,” ujar Raja Larantuka.

Sesuai dengan tradisi, yang duduk mendampingi Patung Tuan Meninu dalam perahu atau berok tersebut adalah para pemangku devosi sebagai hamba yang melayani. Tetapi yang terjadi saat ini, justru bupati yang duduk mendampingi Patung Tuan Meninu hanya karena alasan dirinya seorang kepala daerah.

“Jika kita memahami sejarahnya, sebenarnya bupati tidak boleh duduk di berok tersebut, karena dia bukan pemangku devosi. Ini sebuah kekeliruan besar yang perlu diluruskan agar nilai tradisi dari prosesi tersebut tetap terjaga. Pada masa lalu, umat berjalan sepanjang pantai sambil berdoa dari Kapel Tuan Meninu sampai ke Pante Kuce,” ujarnya.

Tradisi semacam inilah, tambah Bernadus Tukan, harus dipertahankan karena memiliki nilai jual lebih tinggi bagi wisatawan, jika bandingkan dengan mengerahkan ratusan kapal motor dan perahu menyeberangi Selat Gonzalu yang ganas itu sebagai pengawal perahu yang mengantar Patung Tuan Meninu menuju Pantai Kuce di jantung kota Larantuka.

Tragedi terbaliknya sebuah kapal peziarah pada pelaksanaan prosesi laut 2014 yang mengakibatkan tujuh orang meninggal dunia itu, sebenarnya menjadi sebuah catatan kritis untuk mengintrospeksi, apakah prosesi laut dengan melibatkan ratusan armada kapal dan perahu itu sudah sesuai dengan tradisi.

“Semana Santa ini adalah sebuah devosi kepada Bunda Maria pelindung Kota Larantuka. Ini harus kita pahami, sehingga peran gereja lebih tertujuh pada upaya pemurnian tradisi itu sendiri. Antara pelaku tradisi dan gereja harus mencari apa yang menjadi kebutuhan umat agar kita tetap berada pada jalur tradisi seperti yang telah dikatakan oleh Mgr Darius Nggawa SVD,” kata Bernadus Tukan. (bc/ant/jdz)

Foto : Patung Tuan MA yang diarak pada setiap Prosesi Jumat Agung di Kota Larantuka. Jejak tradisinya harus diluruskan kembali.