Kasus Gudang Veem Terus Berultah, Kenapa Belum Terungkap

by -35 views

Maumere, mediantt.com Kasus dugaan korupsi Pembangunan Gudang Veem dan Pelataran Parkir di Kabupaten Sikka hingga kini tidak jelas penanganannya, dan terus berulang tahun. Meski sudah ada pergantian 4 Kapolres Sikka dan 7 Kasat Reskrim, kasus yang diselidiki sejak 2010 ini seolah lenyap dimakan bumi. Mengapa belum bisa terungkap?

Sebelumnya, dalam press release yang diterima mediantt.com melalui surat eletronik, Senin (29/2), Ketua Tim Pembela Demokrasi Indonesia Wilayah NTT Meridian Dewanta Dado menyebut beberapa proyek bermasalah di Kabupaten Sikka, antara lain Pembangunan Gudang Veem Pelataran Parkir di Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika.

Dalam catatannya, kasus dugaan korupsi ini seharusnya sudah pantas naik ke proses penuntutan, tetapi justeru diulur-ulur proses hukumnya. Dia pun mensinyalir ada mafia yang membungkus, sehingga pelbagai proyek bermasalah terus mengendap termasuk dugaan korupsi gudang veem.

Data yang dihimpun mediantt.com, Proyek Pembangunan Gudang Veem dan Pelataran Parkir sudah masuk ke Polres Sikka sejak tahun 2010. Sampai 15 Juli 2014, kasus proyek ini masih teregister pada papan laporan kepolisian di Unit Tipikor Reskrim Sikka. Namun belakangan ini, kasus tersebut sudah tidak tercatat lagi pada papan laporan kepolisian.

Selama kurang lebih 6 tahun kasus ini berada di Polres Sikka, telah terjadi pergantian 4 Kapolres dari Agus Supriyatno, Ghiri Prawijaya, Budi Hermawan, dan kini I Made Kusuma Jaya. Seiring dengan itu terjadi pergantian 7 Kasat Reskrim, dari Samuel Simbolon, Thobias Tamonob, Arif Sadikin, Ahmad, Faisal Fetsy, Wirhan Arif, dan kini Henry Sianipar.

Informasi yang dihimpun, penyidik Polres Sikka telah mengambil keterangan 11 saksi. Mereka adalah Kadis Hubkominfo Robertus Lameng, Pejabat Pembuat Komitmen Tahap 1 dan Kuasa Pengguna Anggaran Tahap 2 Endang Sri Sumartin, dan Pejabat Pembuat Komitmen Tahap 2 Fred K. Djen.

Selain itu juga telah dimintai keterangan dari Ketua Panitia Lelang Stanislaus, Panitia Lelang Yance Padeng, Paskalis Fernandes Bello, Simon Petrus, Gaudensius Nong Pio, dan Dominikus Dion. Dua orang kontraktor juga telah dimintai keterangan yakni Direktur CV Putra Aryanto Chindranata Nikolay selaku kontraktor pelaksana, dan Direktur CV Cipta Perdana Muahamad La’adi selaku kontraktor peserta lelang.

Proyek ini dikerjakan dalam dua tahap yakni TA 2007 dan TA 2008. Pelaksanaan proyek ini ditengarai mengandung unsur pidana korupsi. Hingga saat ini bangunan gudang veem dan pelataran parkir yang terletak di dalam Kompleks Pelabuhan Laurens Say sama sekali tidak difungsikan sesuai peruntukan. Bahkan disinyalir sejak proyek ini selesai bangunan ini belum pernah dimanfaatkan. Terakhir, bangunan ini digunakan sebagai gudang logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka.

Pelaksanaan proyek tahap kedua dengan pagu dana sebesar Rp 593.777.000 menggunakan metode penunjukkan langsung (PL). Metode ini diduga melanggar Keppres 80 Tahun 2003, karena regulasi mengisyaratkan PL tidak melebihi Rp 50 juta. (vicky da gomez)

Foto: Gudang Veem yang dibangun sejak 2007, terletak di dalam kompleks Pelabuhan Laurensius Say, hingga kini mubasir tidak digunakan sesuai peruntukan.