Tersangka Ajukan Pra Peradilan, Kejati NTT Siap Hadapi

by -23 views

Kupang, mediantt.com – Merasa dirugikan dengan status sebagai tersangka, Djami Rotu Lede, tersangka dugaan korupsi jual beli aset negara PT Sagared milik Kejagung, mengajukan Pra Pperadilan terhadap Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur (Kejati NTT). Namun pihak penyidik Kejati NTT takut menghadapi gugatan pra peradilan itu.

“Kejati NTT siap menghadapi pra peradilan yang diajukan tersangka di PN Klas I A Kupang. Kejati NTT telah melakukan berbagai persiapan sebagai pihak termohon, guna mengikuti persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Kupang pada Jumat (11/3),” kata Kasi Penkum dan Humas Kejati NTT, Ridwan Angsar, kepada wartawan, Senin (29/2).

Menurut dia, dalam menghadapi pra peradilan tersangka, pihaknya maju sendiri tanpa menunjuk pengacara. Meskipun saat ini penyidik Kejati NTT berkonsentrasi menghadapi sidang pra peradilan, lanjut Ridwan, tapi pengembangan penyidikan terhadap kasus dimaksud tetap dilakukan hingga tuntas. “Djami Rotu praperadilan Kejati NTT terkait penetapan tersangka,” kata Ridwan.

Menurut Ridwan, gugatan pra peradilan yang diajukan tersangka untuk menguji penetapan status tersangka tersebut. “Itu merupakan hak dari tersangka untuk ajukan praperadilan.
Proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan Kejati NTT sudah sesuai prosedur tetap (protap) kejaksaan, bahkan berkas perkara tersangka Djami Rotu, telah ditetapkan lengkap (P-21) dan sudah dilimpahkan ke jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Oelamasi pada Kamis (25/2),” jelas Ridwan.

Ia juga mengatakan, pelimpahan tersangka dan barang bukti dilakukan tim penyidik Max Jeferson Mokola, Jhon Merdiosman Purba dan Benfrid Foeh kepada JPU Kejari Oelamasi, Gede Eka Haryana.
Pasca pelimpahan tersebut, sebut Ridwan, JPU segera menyusun surat dakwaan dan melampirkan pada berkas perkara untuk selanjutnya dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Kupang.

Sesuai hasil perhitungan aprisal dari KJPP Sugianto Prasojo Jakarta, barang sitaan negara yang dijual Djami Rotu senilai Rp 8,4 miliar. Namun mengalami penyusutan menjadi Rp 7,9 miliar. Angka ini merupakan nilai bangunan, belum termasuk barang-barang di dalamnya. (che)

Foto: Ridwan Angsar, SH