Lindungi Pelaku, Kapolres Sikka Tutupi Fakta Penembakan ke Kapolda

by -133 views

Maumere, mediantt.com – Kasus penembakan terhadap Alfridus yang dilakukan 3 orang polisi pada Polres Sikka terus menjadi perhatian media di Sikka. Ada dugaan Kapolres Sikka I Made Kusuma Jaya terkesan melindungi pelaku penembakan yang berinitial AS, S, dan E. Kesan itu terbaca dari beberapa pernyataan dan laporan Kapolres Sikka I Made Kusuma Jaya saat kunjungan Kapolda NTT E. Widyo Sunaryo ke Polres Sikka, Selasa (23/2).

Dalam laporannya, Kapolres Sikka I Made Kusuma Jaya mengatakan, saat itu pelaku penembakan melakukan upaya penangkapan terhadap Alfridus dan kawan-kawan terkait kasus penganiayaan dan pengrusakan. Namun karena Alfridus dan kawan-kawan lari sehingga ketiga polisi mengeluarkan tembakan. Nah, penjelasan ini berbeda dengan keterangan Alfridus dan Relly, yang menyebutkan ketiga polisi pelaku penembakan tiba di lokasi kejadian, langsung mengeluarkan tembakan. Karena takut mereka pun lari menghindar ke rumah-rumah penduduk. Ternyata ketiga polisi terus memburu mereka.

Kesan yang paling kuat yakni ketika wartawan mengklarifikasi beberapa fakta di lapangan kepada Kapolda NTT E. Widyo Sunaryo saat peristiwa penembakan terjadi. Para wartawan menyinggung soal penggunaan senjata laras pendek dan laras panjang, termasuk saat peristiwa penembakan pelaku mengenakan pakaian preman.

Kapolda NTT E. Widyo Sunaryo sempat kaget ketika mendapat informasi bahwa pelaku juga membawa senjata laras panjang. “Oh, ada senjata laras panjang? Saya belum dapat laporan tentang itu. Saya akan ngecek ke Kapolres (Sikka). Itu salah tuh, di luar jam dinas, apalagi membawa senjata pulang ke rumah. Saya masih belum dapat laporan tentang (senjata laras panjang) ini. Kalau ada yang punya, laporkan ke saya,” jelas Kapolda NTT kepada wartawan.

Disinggung tentang pelaku yang berpakaian preman saat melakukan penembakan, lagi-lagi Kapolda NTT kaget. Sepertinya dia tidak tahu dengan fakta-fakta yang terjadi pada persitiwa penembakan. Malah dia balik bertanya kepada wartawan apakah soal pakaian preman itu masih terkait dengan peristiwa penembakan. “Ini masih ada kaitan dengan yang tadi itu (kasus penembakan)?” tanya Kapolda bingung.

Menurut Kapolda Sunaryo, peristiwa penembakan terhadap masyarakat sipil yang dilakukan AS, S, dan E, tidak dapat ditolerir. Dia memastikan ketiga pelaku penembakan akan diproses sesuai prosedural, diberikan sanksi, termasuk sanksi kode etik.

Dia mengatakan, apa yang dilakukan ketiga polisi tersebut adalah contoh salah yang tidak patut diikuti oleh polisi lainnya. Hemat dia, ada prosedural benar yang wajib diselesaikan secara hukum, bukan dengan cara-cara melakukan penembakan. Kesan dia, sepertinya ada masalah pribadi antara pelaku penembakan dengan Alfridus dan kawan-kawan.

Komunikasikan dengan Kapolri

Di tempat terpisah, Anggota DPR RI dari Fraksi Golkar, Melchias Markus Mekeng, menyesalkan terjadinya peristiwa penembakan oleh polisi terhadap masyarakat. Menurut dia, tugas polisi adalah mengayomi dan melindungi masyarakat termasuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat.

“Apapun persoalannya, polisi tidak bisa bertindak seperti itu. Itu senjata dibeli oleh rakyat, bukan untk menembak rakyat. Ini perisitiwa yang tidak bisa ditolerir,” ujar Mekeng di Capa Hotel, Selasa (23/2)..

Mantan Ketua Badan Anggaran DPR RI ini menegaskan, agar polisi pelaku penembakan harus memberikan pertanggungjawaban secara hukum. Dia sendiri berjanji akan berkoordinasi dengan Kapolres Sikka dan Kapolda NTT agar serius menyelesaikan kasus ini. Bila dianggap perlu, katanya, dia akan mengkomunikasikan persoalan ini kepada Kapolri. (vicky da gomez)

Foto: Kapolda NTT E. Widyo Sunaryo bersama istri saat melakukan kuinjungan kerja ke Mapolres Sikka, Selasa (23/2).