Ray Yang Selalu Dekat dengan Semua Orang

by -23 views

Satu hal yang juga bisa diteladani dari seorang Ray Fernandez, Bupati TTU periode kedua saat ini adalah prinsipnya yang tak pernah berubah yakni tetap dekat dengan semua orang. Siapa saja ia dekat, tanpa membedakan status.

MESKI di sekitarnya ada orang-orang yang tidak senang dengan dirinya, tapi dirinya tak pernah merasa kecil. Ia selalu menunjukkan kepribadian yang bersahaja dan menjalani perkerjaannya dengan penuh tanggungjawab dan tuntas. Ia juga mengaku sering mendapat informasi yang kurang baik, tapi sebagai seorang pejabat ia dapat menerima masukan tetapi tentu harus dipertimbangkan dulu masukan-masukan tersebut sebelum mengambil keputusan. “Sedekat apa pun seseorang dengan kita, kalau dia memberi masukan pasti dia memiliki interes. Sebagai pemimpin, kita harus mempertimbangkan, apakah interes-nya itu lebih menguntungkan banyak orang atau hanya untuk memenuhi keinginan segelintir orang,” katanya.

”Saya selalu katakan kepada teman-teman, bahwa saya selalu dekat dengan semua orang, dari orang kecil sampai orang-orang besar, tetapi perlu saya ingatkan, di saat saya mengambil keputusan tidak ada yang dapat mempengaruhi saya. Itu sudah menjadi prinsip saya, jadi tolong dihargai,” tegasnya, menambahkan.

Ray juga mengatakan, dalam hal pengambilan keputusan, dirinya selaku Bupati dan Wakil Bupati sudah berkomitmen untuk selalu bersama. “Kalau ada yang mau lobi atau apapun namanya, kami berdua harus duduk bersama untuk putuskan. Kami berdua sudah sepakati itu dan sudah saling membuktikan saat pemilukada kemarin,” katanya.

Ia menyebutkan, ketika ada yang memberikan bantuan, baik itu melalui dirinya atau melalui Pal Alo, secara transparan sampaikan dan serahkan kepada bendahara untuk selanjutnya dikelola. “Berkali-kali saya tekankan hal ini, karena menurut saya, untuk menjadi kaya tidak perlu menjadi bupati. Menjadi petani atau menjadi pengusaha lain, itu untuk menjadi kaya, tetapi menjadi Bupati lebih banyak pada aspek pelayanan, dalam hal ini melayani kepentingan banyak orang. Pengalaman dan hasil refleksi saya sudah membuktikan semunya. Jika bukan kekuatan dan perjuangan rakyat banyak, kami mungkin tidak akan terpilih menjadi bupati dan wakil bupati sekarang. Karena ini, dalam menetapkan kebijakan-kebijakan ke depan sudah menjadi komitmen kami untuk selalu berpihak kepada rakyat,” tandas Ray, mengingatkan.

Terbiasa Susah

Meski telah terpilih menjadi Bupati TTU periode kedua, namun Ray Fernandez tak pernah berubah. Ia tetap merasa diri sebagai orang kecil yang terbiasa dengan keadaan susah. “Bagi saya menjadi bupati hal yang biasa. Saya tetap orang kecil yang sudah terbiasa dengan keadaan susah,” kata Ray Fernandez beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan, istrinya pun berasal dari keluarga pegawai dengan golongan kecil. “Jadi sudah terbiasa dengan hidup susah. Bapak saya bekerja di sawah dan bagi saya itu sudah biasa. Karena itu adalah bagian daari profesinya,” tuturnya. Ketika masih kuliah, Ray mengaku biasa bekerja di sawah membantu ayahnya, juga memelihara ternak.

Bagi istri dan anak-anaknya, sebut dia, mungkin karena tidak diperbiasakan menjadi istri dan anak-anak pejabat, jadi mereka sangat sederhana, makan juga apa adanya. “Ada teman-teman wartawan yang kadang saya ajak makan di rumah, kadang mereka kurang yakin dengan apa yang kami makan, karena semuanya serba sederhana. Dari dulu juga kami seperti rakyat biasa umumnya. Kalau ada ubi kita makan ubi, ada jagung kita makan jagung. Jangan sampai hanya karena status sudah jadi bupati jadi makanannya juga ikut berubah jadi makanan pejabat. Itulah pengalaman yang saya alami,” tutur bekas aktifis GMNI ini.

Menurutnya, ia telah banyak kali mengalami pengalaman buruk, di antaranya pernah dipukul oleh camat, dilempar oleh teman-teman pengurus camat, dan pernah juga dikeroyok. “Saya lalu merefleksi, mungkin itu adalah bagian dari perjalanan hidup saya. Untuk menjadi besar seperti sekarang, saya rasa ujiannya cukup banyak. Saya juga sangat bersyukur karena Tuhan melindungi dan memberkati saya sehingga saya dapat melewati semua cobaan itu,” tegasnya.

Ia juga menjelaskan, rumah pribadi yang saat ini ditempati di bilangan kilometer lima adalah hasil kredit dengan harga sekitar Rp700 juta. “Rumah itu bukan hasil dari gaji saya sebagai wakil bupati, tetapi saya cicil dengan penghasilan lain, di antaranya pemasukan dari sebuah armada truk yang saya miliki, hasil kebun, sawah dan hasil menjual sapi,” jelas Ray. (st/jdz)