Ayah Korban Penembakan Desak Kapolri Turun Tangan

by -25 views

Maumere, mediantt.com – Pelaku penembakan terhadap Alfridus,warga Kelurahan Waioti, Sikka, belum berhasil diidentifikasi. Polres Sikka masih terus melakukan penyelidikan. Sementara ayah kadung korban, Klemens Goleng, mendesak polisi untuk segera mengungkap pelaku penembakan, yang diduga aparat. Ia malah mendesak agar sebaiknya Kapolri turun tangan meredam.

“Saya minta agar peristiwa ini segera diungkap. Kami minta Bapak Kapolri turun tangan mengungkapkan pelaku dan motif penembakan,” tegas ayah korban, Klemens Goleng kepada wartawan di depan ruang operasi RSUD TC Hillers, Selasa (16/2).

Ia menceritakan, saat peristiwa penembakan terjadi, ia sedang berada di kediamannya, 30 meter dari rumah sakit. “Saat itu saya mendengar bunyi kecil 1 kali. Tidak lama kemudian baru dia mendapat informasi bahwa bunyi tersebut adalah letupan senjata, dan salah satu korban adalah anaknya.

Menurut Klemens Goleng, selama ini anaknya tidak pernah punya masalah. Kalau pun ada masalah, mestinya penyelesaian dilakukan dengan prosedur yang benar. “Kami sangat kecewa karena anaknya menjadi korban penembakan oleh orang yang tidak dikenal,” katanya.

Ia meminta aparat keamanan dari Polres Sikka untuk mengusut tuntas peristiwa ini, dan harus berhasil mengungkapkan siapa pelakunya. Jika Polres Sikka tidak mampu mengungkapkan peristiwa ini, dia mendesak Kapolri turun tangan. Sebab, dia khawatir bisa saja akan ada korban-korban lain dari pelaku penembakan yag misterius seperti ini.

Yohanis John, kakak korban yang dihubungi Selasa (16/2), juga meminta Polres Sikka untuk segera mengungkapkan pelaku penembakan. Dengan mengungkapkannya secara cepat, sekaligus mengetahui motif di balik peristiwa ini, hemat dia, akan membuat keluarga bisa menjadi lebih tenang.

“Terus terang, sejak peristiwa tadi malam, kami keluarga tidak tenang. Ada apa sebenarnya sampai adik saya jadi korban penembakan? Jadi keluarga harap polisi segera mengungkap peristiwa ini. Jika pelakunya aparat keamanan, kami minta agar yang bersangkutan dipecat dari kedinasan. Jika bukan aparat, maka polisi juga harus menyelidiki kepemilikan senjata,” ujar dia.

Masih Selidiki

Kasat Reskrim Polres Sikka Henry Sianipar kepada para wartawan di Mapolres Sikka, Selasa (16/2), aparat Polres Sikka saat ini sedang melakukan penyelidikan. Wartawan bermaksud bertemu Kapolres Sikka I Made Kusuma Jaya, namun karena menunggu terlalu lama akhirnya konfirmasi dilakukan ke Kasat Reskrim.

“Kami juga akan berkoordinasi dengan kesatuan lain untuk mendapat informasi soal pemakaian senjata,” katanya.

Sebelumnya Wakapolres Sikka Rudi J.J. Ledo sempat menemui wartawan di lobi Mapolres Sikka. Ketika ditanya tentang perkembangan kasus penembakan warga oleh orang tak dikenal, Wakapolres Sikka justeru kaget. Dia mengaku belum mengetahui peristiwa tersebut.

Henry Sianipar mengaku pasca penembakan Senin (15/2), dia sudah mendapat keterangan dan informasi dari korban yang dia temui di RSUD TC Hillers. Sementara itu penyidik yang lain langsung turun ke tempat kejadian perkara   melakukan pengumpulan bahan dan keterangan (pulbaket). Polisi juga akan menggali informasi dari saksi-saksi, terutama teman-teman yang ada bersama korban pada malam itu.

“Sampai sekarang kami belum tahu pelakunya, kami masih melakukan penyelidikan. Kami juga akan ikuti perkembangan tindakan medis hari ini, yang rencananya hari ini akan ada operasi untuk mengeluarkan benda asing yang ada di bagian lengan kiri korban,” jelas Henry Sianipar.

Sianipar menambahkan, pihak rumah sakit sudah melakukan rontgen terhadap korban. Hasil rontgen menunjukkan pada lengan kiri korban terdapat benda asing berbentuk bulat. Ketika ditanya wartawan bahwa benda itu adalah peluru, dia tidak berani memastikannya. Dia beralasan menunggu hasil operasi.

Wakapolres Bungkam

Wakapolres Sikka Rudi J.J. Ledo yang keluar dari ruangan operasi tidak mau memberikan keterangan pers. Dokter Winase yang melakukan operasi pun tidak mau memberikan keterangan.

“Nanti langsung saja ke Pa Kapolres, silakan ke Kapolres Saja,” kata Rudi Ledo ketika ditanya wartawan sesaat setelah keluar dari ruangan operasi. Hal yang sama diungkapkan Dokter Winase. Dokter ahli bedah ini terus berlalu dari wartawan, dan mengarahkan wartawan ke Direktur RSUD TC Hillers, Dokter Sinaga.

“Jangan saya yang kasih keterangan, teman-teman wartawan bisa langsung konfirmasi ke Direktur (RSUD TC Hillers) saja,” jawab Dokter Winase sambil terus berjalan meninggalkan wartawan.

Saat operasi, tidak seorang pun keluarga korban yang ikut menyaksikan proses operasi. Ayah korban Klemens Goleng dan kakak korban Yohanis John, bersama keluarga yang lain, hanya berada di luar ruangan. Karena tidak mengikuti proses yang terjadi di kamar operasi, mereka mengaku tidak tahu benda asing apa yang bersarang di lengan kiri Alfridus.

Awalnya Yohanis John sudah berada di dalam ruangan operasi. Namun entah kenapa, kemudian dia keluar. Ketika ditanya wartawan, dia mengaku diminta keluar oleh dokter. Dia sendiri tidak tahu apa alasannya disuruh keluar. Padahal, kata dia, sebagai kakak korban, dia punya hak untuk menyaksikan dan mengetahui tindakan medis terhadap adiknya.

“Apalagi ini menyangkut barang bukti yang bisa menjadi sumber utama untuk mengungkapkan kasus penembakan adik saya. Harusnya kami keluarga juga berada di dalam ruangan operasi,” tutur dia. Usai dioperasi, korban penembakan dibawa ke Ruang Dahlia untuk mendapatkan perawatan. Korban belum bisa memberikan keterangan tambahan karena baru selesai menjalankan operasi. (vicky da gomez)

Foto: Korban penembakan Alfridus pasca operasi, dibawa ke Ruangan Dahlia untuk mendapat perawatan medis selanjutnya.