Kepala Balai Karantina Tantang Polres Kupang Kota

by -144 views

Kupang, mediantt.com – Kepala Balai Karantina Klas I Kupang, drh. Ida Bagus Harry Soma Wijaya, usai diperiksa sebagai saksi dalam kasus telur busuk milik Dedi Dirut PT NCL Kupang di Mapolresta Kupang Kota, Jumat (12/2), menantang Mapolresta Kupang Kota untuk menuntaskan kasus itu.

“Saya tantang penyidik Polres Kupang Kota untuk segera menetapkan tersangka dalam kasus dugaan telur busuk milik PT NCL Kupang yang diamankan beberapa waktu lalu,” kata Harry Soma Wijaya kepada wartawan usai diperiksa Bripka Helmi Wilda, sejak sejak pukul 10.00 Wita hingga pukul 12.00 Wita.

Menurut Soma Wijaya, jika tim penyidik Mapolresta Kupang Kota memiliki alat bukti yang cukup untuk menetapkan pihak karantina menjadi tersangka, tidak menjadi soal jika itu sudah dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku.

“Kami dari pihak karantina siap untuk diajdikan tersangka tapi jika polisi memiliki alat bukti yang kuat untuk menetapkan Karantina menjadi tersangka dalam kasus telur busuk itu,“ tegas Soma Wijaya.

Dalam kasus itu, lanjut dia, PT NCL milik Dedi yang seharusnya bertanggungjawab dalam kasus itu. Dedi bisa dikenakan pasal berlapis dan bisa disebut sebagai penyelundupan. Sebab, dari karantina belum memperbolehkan telur itu untuk diedarkan, namun Dedi berani membawa pergi ratusan telur itu ke Kabupaten TTS.

Saat itu, jelas Soma Wijaya, baru dilakukan pemeriksaan dengan mengambil sampel terhadap ratusan telur itu, bahkan belum juga dilakukan uji kelayakan oleh dokter karantina, namun Dedi memaksa membawa keluar ratusan telur itu tanpa sepengatahuan pihak karantina.

“Dalam kasus ini, Dedi pemilik PT NCL Kupang bisa disebut sebagai penyelundup karena belum selesai dari Kantina sudah bawa keluar ratusan telur itu dan itu bisa dikenakan undang-undang berlapis,“ terang Soma Wijaya.

Disinggung sial surat ijin itu, jelas dia, seharusnya diterima oleh Agus Santoso selaku pemilik telur yang diambil oleh Dedi PT NCL Kupang, namun anehnya surat ijin itu bisa dimiliki oleh Dedi. Hal itu seharusnya diketahui secara internal oleh pihak Karantina dan Agus Santoso bukan Dedi PT NCL Kupang.

“Apakah itu konspirasi saya tidak tahu. Seharusnya surat ijin itu harus dimiliki oleh Agus Santoso bukan Dedi PT NCL Kupang. Anehnya surat itu diterima Dedi. Ini internal karantina saja yang tahu,“ kata dia, heran. (che)

Foto: drh. Ida Bagus Soma Wijaya