Ayo, Saksikan Pameran Foto ‘Berkat dari Laut Lamalera’

by -176 views

Kupang, mediantt.com – Tradisi penangkapan Ikan Paus secara tradisional di Lamalera yang telah mendunia selalu menarik bagi siapa saja untuk mengakrabi warisan leluhur itu. Sudah sekian banyak lembaga memberi perhatian ke Lamalera, mengangkat budaya dan tradisinya. Yang terakhir adalah Poros Photo, melakukan studi visual etnografi. Dan, hasil dari catatan perjalanan etnografi visual itu ditampilkan dalam pameran foto yang diberi tajuk ‘Berkat dari Laut Lamalera’, yang digelar di OCD Café, Lasiana, Kota Kupang, selama satu bulan, dari tanggal 28 Januari-28 Februari 2016. Karena itu, siapa saja diajak untuk datang menyaksikan foto-foto dan pemutaran film karya Poros Photo, yang bermitra dengan Sekolah Musa dan Rumah Desain, yang didukung oleh Knowledge Sector Initiative (KSI) itu.

Sekadar tahu, pada September 2015 lalu, Poros Photo dengan dukungan mitranya, melakukan pendokumentasia dan study ethnography visual di Lamalera. Tim itu terdiri dari Arnold Simanjuntak (fotografer), Des Christy (peneliti), Dery Prananda (videographer), Egen Bunga (videographer) dan Vita Soemarno (mahasiswa). Mereka melakukan observasi langsung selama satu bulan penuh di Lamalera.

“Pameran ini merupakan bentuk pertanggungjawaban kepada publik tentang hasil study visual etnografi selama sebulan di Lamalera. Dalam kegiatan ini juga akan ada diskusi dan pemutaran film ‘Berkat dari Laut’ dan pemaparan hasil study sementara. Kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu sumber dalam mengenal dan memperkaya wawasan budaya masyarakat dalam memahami kehidupan masyarakat Lamalera,” kata Des Christy, peneliti dari Poros Photo.

Bagi orang Lamalera, demikian hasil riset Poros Photo, Laut adalah Mama (Ibu) yang menyediakan segalanya. Para Lamafa (juru tikam) menjemput apa yang telah disediakan oleh Mama, yaitu Koteklema atau Paus. Mereka memburu Paus untuk seluruh masyarakat Lamalera, yang telah menunggu di daratan dan percaya bahwa mereka akan mendapatkan berkat dari laut. “Laut itu diandaikan Mama. Mama menyiapkan segala-galanya”.

Artinya, Laut Sawu yang melimpah kekayaan biodiversitas menjadi sumber utama penghidupan Lefo Lamalera. Laut ini pula yang membentuk kepercayaan dan pola pikir mereka, laut adalah ibu yang menyediakan segalanya. Seperti mama yang menyediakan kebutuhan anaknya. Lefa Alep yang berarti putra putri lautan mengambil berkat yang sudah disediakan ibu laut. Suatu warisan yang diserahkan kepada anak cucu (Ama Gene Ola, Ola Kae Kode Kai).

Dalam diskusi pada pembukaan Pameran Foto yang dipandu Des Christy, terungkap banyak hal yang menjadi bagian integral dari tradisi perburuhan Paus di Lamalera, baik yang masih terjaga maupun yang hilang, termasuk persoalan-persoalan serius yang perlu dibenahi, jika Lamalera menjadi destinasi pariwisata dunia. Diantaranya, infrastuktur jalan dan yang paling mendesak adalah air minum yang hingga saat ini belum teratasi.

Masalah distribusi kesejahteraan dengan hadirnya wisatawan ke Lamalera juga menjadi sorotan serius dalam diskusi tersebut. Karena itu, ada usulan agar di Lefo Lamalera dibentuk homestay dengan menggunakan dana desa, yang digelontorkan sekitar Rp 500 juta setiap desa, termasuk Desa Lamalera A dan B. “Saya usulkan dana desa bisa digunakan untuk membangun sebuah homestay, selain berdampak pada pembukaan lapangan kerja, juga memberikan dampak ekonomi kepada Lefo Lamalera. Saya kira ini bisa menjadi rekomendasi Poros Photo untuk bisa meminimalisir kecenderungan monopoli di Lefo Lamalera,” usul Sesepuh Lamalera di Kupang, Yosef Tukan, yang juga sangat merisaukan masalah air yang hingga saat ini belum terpecahkan di Lefo Lamalera. “Tolong masalah ini juga diperhatikan, jangan hanya tradisi penangkapan ikan paus tapi juga masalah lain termasuk air minum ini,” ujar mantan anggota DPRD Kota Kupang ini.

“Saya sangat sepakat dengan usulan Pa Yos Tukan. Mudah-mudahan kepala desa Lamalera A dan B bisa memikirkan hal ini untuk kesejahteraan Lefo Lamalera dan kelangsungan tradisi penangkapan Ikan Paus,” kata Clemens Ataburan Kedang. Ketua Ikabela Kupang ini juga menyodorkan topik ‘Kepemimpinan Lamafa Dalam Tradisi Penangkapan Ikan Paus’ untuk didiskusikan.

Tak cuma itu. Ada juga usulan untuk menelusuri kembali dokumen tentang Yayasan Lefo Lamalera yang pernah digagas oleh alm Pater Yan Perason Bataona, SVD. Yayasan itu telah dibentuk dengan melibatkan unsur Lika Telo (Bataona, Lewotukan dan Blikololong) juga Tuan Tanah, tapi hingga saat ini dokumen tersebut entah ada di siapa. “Tim kami belum mendalami soal itu, tapi kami akan telusuri dokumen itu untuk kepentingan Lefo Lamalera,” kata Fotografer, Arnold Simanjuntak.

Poros Photo juga punya harapan besar agar dokumentasi yang telah dilakukan secara detail dalam study etnography visual ini bisa digunakan sebagai referensi bahan ajar muatan lokal di setiap sekolah dasar. Peserta diskusi yang kebanyakan orang Lamalera ini pun sepakat dengan harapan tersebut, agar hasil riset itu bisa menjadi referensi bahan ajar muatan lokal. Tapi sayang, gagasan cerdas itu tidak bergayung sambut. Pihak pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT yang diundang, tidak hadir hingga diskusi berakhir. “Inilah mental birokrasi di NTT, kalau kegiatan yang tidak ada uang, mereka malas hadir,” cetus seorang peserta diskusi. Dinas Pariwisata NTT pun tidak hadir memenuhi undangan Poros Photo.

Karena itu, forum diskusi itu meminta agar hasil riset ini disampaikan secara tertulis kepada pemerintah, terutama Dinas Pariwisata NTT dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT untuk ditindaklanjuti. (jdz/adi)

Foto : Inilah saah satu aksi heroik nelayan Lamalera menerobos ombak ketika hendak turun melaut. (Poros Photo/Arnold Simanjuntak)