Kelakuan Politisi Oposisi Bagaikan Murid Taman Kanak-kanak

by -19 views

Kubu oposisi makin parah. Pertarungan internal tak kunjung padam. Ada pula Fahri Hamsah yang asik jalan sendiri.

Koalisi Merah Putih kini benar-benar parah. Kepentingan pribadi membuat kubu politik ini makin kacau. Mereka seolah tak peduli lagi pada makna koalisi yang pernah mereka gembar-gemborkan bakal permanen. Masa jaya ketika menguasai mayoritas kursi DPR pun seolah tak berbekas lagi karena ulah sendiri.

Maka tak mengherankan bila hasil hasil survei SMRC membuktikan bahwa popularitas Jokowi makin sulit ditandingi oleh para pesaingnya. Padahal Jokowi pernah diramalkan oleh banyak pengamat bakal runtuh sebelum setahun naik singgasana kepresidenan. Selain tidak becus memimpin, Jokowi juga mereka anggap sangat lemah karena cuma didukung oleh minoritas anggota DPR dan bukan ketua Parpol pula.

Hasil survei tersebut juga mengejutkan karena perekonomian Indonesia sedang memburuk. Sebagaimana laporan BPS, sampai dengan kuartal ketiga 2015 jumlah pengangguran dan jumlah orang miskin meningkat. Utang luar negeri juga menggunung, dan masih akan lebih tinggi karena pemerintah telah berencana menerbitkan surat utang bernilai ratusan triliun rupiah.

Masyarakat tampaknya berpikir, sejelek-jeleknya pemerintahan Jokowi, masih lebih bagus ketimbang oposisi. Apalagi sekarang masyarakat disuguhi perang terbuka antara KPK, yang sudah lama dianggap sebagai lembaga paling bersih dan dihormati, melawan tokoh PKS Fahri Hamsah. Para pendukung Fahri juga rajin memposting untuk membangun citra Fahri sebagai jagoan pembasmi keangkuhan KPK.

Fahri seolah tidak perduli bahwa popularitas PKS sedang remuk. Dia juga tidak perduli bahwa dia pernah dikecam dari segala penjuru ketika berulang kali menyatakan niatnya untuk membubarkan KPK. Baginya, popularitas KPK yang demikian tinggi tidak ada apa-apanya.

Mungkin dia juga tak perduli pada opini masyarakat bahwa, belum berkuasa saja sudah mau meremukkan KPK, nanti kalau jadi penguasa Indonesia akan diserahkan kepada para koruptor. Opini ini, yang dipicu oleh perilaku asik sendiri Fahri Hamsah, tentu saja makin merusak citra koalisi merah putih, tempat PKS bernaung.

Sementara itu, masyarakat juga sedang disuguhi perang saudara tak berkesudahan di tubuh Golkar dan PPP. Sebuah kenyataan yang mencerminkan betapa dahsyatnya pengaruh kepentingan pribadi di tubuh kedua Parpol tersebut. Maka wajar bila masyarakat khawatir, bila partai semacam itu berkuasa, negara akan dijadikan obyek bisnis pribadi.

Ada lagi yang bersikap mendua, yaitu PAN. Mengaku masih berada di Koalisi Merah Putih tapi juga masuk dalam jajaran partai pendukung pemerintah. Tak mudah membayangkan bila partai yang mengalami kepribadian terbelah menjadi penguasa. Rakyat akan dibuat bingung terus menerus karena ketidakjelasan sikap pemerintah.

Semua itu menyebabkan masyarakat seolah telah melupakan Jokowi tidak punya nyali untuk membela para tokoh anti korupsi yang sampai sekarang masih berstatus tersangka. Mereka adalah Abraham Samad, Bambang Widjojanto, Novel Basewedan, dan Deny Indrayana. Atau kenyataan bahwa PDIP, yang merupakan pengusung utama Jokowi, adalah partai yang kadernya paling banyak terlibat korupsi.

Lalu apakah masyarakat kemudian menyanjung Jokowi? Mungkin tidak. Mereka hanya jengkel karena pihak oposisi lebih asik dengan dirinya sendiri ketimbang menjalankan fungsinya sebagai penyeimbang sekaligus pengawas pemerintah. Selain itu, kelakuan mereka di mata publik tentu saja bagaikan murid taman bocah bau kencur! (indrev/jdz/berbagai sumber)

Foto : Para politisi dan petinggi koalisi merah putih.