Benarkah ISIS di Balik Teror Bom Sarinah?

by -74 views

JAKARTA kembali diguncang aksi teror bom. Peristiwa berdarah ini terjadi pada Kamis (14/01/2016). Meskipun belum ada satu pun pihak yang mengaku bertanggung jawab atas  teror tersebut, namun diyakini oleh Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) Komisaris Jenderal Budi Gunawan bahwa serangan teror ini tidak terlepas dari kelompok teroris, ISIS.

Wakapolri berdalih, dari hasil deteksi polisi selama tiga bulan terakhir ini, memang ada semacam komunikasi antara kelompok Suriah, Bahrun Naim dengan Abu Jundi dari kelompok teror yang bermarkas di Solo. “Kelompok Solo ini membuat persiapan-persiapan dengan anak-anak selnya untuk melakukan apa yang disebut dengan ‘konser bom’ yang harusnya dimainkan pada malam Tahun Baru pada Desember 2015. Tapi karena kita bisa antisipasi, maka baru kali ini mereka laksanakan,” kata Budi Gunawan.

Ketika ditanya, apakah serangan ini sama dengan serangan di Paris, Budi menjawab, “Yes, betul.”

Perlu kita ketahui, berdasarkan data dari jaringan intelijen internasional khusus dalam bidang teror yang bermarkas di Amerika Serikat, diperkirakan paling tidak ada 1.000 jihadis dari Asia Tenggara yang bergabung dengan ISIS. Mereka terutama berasal dari Indonesia, Filipina dan Malaysia. Militan Malaysia dan Indonesia malah sudah membentuk unit berbahasa Melayu dalam kelompok ISIS di Suriah. Dan kelompok ISIS Asia ini disamping bergabung dengan ISIS untuk berperang di Suriah dan Irak, juga membangun jaringan di negara-negara asalnya seperti Indonesia, Filipina, dan Malaysia.

Basis-basis radikal yang mengklaim dirinya Islam, di Asia Tenggara memang sudah terbentuk sejak dulu. Yang paling lama beroperasi adalah kelompok Abu Sayyaf di Filipina. Sejak dulu mereka sering melakukan aksi penculikan untuk mendapat uang tebusan jutaan dolar. Begitu juga kelompok Santoso dari Indonesia yang bermarkas di Sulawesi Tengah.

Kelompok Santoso mengembangkan sayapnya di daerah-daerah Pulau Jawa, seperti Solo, Jakarta, sebagian wilayah sekitar Jawa Barat, dan Lampung. Aksi kelompok Santoso sangat berbeda dengan aksi yang dilakukan oleh Abu Sayyaf. Santoso selalu menebar teror dengan bom-bom berskala sedang seperti yang terjadi pada aksi teror bom di Tanah Abang beberapa tahun yang lalu kemudian disusul aksi teror bom di Tangerang, dan kini aksi mirip yang dilakukan kelompok Santoso di kawasan Thamrin.

Para analis keamanan juga mengatakan, di kawasan Asia Tenggara, terdata ribuan orang telah bersumpah setia pada ISIS, ketika kelompok-kelompok militan lokal itu mendapat dorongan lewat video online kekerasan dan seruan jihad melalui media sosial.

Kelompok militan Filipina ‘Abu Sayyaf ‘ yang pernah mengklaim memiliki hubungan dekat dengan jaringan Al Qaida juga menyatakan dukungan pada Islamic State Irak Suriah (ISIS). Ketika menculik seorang warga Jerman, April tahun lalu, Abu Sayyaf, menuntut agar Jerman menghentikan dukungannya terhadap kampanye pemboman Amerika Serikat yang diluncurkan terhadap ISIS.

Dalam menghadapi propaganda ISIS, pemerintah pernah mengaku merasa bingung. Hal ini jelas-jelas diungkapkan oleh Presiden Jokowi sendiri bahwa pemerintah belum menemukan cara untuk mencegah penyebaran ISIS yang akan membuat teror di Indonesia.

Bom Sarinah yang baru saja terjadi dan terkait bingungnya pemerintah Indonesia, boleh jadi ini adalah sebuah pertanda bahwa pemerintahan Jokowi sebenarnya belum siap menangkal serangan teror yang berasal dari sempalan kelompok asing seperti kelompok ISIS. Lalu, benarkah ISIS di balik bom Sarinah seperti yang dikatakan oleh Wakapolri Komjen Budi Gunawan? Secara fakta, yang dilihat hari ini sepertinya ada kemungkinan dilakukan oleh kelompok lama yang ingin tetap eksis. Ciri kelompok lama tersebut yaitu pada sifat serangan yang sporadis dan mengarahkan pada petugas keamanan.

Begitu juga jenis bom yang dibawa, mirip seperti kelompok lama, berbentuk bom tas ransel seperti yang dibawa oleh bom bunuh diri Bali II dan bom di hotel JW Marriot tahun 2009. Hanya saja bom yang dibawa oleh kelompok bom Sarinah, jenis ledakannya tidak sebesar bom Bali II dan JW Marriot. Hal itu mungkin saja karena bahan bahan yang ada saat ini sulit didapat karena pihak keamanan sudah semakin mempersempit bahan bahan peledak berjenis ledakan besar. Maka itu, bom Sarinah jumlahnya tidak satu bom tapi sampai 6 bom yang diledakkan secara berjenjang dari pukul 10.30 hingga pukul 11.10.

Selain itu, serangan teror Sarinah yang dilakukan oleh 7 orang, hal ini menandakan bahwa mereka benar-benar ingin memperlihatkan bahwa mereka masih punya anggota cukup banyak dan berani mati untuk berhadapan melawan pihak keamanan. Tentu ini akan menjadi PR tersendiri bagi pemerintah, karena bisa saja mereka diwaktu kedepan akan melakukan serangan secara lebih banyak lagi melibatkan pasukan berani matinya untuk berperang melawan pihak keamanan secara terang terangan di muka umum.

Pengamat Intelijen Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati, yang biasa dipanggil Nuning mengatakan, teror bom Sarinah, di jalan Thamrin, Jakarta Pusat, diduga kuat sebagai pesan dari kelompok teror tertentu yang berusaha bahwa mereka masih tetap eksis. Pengamatan Nuning ini, tentu berdasar dari hasil di tempat kejadian perkara, dimana mereka melakukan teror kepada tempat keramaian dan menyerang polisi. “Pesan mereka dalam giat terornya tentu untuk menyatakan bahwa mereka eksis dan jangan main-main dengan mereka,” kata Nuning.

Nuning juga mengingatkan agar semua pihak tidak cepat mengira-ngira atau menduga motif peledakan bom tersebut. Kata Nuning, semuanya harus menunggu hasil penyelidikan dari Polri dan badan intelijen yang kemudian nanti bisa menyimpulkan siapa sesungguhnya yang melancarkan serangan tersebut. “Menurut saya kita tidak boleh mengira-ngira sebelum proses penyelidikan mendapatkan hasil, yang nantinya bisa menyimpulkan siapa mereka, dari kelompok mana ISIS atau JI atau kelompok lainnya,” tegas Nuning.

Pengungkapan kelompok teror memang tidak selalu cepat dan mudah, apalagi hingga belum ada satu kelompok pun yang mengatakan bertanggung jawab. Sesudah itu, kalau pun telah mendapatkan hasil siapa pelakunya, tentu ini juga tidak mudah pula untuk segera diungkapkan kepada publik, karena bila dilakukan, akan berdampak pula terhadap makin sulitnya mengejar pemimpin kelompok teror tersebut. (indrev/jdz/berbagai sumber)