Tidak Ada Kata Terlambat, Indonesia Kejar Ketertinggalan!

by -118 views

JAKARTA – Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) yang juga Presiden RI Kelima, Megawati Soekarnoputri, mengajak seluruh insan bangsa Indonesia untuk bersatu menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), dan bekerja keras bersama menghadapi tantangan itu.

Hal itu diungkapkan Megawati dalam pidato politiknya saat pembukaan Rakernas DPP PDIP yang sekaligus perayaan HUT ke-43 partai itu, di Kemayoran, Jakarta, Minggu (8/1).

Megawati mengatakan, peringatan HUT Partai kali ini bertepatan dengan dimulainya Economic ASEAN Community, atau biasa disebut MEA. Kondisi di mana negara-negara ASEAN memasuki babak baru dalam hubungan ekonomi. MEA sendiri merupakan pilar pertama dari tiga pilar yang tertuang dalam ASEAN vision 2020. Dua pilar lainnya yakni: ASEAN Political-Security Community, dan ASEAN Sosio-Cultural Community.

Dijelaskan Megawati, pada perkembangannya, MEA ternyata tidak hanya melibatkan negara-negara ASEAN. Ada enam negara lain yang ikut bergabung dalam MEA, yakni Australia, Selandia Baru, Jepang, Korea Selatan, India, dan Tiongkok.

“Mampukah kita bersaing dengan negara-negara tersebut? Ini jelas merupakan tantangan tersendiri bagi kita sebagai bangsa. Tapi kita tidak perlu takut,” kata Megawati.

Walau demikian, dia mengakui bahwa kewaspadaan tetaplah diperlukan. Indonesia harus mempersiapkan sumber daya manusia yang ada, guna menjawab tantangan liberalisasi terkait dengan arus bebas tenaga kerja terampil.

“Saudara-saudara, tidak ada kata terlambat. Kejarlah semua ketertinggalan. Lebih baik terus mempersiapkan diri daripada diam, berkeluh kesah, dan sekadar pasrah tanpa upaya,” tegasnya.

Megawati mengingatkan, negara harus hadir dan tidak boleh absen lagi. Begitu juga terhadap globalisasi dan pasar bebas, Megawati mengingatkan agar semua anak bangsa berpegang pada apa yang disebutnya sebagai segitiga kerangka tujuan.

Pertama, Di bidang politik: satu Negara Kesatuan dan Negara Kebangsaan Republik yang demokratis dari Sabang sampai Merauke. Kedua, Di bidang sosial, suatu masyarakat adil dan makmur, lahiriah maupun spiritual, atau dengan kata lain masyarakat sejahtera yang berkeadilan sosial. Ketiga, di bidang internasional, persahabatan dan perdamaian dunia, terutama sekali dengan bangsa Asia Afrika, seperti yang telah dirintis oleh Bung Karno. Megawati mengatakan, Soekarno memimpikan terwujudnya tatanan dunia baru yang bebas dari segala bentuk penindasan dan penjajahan.

“Saya juga menegaskan dalam berbagai kesempatan: kita memang berada di era pasar bebas, namun tentu bukan bebas tanpa batasan. Setiap negara punya kedaulatan politik. Setiap negara memiliki kewajiban untuk melindungi rakyat dan bangsanya sendiri,” ujar Megawati.

“Dengan demikian, kesejahteraan rakyat dan kepentingan bangsa kita sendiri, harus diletakkan sebagai prioritas utama. Inilah hukum tertinggi yang harus kita taati,” tegasnya.

Tahun Konsepsi dan Strategi

Magawati Soekarnoputri juga menilai, tahun 2016 adalah tahun menemukan kembali konsepsi dan strategi mewujudkan Trisakti.”Mewujudkan Trisakti merupakan tujuan, sekaligus arah perjuangan kita,” kata Megawati Soekarnoputri.

Pembukaan Rakernas I PDI Perjuangan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla, mantan wakil Presiden Try Sutrisno, para menteri kabinet kerja, para pimpinan lembaga negara, para pimpinan partai politik, serta kader PDI Perjuangan.

Menurut Megawati, penjabaran konsepsi Trisakti tersebut, sesungguhnya telah disusun oleh para pendiri bangsa, melalui “Pola Pembangunan Nasional Semesta dan Berencana”. “Suatu pola menuju Indonesia Raya, yaitu Indonesia yang masyarakatnya adil dan makmur berdasarkan Pancasila.”

Presiden Republik Indonesia ke-5 ini menambahkan, pola pembangunan ini sekaligus merupakan pengejawantahan dari semangat dan jiwa UUD 1945, yaitu jiwa yang tegas, tepat, tidak ragu-ragu, serta terang, tidak samar-samar.

Megawati menegaskan, Indonesia merupakan satu negara kesatuan dan negara kebangsaan republik yang demokratis dari Sabang sampai Merauke. “Indonesia saat ini menerapkan otonomi daerah, tapi Indonesia bukanlah negara federal,” katanya.

Megawati menegaskan bahwa perkembangan pelaksanaan otonomi daerah dan pemilihan kepala daerah (Pilkada), terlihat adanya realitas yang perlu dicermati bersama.

Ia menggambarkan Indonesia, ibarat lukisan yang ada dalam satu bingkai negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Lukisan itu bukanlah bagian dari satu kanvas utuh, tapi seperti pazel-pazel yang tidak bisa sungguh-sungguh bersatu. Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena konsep dan strategi pembangunan yang dijalankan di tiap daerah berangkat dari visi misi yang berbeda beda,” katanya.

Menurut dia, setiap kabupaten, kota, dan provinsi di Indonesia, berbeda-beda, dan bahkan sering terjadi perbedaan kebijakan antara daerah pusat. “Marilah kita renungkan kembali, inikah yang disebut NKRI,” katanya.

Megawati menambahkan, peringatan HUT ke-43 partai itu sekaligus momentum penegasan bahwa rakyat adalah cakrawati partai; tempat seluruh irama, dan langkah perjuangan bermuara.

“Saya pernah katakan, yang membuat kita bangga sebagai partai politik, bukan ketika dekat dengan kekuasaan, tetapi saat menangis dan tertawa bersama rakyat,” tegas Megawati.

Dalam konteks itu pula, lanjut Megawati, maka pilihan-pilihan politik yang akan diambil PDI-P, haruslah sebagai penegasan untuk meneruskan perjuangan dan pemikiran Bung Karno yang terkenal dengan nama Marhaenisme.

Dia lalu bercerita soal lahirnya Marhaenisme, yang dimulai saat Bung Karno berjumpa dengan seorang petani miskin di Bandung Selatan, Jawa Barat, bernama Marhaen. Dialog dengan sosok petani tersebut, kata Megawati, adalah dialog yang penuh dengan romantika, dinamika dan dialektika seorang pemimpin dengan rakyatnya.

Dari percakapan itulah, Bung Karno merumuskan sebuah teori politik sekaligus teori perjuangan, yang disebut Marhaenisme, yang merupakan teori progresif, revolusioner, dan bersifat persatuan.

Oleh Bung Karno, didefinisikan: “Semua orang Indonesia yang melarat, baik proletar maupun bukan proletar, asal melarat. Baik buruh, maupun tani, maupun nelayan, maupun pegawai di kantor, maupun insinyur-insinyur, maupun meester-meester, maupun dokter-dokter, asal dia melarat artinya kecil, saya namakan dia Marhaen,” demikian Megawati menyampaikan.

Karena itu, Megawati menyerukan kader PDI-P untuk selalu berjuang bersama Kaum Marhaen untuk memperbaiki kehidupannya.

“Saya meyakini, jika kita menghayati ajaran Bung Karno tersebut, kita akan mampu mengorganisir massa daripada kaum marhaen. Rakyat yang selama ini dianggap kecil itu, jika digabungkan, pasti dapat menjadi satu gelombang yang mahasakti; satu gelombang perjuangan yang akan mampu menghadapi kendala apapun,” tegasnya.

“Rakyat adalah kekuatan bangsa yang ketika diorganisir dan diberi kesempatan untuk berdaya, pasti akan menjadi kekuatan bagi bangsa ini.” (brts/sp/jdz)

Foto : Megawati Soekarnoputri.