Pencitraan atau Realitas; Tantangan Jokowi 2016

by -57 views

Ada tiga hal esensial yang harus dilakukan Jokowi tahun ini. Yakni membentuk kabinet yang kompak, memberantas monopoli, dan stop pencitraan.

JAKARTA — Bila kabinet tetap heboh sendiri seperti sekarang, wajar bila kepercayaan masyarakat dan pelaku ekonomi kepada presiden Jokowi merosot lebih jauh. Bayangkan, baru sekarang ada menteri berani mencaci presidennya sendiri secara terbuka dengan menyebut perusak Indonesia adalah pengusaha yang merangkap sebagai penguasa alias “pengpeng.” Keberadaan mereka, menuru Rizal, pada dasarnya KKN.

Rizal Ramli tampak tak perduli bahwa kini untuk pertama kali kursi Presiden, Wakil presiden, menteri-menteri kunci (Menkpolhukam, Menteri KKP, Menteri BUMN), ketua dan wakil ketua DPR-RI diduduki oleh pengusaha. Hal yang sama juga tampak jelas di Parpol besar seperti Golkar, PDIP, Gerindra, Nasdem, PPP, PAN, dan PKB.

Terlepas dari siapa salah atau benar, yang pasti keributan internal kabinet telah membuat makin tak jelas siapa sesungguhnya presiden RI. Keseriusan pemerintah melaksanakan reformasi pun makin kehilangan wibawa. Bayangkan, sebuah SK yang telah ditandatangani seorang menteri bisa mendadak batal setelah ditentang oleh presiden atau menteri lain seolah sidang kabinet tak pernah ada.

Hal esensial lain yang menantang Jokowi adalah keberaniannya membabat praktek monopoli yang telah lama menjadi sumber ketidakefisienan perekonomian nasional. Paling dahsyat monopoli atas trayek-trayek angkutan antar pulau yang telah menyebabkan transportasi laut di Indonesia menjadi super mahal dan lamban; dan monopoli berbagai komoditas oleh para pemilik izin Importir Tunggal.

Sejauh ini, pemerintah cuma berbicara soal pembangunan infrastuktur transportasi maritim untuk menurunkan biaya transportasi. Tapi rencana membabat monopoli yang telah membuat para pemilik kapal kaya-raya diatas penderitaan masyarakat, terdengar sayup-sayup pun tidak.

Dalam kondisi seperti itu, dimana arus barang berjalan lamban, mengharapkan pemeratan ekonomi jelas mustahil. Perekonomian pun terkotak-kotak karena keterkaitan satu pulau dengan lainnya sangat lemah. Maka tak mengherankan kalau sekarang pun banyak fasilitas transportasi laut di daerah mangkrak atau rusak.

Salah satunya adalah kapal tol laut berkapasitas 200 truk yang melayani trayek Lampung-Tanjung Perak. Kapal yang diresmikan bulan Mei lalu sudah berbulan-bulan mangkrak. Kapal ini bahkan sudah kalang kabut pada pelayaran pertama karena jumlah muatan tak sampai 10% dari kapasitasnya.

Sekarang kita menyaksikan dua kapal pengangkut sapi yang diluncurkan November lalu. Peluncuran ini demi tuntutan para elite peternak yang menyalahkan ketiadaan kapal khusus sebagai penyebab tingginya harga daging sapi. Tapi kini sudah muncul gejala kapal tersebut bakal merana karena kekurangan muatan.

Maka, membangun kabinet yang kompak, menghapus sumber ketidakefisienan ekonomi, dan menggantikan pencitraan dengan perhitungan yang menyeluruh, logis, dan realistis adalah tantang yang harus dijalani dengan baik oleh Jokowi pada tahun ini. Tapi kalau pencitraan ternyata lebih ampuh untuk membangun popularitas, Jokowi tantu tak perlu merubah gaya. Tetap blusukan! (indrev/jdz)

Foto : Ilustrasi