MOTAAIN – Presiden Joko Widodo optimistis, Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Motaain di Kabupaten Belu, NTT, akan menjadi daerah pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia.

Berdasarkan keterangan tertulis Tim Komunikasi Presiden (TKP) yang diterima Investor Daily, Senin (28/12), Presiden Jokowi berjanji akan membangun infrastruktur jalan raya dan pasar di PLBN Terpadu Motaain, pada Oktober tahun depan. “PLBN Terpadu Motaain ini akan menjadi titik pertumbuhan ekonomi baru. Kita ingin arus barang dari Indonesia ke Timor Leste semakin banyak,” kata Presiden Jokowi saat meninjau PLBN Motaain di Kabupaten Belu, Senin (28/12).

Kepala Negara mengungkapkan, PLBN Terpadu yang terletak di perbatasan Indonesia dan Timor Leste itu diyakini akan memainkan peranan penting untuk mendorong arus barang dari Indonesia menuju Timor Leste.

Dikatakan, sudah terlalu lama pemerintah mengabaikan pembangunan wilayah perbatasan. Mulai tahun depan, pemerintah akan membangun PLBN Terpadu, memperlebar jalan raya dari 4,5 meter menjadi 7 meter. “Pasar di PLBN Terpadu dapat dimanfaatkan masyarakat dalam rangka peningkatan ekonomi,” kata Presiden Jokowi.

Presiden mengatakan PLBN Terpadu Motaain akan diresmikan pada Oktober 2016. “Ini akan menjadi contoh bahwa yang namanya muka terdepan itu diperlukan. Baik sebagai kebanggaan Bangsa Indonesia, maupun dari sisi ekonomi sebagai titik pertumbuhan ekonomi untuk mendorong dari Indonesia mendorong ekspor ke negara lain,” katanya.‎

Presiden Jokowi, pada 28 April lalu telah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2015 tentang Percepatan Pembangunan Tujuh Pos Lintas Batas Negara Terpadu dan Sarana Prasarana Penunjang di Kawasan Perbatasan. Penerbitan Inpres itu merupakan bagian dari komitmen Presiden Jokowi yang tercantum dalam Program Nawacita untuk membangun Indonesia dari pinggiran.

Inpres yang diterbitkan sebagai tindak lanjut kunjungan kerja Presiden Jokowi ke sejumlah wilayah perbatasan di Papua, NTT, dan Kalimantan Barat ditujukan kepada 16 Menteri/Pimpinan Lembaga, tiga gubernur, dan tujuh Bupati/Walikota.

Tujuh Pos Lintas Batas Negara Terpadu berlokasi di Aruk (Kabupaten Sambas), Entikong (Kabupaten Sanggau), Badau (Kabupaten Kapuas Hulu), Motaain (Kabupaten Belu), Motamasin (Kabupaten Malaka), Wini (Kabupaten Timor Tengah Utara), dan Skouw (Kota Jayapura).

Diharapkan pembangunan PLBN Montaain dapat memberi manfaat bagi masyarakat perbatasan, khususnya warga di Tasifeto Timur dan Kalukuk Mesak. Di kedua kecamatan terdapat 984 KK penduduk eks Timor Leste yang kini sudah menjadi WNI.

Presiden Jokowi juga berharap PLBN Montaain yang berdiri di atas lahan seluas 8,03 hektare (ha) dan dilengkapi bangunan seluas 5.839,35 meter per segi dapat memberikan pelayanan yang baik. “Nanti pelayanan arus orang dan arus barang menjadi lebih cepat,” ujar dia.

Tinjau Perbatasan

Presiden Joko Widodo juga meninjau pembangunan pos lintas batas Republik Indonesia – Timor Leste, Motaain, di Kota Belu, Atambua, Senin (28/12). “Pembangunan pos lintas batas terpadu Motaain ini diharapkan dapat meningkatkan perekonomian dari arus keluar-masuk barang,” ujar Presiden Jokowi usai meninjau pos perbatasan Motaain.

Pembangunan pos terpadu yang memiliki nilai kontrak sebesar Rp 82 miliar ini dimulai sejak Agustus 2015, dan diharapkan selesai pada Oktober 2016.

Sebelumnya, ukuran pos lintas batas Motaain hanya berupa sebuah gedung dengan beberapa pintu untuk pengurusan imigrasi, kepabeanan, karantina, keamanan perdagangan dan lainnya. Namun, dengan pembangunan pos lintas batas terpadu akan di pecah sesuai kebutuhannya, bahkan akan disediakan pasar yang dapat digunakan oleh masyarakat.

Pos lintas batas negara (PLBN) terpadu merupakan pos pemeriksaan lintas batas dan barang keluar masuk wilayah negara. Selain di Motaain, presiden juga telah menginstruksikan pembangunan sejumlah pos lintas batas terpadu yaitu di Aruk, Entikong, Nanga Badau, Wini, Motamasin dan Sukow.

Bendungan Rotiklot

Dalam kunjungan ke perbatasan itu, Presiden Joko Widodo juga meresmikan pembangunan bendungan Rotiklot di Desa Fetuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, NTT, Senin (28/12). “Bendungan ini harus dimanfaatkan oleh masyarakat untuk air minum dan ketersediaan listrik,” ujar Presiden Jokowi dalam acara peletakan batu pertama.

Pembangunan bendungan ini diharapkan dapat membantu ketahanan pangan masyarakat di sekitar Bendungan. “Kedaulatan pangan dapat terjadi kalau kita memiliki lumbung pangan tapi kuncinya adalah air, oleh karena itu kita bangun bendungan,” ujar Presiden Jokowi.

Bendungan Rotiklot diharapkan dapat diselesaikan dalam waktu tiga tahun. Bendungan Rotiklot memiliki daya tampung sekitar 2,9 juta meter kubik air diharapkan dalat memenuhi kebutuhan 139 hektare irigasi masyarakat sekitar.

Selain untuk memenuhi ketahanan pangan rakyat, Bendungan Rotiklot juga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan listrik di NTT yang masih sangat kurang.

Untuk mengatasi sementara, Presiden mengatakan akan mengirimkan pembangkit listrik terapung dengan kapasitas 60 MW ke NTT. “Nanti juga akan ada kapal pembangkit listrik (terapung) yang didatangkan ke NTT untuk membantu penyediaan listrik di NTT,” tambah Presiden Jokowi. (id/sp/ant/jk)

Ket Foto : Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Pangdam Udayana Mayjen TNI Torry Djohar Banguntoro (kiri) melihat dokumen dari petugas saat meninjau kondisi Pos Perbatasan Indonesia-Timor Leste di Pos Mataain, Desa Silawan, Tasifeto Timur, Belu.