GMIT Center Jadi Monumen Sidang Sinode Sepanjang Masa

by -47 views

Ba’a, mediantt.com — Ketua Umum Panitai Sidang Sinode Gereja Masehi Injil di Timor (GMIT) ke-33, Drs. Ibrahim Agustinus Medah mengatakan, pembangunan GMIT Center di Baa, Rote Ndao, dijadikan sebagai monumen peringatan Sidang Sinode GMIT ke 33 yang akan terus dikenang sepanjang masa.

“Kita lihat setelah ada sisa anggaran dari pelaksanaan Sidang Sinode ini akan kita manfaatkan untuk pembangunan GMIT Center di Rote, dan panitia akan mancari tambahan anggaran untuk pembangunannya,” kata Ibrahim Medah di sela-sela persidangan SS GMIT di Kompleks Perkantoran Kabupaten Rote Ndao, Senin (21/9/2015).

Ia mengatakan, usai persidangan ini akan dibuat desainnya dengan tetap menggunakan ciri arsitektur tradisional Rote Ndao dan akan diajukan ke Majelis Sinode untuk disepakati. “Bangunan itu akan selesai pada pertengahan 2016 dengan daya tampung 2500 orang dan akan menjadi aula serba guna yang dimanfaatkan untuk warga GMIT, pemerintah dan masyarakat umum,” katanya.

Pembangunan GMIT Center itu, sebut Medah, akan membutuhkan anggaran Rp 7,5 miliar dengan asumsi tiap meter per segi dinominasikan Rp 3 juta/meter persegi.

Menurut anggota DPD RI asal NTT itu, GMIT Center itu akan dibangun diatas lahan seluas 500 m2 di jalur jalan menuju Ne’e. “Gedung itu akan menampung berbagai kegiatan masyarakat dan warga GMIT yang membutuhkan ruangan yang luas dengan kapasitas daya tampung yang besar,” katanya.

Gedung GMIT Center itu, lanjut dia, setelah dibangun akan menjadi GMIT Center yang ketiga setelah Kota Kupang dan Naibonat, Kabupaten Kupang.

Sekretaris Badan Pekerja Harian Gereja Protestan Indonesia (GPI) Pdt. Lies Tamuntuan-Makisanti, M.Th mengataan, GMIT merupakan anak ketiga dari GPI yang dimandirikan dalam mengorganisir pelayanan di wilayah Timur Indonesia. “Ada GMIT, GMIM dan GPM dan sembilan adik dari Gorontalo (GPIB). Jadi kita 12 bersaudara. Kita ada dalam satu persaudaraan dalam GPI. Meski PGI sudah ada dan menyatu dalam satu lembaga, tetapi kita satu ibu. Dan ketika hymne dilombakan GMIT menjadi juara umum, ini baru ada sepanjang 410 tahun. Dan dalam hymne itu tercantum komitmen kita sebagai bersaudara. Saya dari GMIM tetapi berada di sini seperti berada di gereja sendiri,” ujar Pdt. Lies dalam sesi pesan-pesan mitra GMIT dalam siding, Senin (21/9/2015) di Atrium Tii Langga.

Menurutnya, persaudaraan itu akan tetap dipupuk sampai gereja sudah tidak ada lagi di dunia ini. “Dalam sidang sinode GPI di Palu, salah satu Sinode GPI adalah adalah Bapak Pdt. Bobby Litelnoni yang adalah Ketua Sinode GMIT. Mari kita sama-sama mendayung GPI ini dan salah satu komitmen kita adalah, ketika ada kekurangan pelayanan, dan kalau ada surplus pelayanan, mereka juga meminta para Pendeta GMIT untuk melayani di Toli-Toli dan daerah lain,” katanya.

Dia menyebutkan, salah satu program adalah pertukaran pelayanan, sehingga ketika masing-masing mengalami kesulitan, baik di Banggai, Tolitoli, Buol dan lain-lain maka komitmen ini yang dibangun ke depan.

Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) Pdt. Albert Patty menyerukan jalinan kerjasama antara gereja. “Kita tidak hanya saling mendoakan saja, tapi di tengah krisis dunia, ekonomi, politik, sosial, dan budaya saatnya gereja membangun kerjasama yang konkrit untuk kebaikan umat kita dan kebaikan bangsa serta dunia ini,” katanya.

Kata dia, partnership ini sangat penting dijalin. “Saya senang karena tema kita Yesus Kristus adalah Tuhan, ini menunjukkan GMIT back to basic. Tapi pertanyaannya, kenapa tema ini diambil, karena biasanya tema ini diangkat ketika gereja-gereja mengalami penindasan, dan persoalan yang berat.

Ia menjelaskan, ada 1200 kasus kekerasan di Indonesia dan paling tinggi di Jawa Barat. “Gereja diserang dan diserbu. Kalau di Jawa Barat menggunakan tema Yesus Kristus adalah Tuhan, itu wajar. Kalau gereja-gereja di Timur Tengah menggunakan tema ini wajar karena mereka tertindas,” katanya.

Pdt. Albert menambahkan, tantangan dan masalah apapun, sudah saatnya gereja-gereja di Indonesia membangun partnership yang konkrit. “Mengatasi radikalisme agama, persoalan lingkungan hidup yang parah. Kia menjalin partnership dengan sesama seagama, maupun partnership dengan orang-orang di luar kita. NTT ini tidak bisa dibangun oleh GMIT saja, tetapi semua komponen,” tegasnya. (laurens leba tukan)

Foto : Ibrahim A. Medah pose bersama Menkopolkam, Luhut Panjaitan, di arena Sidang Sinode GMIT ke-33 di Baa, Rote Ndao.

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments