Kasus Pertemuan Novanto cs dengan Trump Hanya Berkutat di Ranah Politik

by -95 views

JAKARTA — Sayangnya, kasus pertemuan antara Setya Novanto, Fadli Zon dan Donald Trump, sekarang lebih terasa aroma politiknya dibandingkan hukum. PDI-P cs tampak sangat bersemangat untuk membawa kasus ini ke dalam Makamah Kehormatan Dewan.

Kabar-kabar bahwa pengusaha Hari Tanoe merupakan orang dibalik layar pertemuan antara Ketua DPR, Setya Novanto dan Wakil Ketua DPR, Fadli Zon dengan calon Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik, Donald Trumph, mulai terdengar.

Hari Tanoe memang dikenal mempunyai hubungan dekat dengan Donald Trump. Mereka berdua sekarang sedang berkongsi untuk membangun suatu resort bintang enam, di Lido Jawa Barat. Rencana resort tersebut memiliki fasiltas lapangan golf 18 holes. Selain itu resort juga teritegrasi dengan fasilitas theme park, rekreasi, fasilitas kesehatan, hotel dan residensial. Makanya luasnya tidak tanggung-tanggung, 3.000 Ha.

Hari Tanoe memang bukan hanya seorang pengusaha, tapi juga politisi. Sayangnya, kesuksesannya di bidang bisnis berbanding terbalik dengan karier politiknya. Setelah ditendang dari partai Nasdem oleh Ketua Umumnya, Surya Paloh, dia mencoba keberuntungan untuk di Partai Hanura.

Partai Hanura menggadang-gadang Ketua Umumnya, Wiranto dan Hari Tanoe dipentaskan sebagai calon Presiden dan Wakil Presiden. Tapi nyatanya, perolehan suara Partai Hanura dalam pemilihan Legislatif tahun 2014, hanya 5,2 persen alias jauh dari persyaratan untuk memajukan untuk pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden.

Tidak hanya gagal mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden, Ketika partai Hanura mendukung Jokowi sebagai Presiden, Hari Tanoe justeru mendukung Prabowo menjadi Presiden. Akibatnya, Hari Tanoe harus menerima kenyataan untuk kembali ditendang dari partai politik.

Sebagai seorang pengusaha besar tentunya Hari Tanoe tidak pernah mengenal kata menyerah. Strategi berpolitiknya dirubah, kalau dulu dia mengandalkan partai-partai bentukan orang, sekarang dia membentuk partai sendiri baru bernama Partai Persatuan Indonesia (Perindo). Karena partai Perindo adalah partai baru tentunya belum mempunyai pengaruh dalam parlemen.

Tapi, sebagai seorang pengusaha besar merangkap politisi, Hari Tanoe mempunyai kekuatan lain selain politik, yaitu uang dan jaringan baik dalam maupun luar negeri. Tentunya, dua kekuatan tersebut akan dipakai untuk kepentingan bisnisnya. Maka, untuk memperlancar bisnisnya, diaturlah pertemuan antara Setya Novanto, Fadli Zon dengan Donald Trump.

Sebenarnya, kisah kedekatan pengusaha Indonesia dengan politisi AS, pernah juga terjadi di tahun 90 an. Yaitu antara pemimpin Lippo Group James T. Riyadi dengan Presiden AS dari partai Demokrat, Bill Clinton. James pada tahun 1992-1996 menyumbang uang sebesar US$ 1 juta untuk kepentingan pemilu partai Demokrat.

Karena sumbangan tersebut bersifat illegal, akhirnya, tahun 2001 putra dari taipan besar, Moctar Riyadi tersebut dihukum untuk melakukan tugas pelayanan sosial selama 400 jam. Tidak hanya itu, James juga didenda secara pribadi sebesar US$ 10 ribu, sedangkan perusahaannya, Lippo Bank California, dikenakan denda sebesar US$ 8,6 juta. Tidak puas hanya dengan itu pemerintah AS juga melarang James untuk memasuki wilayah AS selama dua tahun dan dilarang memberikan kontribusi apa pun dalam pemilihan Presiden AS di masa mendatang. Hukum AS memang keras terhadap pengusaha yang memberikan sumbangan ilegal kepada politisi atau partai politik.

Kembali ke Hari Tanoe. Pemeo “Tak ada makan siang gratis” jelas merupakan harga mati bagi seorang pengusaha besar seperti dirinya. Tentunya, publik wajib mencurigai, apa dasar sehingga seorang Setya Novanto dan Fadli Zon mau bertemu dengan Donald Trump. Seperti kita ketahui, kolusi antara penguasa dan pengusaha acap kali merugikan kepentingan masyarakat.

Sayangnya, kasus pertemuan antara Setya Novanto, Fadli Zon dan Donald Trump, sekarang lebih terasa aroma politiknya dibandingkan hukum. PDI-P cs tampak sangat bersemangat untuk membawa kasus ini ke dalam Makamah Kehormatan Dewan. Tentunya, tujuan dari PDI-P cs adalah menggusur mereka berdua dari kursi kepemimpinan di DPR dan digantikan oleh orang berasal dari Fraksi PDI-P. Selama kasus ini dibawa dalam ranah politik, publik tidak usah berharap banyak akan terungkapnya latar belakang pertemuan antara Setya Novanto, Fadli Zon dan Donald Trump. Seharusnya,kasus ini ditangani oleh penegak hukum, untuk mengetahui apakah ada motif ekonomi dari kasus pertemuan tersebut. (indonesianreview.com/jdz)

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments