Tujuh Kecamatan di Alor Gunakan Biogas Ternak

by -31 views

Kalabahi, mediantt.com — Salah satu program unggulan Presiden dan Wakil Presiden RI, Joko Widodo dan Jusuf Kalla, yakni Indonesian go organic. Yang artinya, Indonesia menuju pada organik. Program andalan ini lalu dikembangkan di tanah air, termasuk di Propinsi NTT.

Di Kabupaten Alor, program tersebut dikemas dalam berbagai terobosan, salah satunya ialah membuat biogas dari kotoran ternak. Hal ini terbukti di 7 Kecamatan dari 17 Kecamatan di Nusa Kenari. Dan, disadari betapa manfaatnya kotoran ternak itu.

Di Alor, kotoran ternak sapi, babi atau kambing, atau pada umumnya limbah itu dikumpulkan, kemudian dimasukan ke dalam bak formendasi. Dari bak formendasi, kemudian dipisahkan antara gas dan bio. Gas dimanfaatkan untuk lampu, baik itu kompor maupun lampu gas, sementara listrik disebut pengganti bahan bakar.

Ketua kelompok teknologi biogas Flobamora, Ande Selan kepada wartawan di Kalabahi, Rabu (29/7/15) menjelaskan, kegiatan ini sudah dilakukan di 7 Kecamatan di Kabupaten Alor. Menurut dia, ada 13 titik yang dibangun dan 7 sudah menyala, 6 titik lainnya sedang dalam proses untuk menyala. “7 Kecamatan yang kami bangun yaitu, Kecamatan Teluk Mutiara, Alor Tengah Utara (Atu), Lembur, Kabola, Mataru, Alor Selatan (Alsel) dan Alor Timur (Altim). Semuanya kami bangun dengan swadaya murni dari masyarakat,” tandasnya.

Dia menjelaskan, biogas ini hanya dilakukan di daerah 3T,  karena disitu masyarakat betul-betul membutuhkan dan bisa dijangkau. Sebab, ketika kita melakukan misalnya energi dari matahari dan air, masyarakat hanya bisa menggunakan tetapi tidak bisa memperbaiki. Tetapi kalau biogas, masyarakat bisa membuat, memperbaiki dan memanfaatkannya. “Karena manfaat dari pada biogas ini tentu dari kotoran ternak, jadi masyarakat bukan saja manfaatkan ternak saja tetapi kotoran ternak juga dimanfaatkan,” katanya.

Ia menjelaskan, satu ekor ternak bisa mencapai lima macam manfaat. Misalnya, ternak sapi, bisa kita manfaatkan seperti jual sapi, daging sapi, gas dari kotoran sapi, susu sapi kemudian pupuk dari kotoran sapi. “Program ini juga merupakan program Pemerintah Pusat, yakni Indonesian go organic. Yang artinya, Indonesia menuju organik. Kami di Alor khususnya kelompok teknologi biogas, kami sudah menuju pada program itu. Kami sudah bentuk kelompok dan sudah dikukuhkan oleh Bupati Alor, Amon Djobo di Mebung,” tegasnya.

Dia mengaku, kegiatan ini dilaksanakan termotivasi dengan apa yang disampaikan Bupati Alor, Amon Djobo, yakni jangan membentuk kelompok terus menunggu dana. Karena itu, pihaknya membentuk kelompok, kemudian dengan swadaya murni melakukan biogas ternak. Mudah-mudah kedepan, kegiatan ini bisa dibantu oleh Pemkab Alor sedikit biaya, untuk pengembangan dan sebagainya.

“Biogas ini semakin banyak kotoran ternak, semakin banyak gasnya dan semakin menjangkau. Bak yang kami gunakan masih ukuran standar rumah tangga dan satu bak itu bisa melayani 9 kepala keluarga (KK), untuk penggunaan api. Tapi untuk penggunaan listrik, bisa lebih menjangkau. Kami memulai dengan jumlah ternak paling kurang empat ekor. Tetapi maksimalnya harus lebih dari 20 ekor ternak, untuk ukuran rumah tangga,” jelasnya. (joka)

Foto: Wakil Ketua II DPRD Alor, Drs. Yulius Mantaon (bertopi), sedang menyalakan api biogas, yang terbuat dari kotoran ternak, disaksikan Ketua kelompok teknologi biogas Flobamora, Ande Selan.

 

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments