FKUB Minta Warga Alor Tidak Terprovokasi Terkait Kasus Tolikara

by -27 views

Kalabahi, mediantt.com — Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Alor meminta seluruh warga Alor untuk tidak terprovokasi terkait persoalan yang sedang terjadi di Tolikara, Papua. Menurut FKUB, kerukunan umat beragama di Alor sudah menjadi ikon bagi daerah lain di NTT, bahkan di Indonesia umumnya.

Demikian sikap ara pimpinan agama yang tergabung dalam FKUB, saat menggelar dialog terkait tragedi Tolikara di Aula Markas Kodim 1622 Alor, Rabu (22/07/15).

Dialog tersebut difasilitasi Dandim 1622 Alor, Letkol Inf A Marzuki dan Kepala Kementerian Agama, Muhammad Marhaban. Turut hadir juga pihak terkait, seperti Kepolisian, Kesbangpolinmas Alor, MUI dan pimpinan Muhammadyah Kalabahi.

Kepala Kementerian Agama Kabupaten Alor, Muhammad Marhaban menyatakan, peristiwa Tolikara jika kita ikuti berita, sedikit membuat kita binggung. Namun ketika kami ikuti perkembangan berita terakhir, ternyata bukan mesjid yang terbakar tetapi mushola.

Ia menjelaskan, mushola merupakan bangunan/tempat ibadah yang kecil, tetapi namanya ada pihak yang provokasi bahwa mesjid yang dibakar. “Saya kasih contoh, beberapa tahun yang lalu di Solor-Flores Timur. ada sebuah kios yang memang kebetulan terbakar, kemudian api merembes ke mesjid. Tetapi karena orang provokasi, bahwa mesjid dibakar,” katanya.

Ia menyebutkan, dalam dialog ini minimal perlu dibuat satu kesepakatan, untuk membingkai umat di Alor. “Jangan sampai umat kita terprovokasi. Namun saya yakin bahwa kerukunan umat kita di Alor memang luar biasa. Kami dari kementerian agama sering melakukan kegiatan sosialisasi di sejumlah kecamatan, tentang bagaimana menjaga kerukunan antar umat beragama. Puji Tuhan, Alhamdulilah, kerukunan umat beragama di Alor kini menjadi ikon bagi daerah lain. Kita orang Alor sendiri, saya yakin tidak akan mungkin melakukan hal itu, hanya saja jangan sampai kita terprovokasi oleh pihak luar,” tandasnya.

Ketua FKUB Kabupaten Alor, Pdt Yakobus Pulamau menyatakan, persoalan Tolikara sebenarnya tidak mungkin terjadi. “Bagi kami itu kecolongan. Kita semua menyesal dengan peristiwa itu dan untuk di Alor, kami harap jangan ada. Ini persoalan orang ditempat jauh. Di Alor, muslim, kristen itu bersaudara dan baku kunyadu. Biasanya orang bersaudara, orang berkunyadu kalau baku marah itu tidak baik,” katanya.

Pimpinan MUI, Haji Anwar Ali menambahkan, dengan adanya kerja keras pihak FKUB maupun pimpinan umat untuk menjaga kerukunan, pihaknya yakin persoalan agama di Tolikara tidak akan mungkin terjadi di Alor. “Di Alor saya pikir tidak akan terjadi karena FKUB dan tokoh-tokoh agama selalu bekerja keras untuk menjaga kerukunan kita,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan Pastor Paroki Gembala yang Baik Alor-Pantar, Romo Krispinus Saku,Pr dan Ketua PHDI, I Made Warta. Menurut keduanya, akan melakukan pencerahan tentang kerukunan umat beragama dalam setiap ibadah. “Dengan peristiwa ini merupakan sebuah pelajaran untuk masing-masing kita menghimbau kepada umat, agar selalu menjaga kerukunan,” katanya.

Kepala Kesbangpolinmas Alor, Ilham Duru menyatakan, masalah di Tolikara itu adalah masalah yang berada di wilayah otoritas. Kita belum bisa membayangkan bahwa ini masalah agama. Secara kebetulan masalah emosional yang mengakibatkan sebuah mushola terbakar. “Saya sangat mengharapkan, masing-masing pimpinan agama di Kabupaten Alor mohon untuk memberikan pencerahan kepada umatnya, agar tidak terpengaruh dengan apa yang terjadi di Tolikara,” pintanya.

Sebelumnya, Dandim 1622 Alor, A Marzuki menyatakan, dialog ini terlaksana atas perintah Panglima TNI melalui Pangdam selaku atasan. Menurut dia, keterangan dari pihak keamanan di Tolikara, kebakaran kios yang apinya merembes hingga ke mushola. Karena itu, ini harus kita pedomani dengan serius, bukan kita dengan keterangan atau isue yang belum pasti. Kita juga perlu sadari, bahwa kerusuhan di Tolikara telah membuat kerugian materil hingga korban jiwa.

“Kami di sini sebagai aparat keamanan yang mempunyai tanggungjawab. Bagaimana wilayah Kabupaten Alor yang Pulaunya tidak terlalu besar tetapi memiliki 34 bahasa ini, cukup majemuk. Kita tidak boleh keterbelakangan hanya karena perbedaan. Karena itu, saya minta masing-masing pimpinan agama mari kita jaga toleransi antar umat beragama,” katanya. (joka)

Foto : Dandim 1622 Alor, Letkol Inf A Marzuki menggelar dialog bersama FKUB terkait tragedi Tolikara di Aula Makodim (22/07/15).

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments