Bayi 2 Bulan dan 15 Warga Nagekeo Meninggal Karena HIV AIDS

by -62 views

Mbay, mediantt.comTerhitung sejak tahun 2007 hingga 2015, sudah 16 warga Kabupaten Nagekeo yang meninggal dunia akibat mengidap virus Human Immuno Deficiency Virus (HIV) dan Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS). Tragisnya, seorang bayi berusia 2 bulan pun menjadi korban penyakit ganas tersebut.

“Yang masih hidup dan terus mendapat pendampingan berjumlah 18 orang,”  kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nagekeo, Martha Lamanepa di Mbay,  Rabu (8/7/15).

Menurut dia, penderita HIV/AIDS di Nagekeo berjumlah 34 orang. Rinciannya, di Kecamatan Aesesa 14 orang dan telah meninggal 6 orang. Kecamatan Aesesa Selatan 1 dan telah meninggal, Maunori 7 dan meninggal 5 orang, Boawae 6 dan meninggal 2, Mauponggo 5 meninggal 2, dan Nangaroro 1 meninggal.

“Ada satu bayi berumur 2 bulan juga positif HIV/IDS. Dia telah meninggal dunia. Sedangkan yang lain rata-rata berusia 25 sampai 50 tahun. Profesi 34 orang itu adalah 17 petani, 4 swasta, 5 sopir, 2 tukang ojek, 3 ibu rumah tangga, 1 pembantu rumah tangga, 1 mahasiswa dan 1 penganggur,” jelas Martha.

Menurut dia, upaya penanggulangan HIV/AIDS telah dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nagekeo sejak tahun 2008 dengan menugaskan petugas Surveilence Dinas Kesehatan untuk melakukan pelacakan kasus pasien suspect HIV/AIDS di Puskesmas-Puskesmas.

Setelah itu merujuk pasien yang telah terdiagnosa suspect HIV/AIDS ke Klinik VCT Ende dan Sehati RSUD TC Rilers Maumere.“Kita mendampingi penderita HIV/AIDS selama menjalani proses pengobatan. Kita juga menyiapkan uang transport bagi ODHA yang akan melaksanakan konseling, follow up dan pengambilan obat di klinik VCT Ende atau Maumere,” kata Martha.

Sejauh ini, lanjut dia, Nagekeo belum memiliki klinik VCT. Karena itu, penderita HIV/AIDS di rujuk ke Ende atau Maumere. Nagekeo hanya memiliki Mobile VCT yang berfungsi mendekatkan pelayanan VCT di 7 Puskesmas, guna menemukan secara dini orang yang terinfeksi HIV, dengan sasaran utama adalah para mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang baru pulang dari luar negeri.

“HIV/AIDS ini seperti fenomena gunung es. Yang muncul di permukaan hanya sedikit. Sejauh ini kita belum melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Salah satu kendala adalah keengganan masyarakat untuk melakukan tes HIV/AIDS. Karena itu kita butuh partisipasi masyarakat. Dan, jika ada info tentang orang terkena HIV/AIDS, kita langsung datangi rumah penderita untuk memastikannya. Jika positif, maka kita rujuk yang bersangkatan ke klinik. Setelah itu kita berikan obat secara gratis. Obat gratis ini dibantu oleh WHO,” kata Martha.  (AMO/cis/jdz)

Foto : Kadis Kesehatan Nagekeo, Martha Lamanepa.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments