Oleh : Valeri Guru (Pranata Humas Bapusda NTT)

TANGGAL 20 Mei 2015, bangsa dan rakyat Indonesia memperingati dan merayakan 107 tahun kebangkitan nasional. Lalu apa makna dan korelasinya bagi kita dalam merayakan hari bersejarah tersebut dalam peri kehidupan sehari-hari di ini daerah? Begitu penting dan mendesakah untuk diperingati atau dirayakan? Ataukah hari bersejarah itu hanyalah sebuah momentum romantisme sejarah yang tak begitu penting untuk diketahui oleh anak muda di zaman yang serba digital ini? Dan masih banyak pertanyaan sekaligus pernyataan yang bisa diajukan oleh masing-masing kita yang mengaku diri sebagai anak bangsa di republik dan di daerah NTT tercinta!

107 tahun kebangkitan nasional sesungguhnya merupakan sebuah momentum teramat penting dan strategis bagi kita untuk merefleksikan perjalanan panjang bangsa ini yang diawali dengan Kebangkitan Nasional Budi Oetomo tahun 1908, Sumpah Pemuda tahun 1928, Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, Bangkitnya Orde Baru di tahun 1966 serta orde reformasi tahun 1998 hingga saat ini. Momentum 107 tahun kebangkitan nasional juga harus dapat memberi inspirasi, motivasi dan spirit baru dalam menapaki perjalanan bangsa menuju masyarakat adil, makmur, maju dan sejahtera lahir dan bathin.

107 tahun kebangkitan nasional dapat pula dijadikan sebagai tonggak baru menuju Indonesia  dan NTT yang sejahtera; Indonesia dan NTT yang mampu berdialog dengan masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang, sekaligus menjawab tantangan globalisasi; Indonesia dan NTT yang makmur, maju, mandiri; Indonesia dan NTT yang memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing global; Indonesia dan NTT yang memiliki tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan tata kelola pemerintahan yang bersih (clean government) alias bebas dari intrik dan tipu daya muslihat yang hanya menguntungkan kelompok dan golongan tertentu.

Jika tempo ‘doeloe” musuh bersama kita adalah penjajahan atau kolonialisme, maka saat ini musuh bersama kita adalah kemiskinan, kebodohan, kemalasan, krisis kepercayaan kepada para pemimpin, krisis identitas, harga-harga sembilan bahan pokok (Sembako) yang makin melangit, sulitnya memperoleh minyak tanah, sulitnya mendapatkan pelayanan pendidikan dan kesehatan yang murah tapi berkualitas, keluhan masyarakat seputar lambannya pelayanan birokrasi; atau masih ada keluhan seputar cara-cara kerja birokrasi tertentu yang fiktif alias penuh dengan manipulasi dan lain sebagainya. Semuanya ini merupakan musuh bersama yang harus diberantas dengan energi ekstra, bila perlu dengan gerakan turun ke jalan alias demonstrasi.

Karena itu, momentum 107 tahun kebangkitan nasional harus bisa memacu dan memicu kita di Provinsi NTT khususnya untuk bangkit dari sejumlah permasalahan yang telah disebutkan di atas. Kesemua hal itu membutuhkan aksi bersama (collective action) dan usaha yang makin keras dari setiap anak bangsa yang ada di daerah ini untuk bersatu hati mengayunkan langkah dan merapatkan barisan untuk maju bersama demi Indonesia dan kejayaan NTT di masa yang akan datang; hanya dengan cara memperoleh dan mengeyam pendidikan sejak awal yang dimulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi termasuk Pendidikan Luar Sekolah (PLS) agar SDM NTT mampu berdialog dengan tantangan zaman di masa yang akan datang.

Mari kita bangkit bersama 107 tahun Kebangkitan Nasional. Mari kita isi pembangunan di daerah ini dengan memberikan kontribusi nyata yang ada dalam diri kita masing-masing sesuai talenta yang kita miliki. Pembangunan atau apapun namanya (program atau kegiatan dalam bahasa birokrasi) jangan lagi dijadikan tameng yang kuat untuk melahirkan penindasan gaya baru yang hanya menguntungkan segelintir orang, kelompok dan golongan tertentu saja dan mengabaikan hak-hak dasar rakyat yang ada di daerah ini. (*)

 

 

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of