DESA Mekendetung, Kecamatan Kangae, Sikka, sejatinya belum menikmati pembangunan seutuhnya, yang mensejahterakan hidup warganya. Hal paling sulit yang dialami hingga saat ini adalah air bersih. Desa yang hanya berjarak 25 kilometer dari ibukota kabupaten, Maumere, sudah puluhan tahun menggantungkan hidupnya dari air hujan. Betapa susahnya warga mendapatkan air bersih.

Di tengah derap kemajuan di Kabupaten Sikka yang digencarkan pemerintah, ternyata masih ada warganya yang masih bertahan hidup dengan air hujan. “Sudah

puluhan tahun kami memenuhi kebutuhan hidup dengan air hujan, bahkan juga air pisang dan air dari pohon ara,” tutur Kepala Desa Mekendetung, Maria Feligonda, yang ditemui di Kantor Desa Mekendetung, Selasa (28/4/2015).

Ia menjelaskan, bagi warga masyarakat yang kemampuan ekonominya cukup baik, dapat membeli air bersih melalui mobil tangki. Harga air bersih yang dijual di wilayah Mekendetung cukup variatif mulai dari Rp 120.000 hingga Rp 300.000 per tangki berkapasitas 5.000 liter.

Menurut Feligonda, topografi Mekendetung menuntut warga masyarakatnya untuk memenuhi tuntutan hidup dengan cara seperti itu. Persoalannya, sebut dia, karena di Mekendetung tidak ada sumber mata air yang bisa membantu kebutuhan masyarakat akan air bersih.

“Di sini tidak ada mata air, kecuali yang berbetasan dengan beberapa desa, misalnya Wairblata di Desa Blatatatin, Wairjimeng di Desa Wolonwalu, dan Wairgabe atau Wairpuat di Desa Tekaiku. Itu pun debit airnya kecil sekali. Jadi terpaksa kami hidup dengan air hujan, air pisang, dan air pohon ara,” katanya.

Kesan senada juga disampaikan Wakil Kepala SDK Wololuma Piet Sepe. Menurutnya, memenuhi kebutuhan air bersih dengan air hujan sudah menjadi hal biasa bagi warga Desa Mekendetung. “Di sekolah ini ada sebuah bak penampung yang cukup besar. Jika musim hujan bak itu dimanfaatkan untuk menampung air hujan. Sebaliknya kalau musim kemarau dimanfaatkan untuk menampung air bersih yang dibeli dari mobil tangki,” katanya.

Seperti disaksikan mediantt.com di Kantor Desa Mekendetung, seorang staf tengah mengambil air dari bak penampung yang cukup besar. Bak ini menampung air hujan, yang beberapa hari terakhir turun cukup deras di Desa Mekendetung dan sekitarnya. Air hujan itu digunakan untuk kebutuhan mandi, cuci, kakus, termasuk untuk urusan di dapur. (palupi tana maku)

Ket Foto: Seorang warga Desa Mekendetung sedang mengambil air dari bak penampung.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of