Perketat Pengawasan di Pintu Masuk Perbatasan dan Pesisir Pantai

by -31 views

Kupang, mediantt.com – Penangkapan terhadap anggota teroris di Labuan Bajo, Manggarai Barat, pekan lalu, menjadi jawaban atas rumor yang berkembang selama ini bahwa di NTT sudah ada jaringan teroris. Karena itu, Gubernur minta agar aparat keamanan memperketat pengawasan di pintu masuk perbatasan dan wilayah pesisir pantai.

“Penangkapan anggota teroris di Manggarai Barat membenarkan rumor selama ini bahwa di NTT sudah ada jaringan teroris,” kata Gubernur NTT, Drs Frans Lebu Raya, ketika memimpin rapat bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) NTT, di ruang rapat gubernur, Senin (20/4/2015). Rapat tersebut menyikapi penangkapan teroris asal Bima, NTB, di Manggarai Barat, pekan lalu.

Gubernur mengatakan, ada beberapa hal penting yang perlu dilakukan sebagai upaya preventif dan antisipatif terhadap jaringan teroris itu. Antara lain, pertama, harus ada sharing informasi antara unsur-unsur intelijen mengenai isue-isue teroris sampai ke tingkat bawah. Kedua, memperketat pengawasan di pintu masuk perbatasan terutama di wilayah Labuan Bajo dan wilayah-wilayah pesisir pantai. Ketiga, meningkatkan pemahaman masyarakat tentang wawasan kebangsaan dan nilai-nilai Pancasila. Keempat, secepatnya mengadakan pertemuan dengan para tokoh agama, tokoh pemuda lintas agama dan mahasiswa di tingkat provinsi. Kelima, mengadakan rapat kerja dengan para bupati dan unsure Forkompinda di Labuan Bajo. Keenam, mencegah dan menghindari issue SARA sebagai dampak dari penangkapan ini.

“Menghindari perekrutan masyarakat NTT untuk menjadi anggota teroris dengan berbagai motif. Juga, segera dikeluarkan instruksi Gubernur agar setiap kegiatan keagamaan didamping oleh otoritas terkait dari agama tersebut, diberitahukan kepada pimpinan daerah setempat dan pihak keamanan,” tegas Lebu Raya.

Kapolda NTT Brigjen Pol Endang Sunjaya yang diwakili Direskrim Umum menjelaskan kronologis penangkapan pelaku. “Sudah dua bulan Densus 88 mengamati dan memantau pelaku yang sudah berada di Manggarai Barat sejak Agustus 2014.” kata Direskrim Umum Polda NTT.

Menurutnya, pelaku yang bernama Syarifudin itu menikah dengan wanita dari Kecamatan Lembor, Manggarai Barat tiga tahun lalu di Nusa Tenggara Barat. Setelah beberapa kali lolos dari penyergapan aparat, pelaku akhirnya berhasil ditangkap dalam bus Dwi Putra jurusan Labuan Bajo pada 18 April 2015, pukul 16.30 Wita. “Karena itu, pentingnya kerja sama dengan pihak Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan untuk mengawasi transaksi-transaksi keuangan yang mencurigakan,” saran dia.

Kepala Badan Intelijen Daerah dalam tanggapannya menegaskan, daerah Manggarai Barat sebagai daerah pluralis dan terbuka membutuhkan pengawasan dan deteksi dini terhadap tumbuh kembangnya jaringan teroris. Karena itu, dibutuhkan sharing informasi inteligen sampai pada tingkat Babinsa, Polsek dan kepala desa.

Sementara itu, Danrem 164/Wirasakti Kupang, Brigjen Achmad Yuliarto mengatakan, dalam berbagai kesempatan selalu menganjurkan pentingnya pemberdayaan para ulama lokal yang lebih mengetahui karakter dalam upaya dakwah atau kegiataan keagaaman lainnya.

Kejati NTT dalam uraiannya menjelaskan, penindakan dan tuntutan terhadap pelaku akan disesuaikan dengan aturan hukum agar menimbulkan efek jera. Ia juga menyampaikan sebagai upaya pencegahan, beberapa hal yang perlu mendapat perhatian serius karena dapat menjadi potensi bagi teroris seperti konflik daerah perbatasan dan human trafficking.

Wakil dari Lantamal Kupang menganjurkan pentingnya aturan atau regulasi yang jelas dalam ceramah-ceramah keagamaan agar bisa menciptakan situasi kondusif. (jdz)

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments