DPRD NTT Pertanyakan Mubazirnya Proyek Air Minum di TTS

by -20 views

Kupang, mediantt.com — Anggota DPRD NTT dari Fraksi Partai Demokrat, Ampera Seke Selan, mempertanyakan mengapa proyek air minum di Desa Nekmese, Kecamatan Kie, Kabupaten TTS, yang bersumber dari APBD I NTT tahun 2013/2014 senilai Rp 8,72 miliar itu bisa mubazir. Akibatnya, hingga saat ini air minum dari proyek tersebut belum dimanfaatkan.

Kepada mediantt.com di ruang Fraksi Demokrat, Rabu (8/4/2015), anggota dewan dari Dapil TTS ini menjelaskan, dari laporan masyarakat yang disampaikan kepadanya, proyek perpipaan untuk air minum tersebut sampai saat ini belum dimanfaatkan. Padahal, proyek tersebut telah dikerjakan pada TA 2013/2014, dan pekerjaan di lapangan telah selesai dikerjakan sejak akhir tahun 2014. Dan, masyarakat setempat selaku subyek pembangunan air minum bersih itu, masih mengkonsumsi air di luar dari air bersih proyek perpipaan dari Pemprov NTT ini dengan debit air yang menurun akibat musim kemarau. Ini yang menyebabkan masyarakat kesulitan dalam memenuhi kebutuhan air bersih.

“Proyeknya sudah dua tahun lalu tetapi sudah satu tahun setelah pekerjaan selesai belum dimanfaatkan , sementara kebutuhan air bersih bagi masyarakat terus meningkat. Kalau tidak dimanfaatkan tentu jadi mubazir pekerjaan air minum tersebut,” tegasnya.

Ia juga mengatakan, hingga saat ini ia sendiri belum mengetahui alasan  mengapa proyek tersebut mubazir. “Saya berencana untuk langsung turun ke lokasi proyek guna memastikan hambatan sehingga belum digunakanya air minum bersih itu,” ujarnya.

Ia menduga, salah satu penyebabnya karena belum dilaksanakannya serah terima dari pemerintah selaku pengelola proyek kepada badan pengelola air minum di desa. Kemungkinan lain bisa juga disebabkan adanya permainan di tingkat kabupaten. “Tapi untuk memastikan semua dugaan tersebut, saya segera berkoordinasi dengan Dinas Pengairan Pemprov NTT dan PAM Kabupaten TTS guna memastikan duduk perkara sehingga belum dimanfaatkannya air minum dari proyek APBD I itu,” tegasnya.

Ia mengatakan, dari data yang dikumpulkan, anggaran untuk proyek air minum itu sebesar Rp 8,72 miliar, dalam bentuk program Sistem Pengendalian Air Minum Untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (SPAM-MBR) yang bersumber dari APBD NTT, dalam bentuk proyek perpipaan untuk air minum bersih.

Selain itu, sebut dia, ada tiga proyek SPAM MBR lainnya di TTS yang akan diawasinya ke depan, yakni di Desa Kualin, Kecamatan Kualin, sebesar Rp 6 miliar lebih, Desa Kesetnana, Kecamatan Molo Selatan, senilai Rp 900 juta, dan Desa Noebana, Kecamatan Noebana sebesar Rp 1 miliar lebih. “Semua proyek itu dikerjakan oleh PT Karang Teguh Abadi.  Saya juga segera memantau ke tiga lokasi proyek tersebut untuk memastikan agar tidak terjadi permasalahan yang sama,” katanya.

Kepala Desa Nekmese, Marsel A Selan, yang dikonfirmasi ke ponselnya mengatakan, dari  data yang dimiliki menunjukkan, serah terima proyek tersebut telah dilaksanakan, namun air minum belum dimanfaatkan masyarakat desa setempat, karena air minum tersebut masih terkunci, sementara petugas pemegang kunci yang ditunjuk pihak PAM Kabupaten TTS hingga kini tidak membuka air minum tersebut. Saat ini, kata dia, masyarakat setempat mengalami kekurangan air minum bersih, sementara air minum yang telah dibangun dibiarkan mubazir. Ia khawatir jika masalah tersebut berlarut-larut bisa saja pipa yang ada rusak atau dicuri orang. “Saya heran pemerintah sudah membantu kami, tapi ko masih ada orang yang tidak mau membuka air minum itu. Kami sangat kesal dengan kejadian ini, kami minta pemerintah segera perhatikan masalah ini,” katanya berharap. (jdz)

Foto : Ilustrasi

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments