Pertamina Jual Rugi, Bensin dan Solar Naik Rp 500/Liter

by -27 views

JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merilis harga baru premium dan solar yang berlaku mulai Jumat (27/3/15) pukul 00.00 tengah malam. Pada daftar baru itu, harga kedua jenis BBM ditetapkan naik Rp 500 per liter. Dengan demikian, harga baru premium untuk wilayah Jawa, Madura, dan Bali adalah Rp 7.300 per liter serta solar Rp 6.900 per liter.

Dirjen Migas Kementerian ESDM IGN Wiratmaja Puja menyatakan, kenaikan harga BBM merupakan akibat dinamika harga minyak dunia dan perekonomian nasional. Apalagi nilai tukar rupiah dalam sebulan terakhir masih melemah. ’’Harga jual eceran BBM secara umum perlu dinaikkan,’’ ujarnya melalui rilis semalam.

Menurut Puja, harga BBM perlu disesuaikan untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional. Termasuk, menjamin ketersediaan BBM nasional. Selain premium dan solar, masih ada komoditas minyak tanah. Namun, harga minyak tanah dinyatakan tetap Rp 2.500 per liter.

Keputusan pemerintah menaikkan Rp 500 itu sebenarnya jauh dari keinginan PT Pertamina (Persero). Sebelumnya, perusahaan pimpinan Dwi Soetjipto tersebut berharap ada penyesuaian harga premium menjadi Rp 8.200 per liter. Begitu juga solar yang perlu dinaikkan menjadi Rp 7.450, termasuk subsidi pemerintah Rp 1.000.

Saat dihubungi, VP Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro menjelaskan, harga baru tersebut memang tidak mencerminkan keinginan Pertamina. Namun, pihaknya tidak bisa menolak dan harus mengikuti keputusan pemerintah. ’’Itu dulu yang dikerjakan. Harga akan direvisi tiap bulan kan?’’ katanya semalam.

Dia mengakui, Pertamina punya acuan harga keekonomian sendiri. Kalau tidak sesuai, berarti akan ada selisih harga yang membuat Pertamina rugi. Namun, saat ditanya jumlah kerugian yang dialami, dia enggan menyebutkan. ’’Memang ada hitungan harga keekonomian itu,’’ imbuhnya.

Yang pasti, usul Pertamina agar premium dijual Rp 8.200 dan solar Rp 7.450 per liter sudah sesuai dengan perhitungan. Dasarnya, HIP (harga indeks pasar) premium naik 37 persen dan HIP solar naik 14 persen.

Dihubungi terpisah, Direktur Pemasaran Ahmad Bambang juga tidak mau buka mulut soal potensi kerugian Pertamina. Dia mengungkapkan, perhitungan Pertamina memang seperti itu. Namun, yang menentukan adalah pemerintah. ’’Pemerintah punya perhitungan dan pertimbangan sendiri,’’ terangnya.

Meski dua komoditas itu naik, Abe –sapaan Ahmad Bambang– memastikan harga pertamax masih sama. Yakni, Rp 8.600 di beberapa tempat, khususnya Pulau Jawa. ’’Sudah naik sebelumnya. Beda harga dengan premium tidak banyak. Diharapkan beralih ke pertamax,’’ tandasnya.

Sementara itu, Menteri ESDM Sudirman Said menghormati usul harga yang disampaikan Pertamina. Namun, pemerintah punya perhitungan sendiri untuk menentukan harga BBM. Salah satu indikatornya adalah aspek sosial masyarakat. ’’Pemerintah akan memperhatikan semua hal. Pertamina boleh punya hitungan, tapi pemerintah yang menentukan,’’ ujarnya.

Dia menambahkan, intervensi pemerintah membuktikan bahwa harga keekonomian BBM tidak dilepas ke mekanisme pasar. Pemerintah bertugas memantau dan me-review harga BBM sebulan dua kali. Lantas, harga baru diumumkan menjelang pergantian bulan.

Staf Ahli Khusus Kementerian ESDM Widhyawan Prawiraatmaja menambahkan, konflik Arab dengan Yaman tidak terlalu memengaruhi perubahan harga BBM. Meski diakui, gara-gara pertikaian dua negara itu, harga minyak mentah sempat naik.

Namun, produksi minyak yang berlebihan sampai ada stok 1,5 juta barel membuat harga bahan baku BBM tetap rendah. ’’Saya tidak melihat ada gangguan suplai. Harga tetap rendah,’’ ungkapnya.

Tetapi, bisa saja kondisi itu berubah kalau konflik terjadi berkepanjangan. Kondisi saat ini bisa dikatakan sudah mereda. Sebagaimana dilaporkan Bloomberg, harga minyak jenis Brent menurun di angka USD 57,79 per barel.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro berpendapat sama. Dia tidak melihat konflik dua negara itu begitu berpengaruh terhadap perubahan harga BBM. Sebab, itu adalah konflik geopolitik dan memengaruhi psikologis masyarakat. Berbeda dengan sektor fundamental yang memicu perubahan harga secara signifikan.

’’Dampak langsung masih jauh. Tapi, dua negara itu memang sangat berpengaruh terhadap harga minyak dunia,’’ jelasnya. Dia menuturkan, Arab Saudi masih menjadi pemain minyak nomor satu. Sementara itu, di Yaman terdapat jalur distribusi minyak tersebut.

Karena itu, Komaidi sulit memprediksi pengaruh konflik tersebut terhadap Indonesia. Apalagi saat ini ketegangan mulai mereda. Namun, dia memprediksi harga minyak dunia tidak akan jauh dari USD 60 per barel. ’’Mungkin akan naik, tapi bergantung faktor penyeimbang seperti minyak dari Amerika,’’ jelasnya.

Selain itu, beberapa negara sudah memasuki musim panas. Biasanya, permintaan energi berkurang dan stok minyak menumpuk. Sekadar informasi, harga minyak mentah jenis WTI diperdagangkan USD 49,88 per barel, sedangkan jenis Brent dalam seminggu naik dari sekitar USD 54 menjadi USD 57,79 per barel. (jp/jdz)

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments