Meskipun Badai, Paus Tetap ke Tacloban Demi Korban Topan

by -16 views

MANILA — Meskipun badai dan hujan, Paus Fransiskus pada Sabtu tetap berani ke Tacloban demi bertemu dengan korban Topan Haiyan dan korban gempa bumi berkekuatan 7,2 pada skala Richter di Provinsi Bohol.

“Saya berada di sini bersama kalian, sedikit terlambat, tapi saya berada di sini,” katanya kepada sekitar 300.000 orang yang berkumpul di kompleks bandara dan di jalan-jalan sekitarnya di bawah guyuran hujan lebat.

Paus Fransiskus tiba di Tacloban sekitar pukul 08:50 waktu setempat, sekitar 30 menit lebih awal dari jadwal yang ditetapkan, guna menghindari datangnya Topan Mekkhala.

Hujan, angin kencang, dan teriakan sukacita dari hadirin menyambut Paus ketika ia muncul dari pesawat kepausan memakai jas hujan berwarna kuning.

Namun, saat homili ia membuat kagum kepada umat yang hadir dengan kata-katanya, bahkan sebagian umat meneteskan air mata.

“Saya ingin memberitahu kalian sesuatu bahwa kalian dekat dengan hati saya,” kata Paus Fransiskus. “Ketika saya melihat bencana dari Roma, saya harus berada di sini, dan berhari-hari saya memutuskan untuk datang ke sini.”

“Begitu banyak dari kalian telah kehilangan segalanya. Saya tidak tahu apa yang saya harus katakan kepada kalian,” katanya kepada hadirin yang berlinang air mata. “Yang bisa saya lakukan adalah diam dan berjalan bersama kalian semua.”

Paus terpaksa mengadakan kunjungan singkat ke daerah itu karena hujan lebat dan angin kencang akibat badai tropis Mekkhala, kurang dari 150 kilometer dari Tacloban.

Uskup Agung John Du dari Palo menyatakan bahwa “penghargaan mendalam” atas kehadiran Bapa Suci.

“Kita berada di ‘ground zero’,” kata prelatus itu, dimana pada November 2013 Topan Haiyan dengan kecepatan angin lebih dari 300 kilometer per jam dan badai itu memicu gelombang tinggi lebih dari enam meter. Bencana itu mengakibatkan sekitar 7.500 orang tewas atau hilang.

“Penderitaan umat kami menantang imajinasi. Namun, di tengah-tengah rasa sakit dan penderitaan tersebut iman kami membantu kami melewati segalanya,” kata Uskup Agung Du.

Namun, angin dan hujan yang dibawa oleh Topan Mekkhala tidak bisa menyurutkan semangat mereka yang hadir pada Sabtu, beberapa di antaranya datang dari desa-desa yang sangat jauh.

“Hujan selama sepuluh jam, empat jam perjalanan, tetapi peristiwa ini adalah kenangan seumur hidup saya,” kata Aaron Almadro, yang kehilangan orangtuanya selama Topan Haiyan.

Almadro tidak bisa berhenti menangis ketika ia mengatakan kepada ucanews.com bahwa ia berterima kasih kepada Paus Fransiskus karena “mengembalikan iman saya”.

“Selama empat jam Bapa Suci telah menunjukkan kepada kami dengan kata-kata dan perbuatan,” kata Dr Efleda Bautista, ketua People Surge, aliansi korban topan.

Setelah Misa di Tacloban, Paus mengadakan perjalanan sejauh 13 kilometer dengan mobil kepausan ke Kota Palo di tengah lautan manusia menggunakan mantel kuning akibat hujan lebat untuk makan siang dengan 30 korban topan.

Dia juga memberkati Pusat Paus Fransiskus untuk anak yatim dan orang sakit dalam perjalanan ke Katedral Palo dimana ia bertemu sebentar dengan klerus dan religius sebelum kembali ke Tacloban.

Dia meninggalkan Tacloban dan menuju Manila sekitar pukul 01:00 waktu setempat, empat jam lebih cepat dari jadwal untuk menghindari topan yang telah mendekat.

Juru bicara Vatikan Pastor Federico Lombardi mengatakan kepada media di pesawat kepausan menuju Manila bahwa Paus sangat “gembira” bertemu dengan para korban topan.

Perlu Ada Batasnya

Paus Fransiskus, Kamis, mengecam pembunuhan atas nama Tuhan, tetapi ia juga memperingatkan bahwa agama tidak boleh dihina.

Paus membuat berbagai komentar kepada para wartawan dalam penerbangan dari Sri Lanka menuju Filipina untuk kunjungan lima hari di negara itu.

“Membunuh atas nama Tuhan adalah sebuah absurditas,” kata Paus Fransiskus ketika ditanya tentang serangan oleh kelompok bersenjata ke kantor majalah Charlie Hebdo di Prancis yang menewaskan 12 orang pekan lalu.

Namun, Paus berusia 78 tahun itu mengatakan bahwa “setiap agama memiliki martabat” dan “ada keterbatasan”.

“Jika seorang teman baik berbicara buruk tentang ibu saya, dia bisa dimarahi, dan itu normal. Anda tidak dapat memprovokasi, Anda tidak bisa menghina agama orang lain, Anda tidak boleh mengejek itu,” katanya.

Said dan Cherif Kouachi bersaudara menyerbu kantor Charlie Hebdo pada 7 Januari, yang menewaskan sejumlah orang. Serangan itu terkait  kartun Nabi Muhammad yang berulang dimuat di majalah itu.

Dua hari kemudian serangan terjadi lagi terhadap sebuah supermarket di Paris oleh seorang pria bersenjata yang mengaku memiliki jaringan dengan kedua bersaudara tersebut.

Semua serangan itu menewaskan  17 orang, yang memicu reaksi global terkait kebebasan berbicara.

Charlie Hebdo memicu kemarahan dari kelompok agama pekan ini ketika media itu menerbitkan lagi sebuah karikatur dengan menampilkan gambar Nabi Muhammad menangis di sampul majalah itu, yang memicu reaksi dari belahan dunia Muslim, dimana menggambarkan nabi dianggap sebagai penodaan.

Paus Fransiskus  mengatakan bahwa kebebasan berbicara harus menghormati iman. “Kebebasan berbicara adalah hak dan kewajiban yang harus ditampilkan tanpa menyinggung perasaan,” katanya.

Paus Fransiskus pada Kamis mulai perjalanan kedua di Asia setelah kunjungan yang berhasil ke Sri Lanka, dimana ia menyampaikan pesan tentang rekonsiliasi dan toleransi beragama.

Lonceng-lonceng gereja berdentang di Filipina ketika pesawatnya mendarat di Manila, dan ratusan anak-anak meneriakkan: “Welcome Pope Francis”.

Paus berdiri di atas kendaraan terbuka, melambaikan tangan seraya melemparkan senyum kepada orang banyak yang berdiri sepanjang jalan yang dilalui dia.

“Ketika saya melihat dia melambai tangan, itu seperti sebuah getaran kepada saya,” kata Ivy Japlos, ibu rumah tangga berusia 35 tahun Ivy Japlos. ( ucanews.com)

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments