Headline

Ternyata Desa Pesisir di Lembata Potensial untuk Pengembangan Industri Garam

LEWOLEBA – Kabupaten Lembata memiliki wilayah laut yang begitu luas dengan garis pantai kurang lebih 492,80 Km2. Dari gambaran umum tentang wilayah Kabupaten Lembata ini, kita bisa melihat bahwa secara umum desa-desa di daerah ini berada di kawasan pesisir pantai sehingga sangat cocok untuk melakukan usaha-usaha yang berkaitan dengan kelautan dan perikanan. Termasuk juga sangat potensial untuk pengembangan industri garam.

Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur, ST. MT mengatakan hal itu, dalam sambutan tertulis yang dibacakan Asisten Administrasi Pembangunan Sekda, Paulus Kedang, S. Pi, M. Ap, ketika membuka Seminar “Pemaparan Potensi Garam Lembata”, Selasa, 11 Desember 2018 di Hotel Anisa Lewoleba. Seminar itu bertopik, “Studi Prospek Pengembangan Industri Garam Lembata Menuju Lembata Swasembada dan Ekspor Garam”, menampilkan narasumber, Gerardus D. Tukan, S.Pd.Msi (Kimia FPMIPA Unwira), yang juga Ketua Tim Studi. Nah, mungkinkah Lembata Swasembada Garam, bahkan Ekspor Garam? Ikuti Laporan Karolus Kia Burin, hasil seminar dimaksud.

“Lembata saya katakana sangat cocok untuk pengembangan industri garam, karena selain luas wilayah pesisirnya yang begitu besar. Tapi juga didukung dengan kondisi iklim tropis dimana musim kemaraunya berlangsung cukup lama. Yaitu mulai dari bulan April sampai dengan November setiap tahun. Tentu ini adalah peluang bagi kita dan Pemerintah Daerah Tahun 2017-2022 merupakan industri garam sebagai salah satu prioritas dalam mewujudkan visi Pembangnnan Daerah, “Mewujudkan Lembata yang Produktif dan Berdaya Saing untuk Kesejahteraan Rakyat Berkelanjutan”, kata Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur, mantan anggota DPRD Bekasi periode 2009-2011.

Bupati Sunur menjelaskan, hari ini kita melalukan seminar hasil penelitian yang dilakukan oleh Tim Peneliti dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, atas nama Pemda Lembata patut disampaikan terima kasih kepada Tim Peneliti yang sudah melakukan penelitian secara akademik berkaitan dengan prospek pengembangan industri garam di daerah ini. Mantan alumni Magister Teknik dari Fakultas Teknik Universitas Krisnadwipayana tahun 2018 dengan lulusan Cum Laude itu berharap, forum seminar ini bisa melakukan kajian secara komperhensif berkaitan dengan hasil-hasil yang sudah ditemukan oleh Tim Peneliti sehingga pada akhirnya forum ini pula dapat merumuskan rekomendasi kepada Pemerintah Daerah dalam melakukan pengembangan industri garam di Kabupaten Lembata.

Ketua Panitia Seminar, Yohanes Wua ,ST, dalam laporannya mengatakan, seminar hasil penelitian ini merupakan hasil kerjasama Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPM) Universitas Widya Mandira Kupang. ‘Peristiwa ini semakin bermakna strategis karena diharapkan pada puncaknya akan menghasilkan sebuah dokumen penelitian yang berkualitas untuk kesejahteraan hidup rakyat Lembata,” ungkap Yohanes, sembari mengatakan, penelitian ini dilakukan sesuai dengan amanat Permendagri Nomor 17 Tahun 2016 tentang Pedoman Penelitian dan Pengembangan di Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah.

Dilaporkan pula, seminar yang diikuti sekitar 100 peserta itu, bertujuan menyediakan data bagi Pemda Lembata untuk perencanaan teknis optimalisasi potensi kawasan pesisir pantai untuk pengembangan potensi industri garam. Selain itu, bertujuan untuk penyempurnaan sosialisasi hasil penelitian yang dilakukan atas kerjasama Bappelitbangda dengan LPPM Unwira Kupang. Tim Peneliti terdiri dari : Ketua LPPM : Dr. Watu Yohanes Vianey, Ketua Tim, Gerardus D. Tukan, Spd.Msi (Kimia FPMIPA UNWIRA), dan Anggota : Drs. Urbanus Ola Hurek, Msi (Ilmu Pemerintahan FISIP UNWIRA), Adrianus Kefmoen, SE.MM (Ekonomi Pembangunan), dan Agustinus H. Pattiraja, ST,MT dari Fakultas Teknik Sipil/Planologi. (Karolus Kia Burin/Dinas Kominfo Lembata/Advetorial)