SETELAH BENCANA PALU BERLALU

LIMA hari pasca gempa-tsunami mengharibiru Palu dan Donggala (Sulawesi Tengah), masyarakat setempat belum sepenuhnya keluar dari masalah. Kali ini, justru masalah melilit mereka yang selamat. Sebagian besar mengaku belum makan selama 2-3 hari. Balita dan para manula menangis pilu. Selain karena kurang makan, juga karena penat mengantre di bandara selama dua hari menunggu giliran untuk diangkut keluar Palu.

Bantuan pemerintah dan relawan belum menjangkau semua korban hidup, terutama yang baru turun gunung setelah tiga hari mengungsi menyelamatkan diri. Bahkan, mereka yang berteduh di kawasan terbuka maupun di lokasi pengungsian, tak juga bisa menikmati bantuan secara merata.

Masyarakat yang lapar ‘menjarah’ minimarket. Aparat yang mengantar makanan untuk masyarakat yang terperangkap di kampung terpencil, malah dihadang di tengah jalan dan diambil paksa. Upaya keras aparat untuk menertibkan, tak banyak membawa hasil di tengah kenyataan yang serba darurat.

Tanah yang terbelah, puing bangunan dan benda-benda tajam yang berserakan, pohon-pohon yang merintang jalan, menghambat pergerakan aparat dan para relawan untuk mendistribusi makanan dan obat-obatan. Akses masuk lokasi bencana yang terbatas, membuat pasokan bahan-bahan kebutuhan dasar yang dibutuhkan pengungsi, juga belum optimal.

Sementara konsentrasi sebagian besar petugas BPBN, Tagana, TNI/Polri, dan para relawan tertuju kepada upaya penyelamatan korban hidup atau mati yang sedang terperangkap di balik puing-puing bangunan maupun yang nyunsep di mana-mana setelah terseret tsunami.

Meski begitu, sensivitas masyarakat dari seluruh nusantara yang berwujud pemberian bahan makanan dan bahan kebutuhan pokok lainnya, merupakat aset sosial yang turut menambal celah kelemahan kita di soal manajemen bencana.

Panas terik yang membakar, ditambah bau mayat dan bangkai binatang yang menyengat, tangis manula dan balita, serta goncangan susulan yang masih ada, membuat hati keluarga dan korban remuk redam.

Dalam kekalutan, ada pelajaran berharga yang dipetik. Bahwa ternyata manusia dengan segala kemampuan ilmu dan ketangguhan fisiknya, tersungkur tak berdaya ketika lempeng bumi bergerak mencari keseimbangan demi kontinuitas tugas-tugasnya sebagai planet dalam sistem tata surya.

Mengapa bumi mesti bergoncang, menjadikan tanah dan air yang semula jadi sahabat manusia, berubah menjadi hantu yang menyeramkan? Apakah karena posisinya yang selalu disubordinasi dalam sistem tata surya kita?

Ketika Ptolomeus (200) mencetuskan teorinya geocentris–yang memposisikan bumi sebagai pusat tata surya, planet ini dilukiskan sebagai bentangan sabuk bima sakti yang mempesona bagi antariksawan yang memotretnya dari angkasa. Dia memancarkan cahaya berwarna warni sebagai manivestasi kreativitas manusia penghuni bumi.

Kadang bulan, sang satelit yang setia mendampingi bumi, ikut mengatur segala sesuatu di induk semangnya. Bulan bahkan ikut menimbulkan peristiwa gerhana dan pasang surut air laut, juga memunculkan kejadian-kejadian aneh yang tak terduga di bumi.

Namun bukan hanya karena itu, si nenek tua renta-demikian para astronot menggelari planet bumi, melahirkan petaka. Lebih dari itu, dia sedang tunduk kepada perintah Sang Kuasa, dengan alasannya sendiri. Demikian umat beriman memaknai dinamika ini.

Para astronom dengan ilmu yang dimilikinya, mencoba menalar dengan hukum-hukum eksakta. Isac Newton (1643-1727), Galileo (1564-1642), Wilhelm Conrad Röntgen (1845 –1923) dipandu para filsuf seperti Plato (421-327 SM), Socrates (469-399 SM), Aristiteles (384-322 SM), hingga Rene Descartes (1596-1650 M), berusaha menguak tentang sampai dimana ujung dari perjalanan planet bumi yang kita tempati kini.

Di senja kala pengabdian, bumi sering menunjukkan watak kerasnya di setiap pergantian zaman. Gempa dahsyat yang diikuti dengan terjangan tsunami di Palu dan Donggala, yang hingga semalam sudah merenggut ribuan nyawa, adalah bukti bahwa bumi telah lelah menjalankan tugasnya menggendong seluruh isinya mengitari matahari selama miliaran dasawarsa.

Dalam suasana yang lain, sebaliknya bumi memanjakan manusia dengan menghadirkan musim hujan untuk menyuburkan tanaman. Bahan makanan berlimpah baik di darat berupa tanaman maupun di laut berupa hasil tangkapan.

Dari balik perut bumi yang dalam, manusia menambang emas, batubara, nikel, mangan, aspal dan bahan tambang lainnya yang dimanfaatkan untuk menyejahterakan anak cucu.

Sementara ruang udara yang luas, yang menjadi bagian dari atmosfir bumi, dimanfaatkan untuk kelancaran transportasi udara, bergelantungnya berbagai satelit untuk menyuplai signal komunikasi dan pancar-siar informasi melalui media audio-visual.

Dimanjakan mata manusia dengan keindahan alam laut, lembah dan daerah pegunungan. Industri pariwisata tumbuh kembang di atas keindahan ini. Juga bermanfaat untuk sarana aktualisasi hobi dan bisnis. Bumi juga memancarkan sinar ke bulan yang diterimanya dari matahari, kemudian dipantul balik berupa cahaya yang indah dan terang untuk menyela pekatnya malam.

Adakah manusia membayangkan jasa bumi yang demikian itu? Di era yang serba modern, manusia terjebak dalam rutinitas. Hanya sedikit orang yang peduli bahwa ada kewajiban untuk tunduk kepada hukum-hukum Tuhan, sang Pengendali alam ini.

Sebagai mahkluk paling sempurna, manusia telah diberi ilmu untuk menyingkap tabir alam, namun untuk mengenali bencana, dia hanya bisa memprediksi dan mengurangi dampaknya, tidak untuk menghentikan atau memindahkan lokasinya.

Jepang yang dikenal sebagai negara rawan bencana gempa dan tsunami, telah mampu melakukan pencegahan untuk mengurangi dampaknya. Dia merancang bangunan anti bencana, mempersiapkan warganya dengan bekal pengetahuan litigasi dan literasi bencana. Bahkan termasuk tentang manajemen bencana setelah semua terjadi.

Dengan kondisi alam yang rawan bencana, kita mesti meniru Jepang. Jika belum benar-banar mampu pada teknologi fisiknya, kita harusnya unggul di bidang literasi, litigasi dan manajemen bencana. Masyarakat harus dibiasakan untuk mengakrabi alam dan sejauh mungkin menghindari risikonya. Jatuhnya korban ribuan orang pada bencana alam Palu dan Donggala, serta kekurangsempurnaan mengurus korban, merupakan bukti bahwa kita belum unggul di bidang literasi, litigasi dan manajemen bencana.

Ke depan, pengetahuan tentang literasi, litigasi dan manajemen bencana selain masuk dalam kurikulum sekolah dan kuliah, juga menjadi pengetahuan yang wajib diajari pada lembaga-lembaga non formal (kursus, pelatihan, dll). Bahkan menjadi bagian dari pendidikan keluarga. Di semua sentra pertemuan publik, panduan menghindari bencana dalam berbagai bentuk, ada di situ.

Lebih dari semua itu, marilah kita renungkan. Dengan bencana yang menimpa hari ini, kita jadikan momentum refleksi. Kita tidak harus hanya sibuk dengan urusan sosial-politik yang mengarah kepada konflik, akomodasi dan kompromi. Mari kita sisakan sedikit ruang dan waktu untuk merenungi dan berkontribusi dengan memberikan apa yang menjadi hak-hak bumi. Kepedulian seperti itu, hanya mungkin melalui ilmu dan teknologi (sains).

Dalam hal ini, sains hanya mampu menjembatani manusia mengenali gejala, memprediksi kekuatan dan waktu terjadi, serta mengurangi dampaknya sesuai sifat relativitas dan keterbatasannya. Hanya pendekatan teologis (spirit agama) yang mengantarkan kita menuju puncak kesadaran untuk memaknai jasa bumi sebagai pemberian teragung dari Tuhan, Sang Pencipta semesta. (mad gawi)