Senandung Doa dan Ratapan di Tengah Laut Larantuka

LARANTUKA – Peringatan Jumad Agung di Kota Reinha Rosari Larantuka, Flores Timur, yang berlangsung hari ini, 30 Maret 2018, berlangsung penuh syahdu. Umat Katolik di Larantuka dan dari berbagai penjuru nusantara dan dunia, mengikuti upacara Persisan Anta Tuan dengan khusyuk.

Patung bayi Yesus atau Tuhan Meninu dari Kapela Tuhan Meninu dibawa menuju armida (tempat persinggahan) Pohon Sirih di Pantai Kuche. Sebuah kapal yang berisikan tiga biarawati mengiringi perahu pembawa Tuhan Meninu dengan doa-doa yang ditujukan kepada Tuhan umat Katolik.

Di belakang perahu pembawa Tuhan Meninu, puluhan sampan yang ditumpangi dua atau tiga orang yang mengenakan kaus hitam, ikut mengiringi bak penjaga patung bayi Yesus yang bersemayam di perahu di depan mereka.

Beberapa kali biarawati melantunkan doa-doa kepada Bunda Maria, sebagai ibu Yesus. Umat Katolik di Larantuka memang menjadikan sosok Mater Dolorosa sebagai panutan kehidupan. Kisah ibu penuh kasih yang memberikan pengorbanan dan merelakan kepergian anaknya tercinta itu dielu-elukan para biarawati di sepanjang prosesi laut Tuan Meninu.

Ada beberapa kapal besar yang biasa digunakan sebagai angkutan laut di pulau-pulau seberang Larantuka turut dalam pawai laut itu. Para petugas keamanan yang diterjunkan oleh Kementerian Perhubungan terus mengingatkan untuk terus waspada dan tidak saling mendahului.

Ada larangan yang harus diingat oleh para peziarah yang menggunakan kapal ataupun sampan. Sebuah mitos di Larantuka meyakini bahwa mendahului kapal pembawa biarawati ataupun perahu pembawa patung bayi Yesus akan mendapat celaka.

Di dalam kapal-kapal itu sendiri, para peziarah terlihat khusyuk mendengarkan doa-doa yang dilantangkan lewat pengeras suara di kapal yang ditumpangi biarawati. Panasnya matahari Flores tak menjadi alasan peziarah tetap berdiri di bagian depan kapal untuk mendengarkan lekat-lekat doa yang berkumandang di Selat Larantuka.

Budayawan Larantuka yang telah menerbitkan beberapa tulisan mengenai Semana Santa, Bernadus Tukan, mengatakan prosesi yang dijalankan oleh umat Katolik Larantuka pada Jumad Agung, adalah bentuk dramatisasi proses sengsara Tuhan Yesus.

“Jumad Agung itu dramatisasi yang didominasi oleh ratapan. Di dalamnya ada juga penjelmaan dari budaya ratapan dalam masyarakat Lamaholot (sebutan untuk warga asli Larantuka),” katanya.

Setelah prosesi laut berlangsung selama dua jam, arak-arakan mengantar Tuan Meninu tiba di Armida Pohon Sirih di Pantai Kuche. Para Confreria, atau yang sering disebut juga sebagai Laskar Maria, menyambut kedatangan perahu tersebut.

Di bawah payung hitam, patung bayi Yesus diturunkan dari perahu. Diiringi ribuan peziarah, Confreria kemudian mengantar Tuhan Meninu menuju Gereja Katedral Larantuka.

Seperti disaksikan, kapal-kapal laut pembawa penumpang dari pulau-pulau seberang Larantuka mulai memasuki selat Larantuka sejak sekitar pukul 11.00 Wita. Kapal yang biasanya dijadikan angkutan laut ataupun kapal nelayan dan sampan itu ditumpangi umat Katolik dari berbagai penjuru.

Di bibir Taman Doa Tuhan Meninu, ribuan peziarah dan warga Larantuka juga bersiap untuk menghantar prosesi. Dari dalam kapel terdengar nyanyian-nyanyian doa. Sebuah ritual yang dilakukan umat Katolik Larantuka pada Jumad Agung.

Di bawah terik matahari, para peziarah bertahan lebih dari satu jam di tengah laut demi mengikuti upacara di awal Tri Hari Suci Paskah itu.

Pada bagian dek kapal-kapal, terlihat tak hanya diduduki oleh peziarah pria, namun juga remaja wanita. Mereka terlihat sudah akrab dengan angin laut Larantuka.

Prosesi antar Tuhan Meninu di laut ini telah menjadi upacara adat Tri Hari Suci Paskah yang hanya dilakukan di Larantuka. Arak-arakan patung bayi Yesus nantinya akan berhenti di Pantai Kuche. Setibanya di sana, patung akan langsung diarak ke gereja.

Selang satu jam kemudian, perarakan dari Kapela Tuan Ma dan Kapela Tuan Ana akan membawa patung Mater Dolorasa dan patung Yesus. Ketiganya kelak akan disemayamkan di Gereja Katedral. (jdz)